Breaking News:

BPDASHL Barito

BPDASHL Barito Lakukan Pengukuran dan Pemancangan Patok Batas Penanaman Mangrove

Pemancangan patok batas dipimpin Kasi Program BPDASHL, Bambang Suratno, di Desa Pagatan Besar, Kecamatan Takisung, Kabupaten Tanahlaut dan 5 desa lain

BANJARMASINPOST.CO.ID/NURHOLIS HUDA
Kasi Program BPDASHL Barito, Bambang Suratno (berkacamata) saat memimpin di lokasi pengukuran dan pemancangan patok batas guna penanmaan mangrove. 

Editor: Alpri Widianjono

BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - Setelah peluncuran program padat karya penanaman mangrove, tim pengukuran dan pemancangan patok batas dari Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Pengelolan Hutan Lindung ( BPDASHL) Barito turun ke Desa Pagatan Besar, Kecamatan Takisung, Kabupaten Tanahlaut serta lima desa lainnya, Kamis (17/9/2020).

Pemancangan patok batas dipimpin Kasi Program BPDASHL, Bambang Suratno, dan tim di antaranya Tri Wibowo, Aldha Alfian ND, dan Kepala Desa Pagatan Besar, Kecamatan Takisung, Hamberani, serta anggota Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Tanahlaut, Rusdi Mairi.

Tim menancapkan kayu yang di atasnya ditandai dengan pita kuning. Tanda itu tidak lain menjadi batas areal penanaman mangrove yang nantinya akan ditanami oleh kelompok masyarakat.

"Kami selain memasang batas patok juga melakukan pengukuran lapangan. Tujuannya agar pelaksana di lapangan (kelompok masyarakat) lebih jelas dan lebih mudah untuk melakukan penanaman sampai sejauh mana batasannya," kata Bambang Suratno.

Pemancangan patok batas guna penanaman mangrove.
Pemancangan patok batas guna penanaman mangrove. (BANJARMASINPOST.CO.ID/NURHOLIS HUDA)

Dijelaskan dia, program penanaman mangrove yang melibatkan kelompok masyarakat ini akan diselesaikan pada 31 November 2020.

"Karena itu, diperlukan dalam satu kelompok masyarakat jumlahnya lebih banyak. Jika terlambat, maka sulit untuk pencairannya. Program padat karya ini tidak lain untuk memberi rangsangan ekonomi kepada warga sekitar agar kembali sejahtera di kala pandemi Covid-19 yang berimbas ke perekonomian mereka," kata dia.

Bambang Suratno menguraikan program penanaman ini di Provinsi Kalimantan Selatan menyasar ke 34 desa secara keseluruhan.

Khusus di Kabupaten Tanahlaut saja ada 11 desa yang akan disasar, sekitar 360 hektare, mangrove yang akan ditanam.

Kasi Program BPDASHL Barito, Bambang Suratno (baju putih) memantau kegiatan pengukuran dan pemancangan patok batas area penanaman mangrove.
Kasi Program BPDASHL Barito, Bambang Suratno (baju putih) memantau kegiatan pengukuran dan pemancangan patok batas area penanaman mangrove. (BANJARMASINPOST.CO.ID/NURHOLIS HUDA)

Dirinci 11 desa yakni Desa Pantai harapan, Sungai Rasau, Kurau, Tabanio, Desa Pagatan Besar, Telaga Langsat, Kuala Tambangan, Tanjung Dewa, Muara Asam Asam, Asri Mulia, Muara Kintap.

Salah satu ketua kelompok tani hutan "Berkat Mangrove", Ahbani bersyukur adanya program padat karya mangrove ini.

"Karena bertani dan melaut saja sekarang sulit di kala pendemi. Sehingga dengan menanam mangrove serta menjaganya ini, kita dapat upah dan bisa mensejahterakan kami. Kami terimakasih kepada BPDASHL Barito dan Dishut yang membantu kami," ungkapnya.

Kepala BPDASHL Barito Zainal Arifin, menjelaskan, Kalsel memperoleh 1.000 hektare dalam program ini. Dan ini,  merupakan paling besar jika dibandingkan dari wilayah lain.

Penancapan tanda batas area penanaman mangrove.
Penancapan tanda batas area penanaman mangrove. (BANJARMASINPOST.CO.ID/NURHOLIS HUDA)

Program Padat Karya Penanaman Mangrove di Provinsi Kalimantan Selatan, dilakukan di lahan seluas 1.000 hektare yang tersebar di delapan KPH.

Delapan KPH yang terasuk dalam program ini, di antaranya KPH Kayutangi 52 hektare, KPH Tanah Laut 382 hektare, KPH Kusan 50 hektare, KPH PLS 150 hektare, KPH Cantung 122 hektare, KPH Sengayam 143 hektare dan sisanya berada di kawasan Suaka Margasatwa BKSDA Kalimantan Selatan seluas 101 hektare. (AOL/*)

Penulis: Nurholis Huda
Editor: Alpri Widianjono
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved