Wabah Corona di Kalsel

Sekolah Masih Ditutup, Tim Pakar ULM Kemukakan Skema Sekolah Outdoor

Pemerintah kabupaten/kota di Kalsel meskipun sudah ada beberapa daerahnya berzona hijau, belum memberikan izin pelaksanaan belajar-mengajar tatap muka

Penulis: Achmad Maudhody | Editor: Eka Dinayanti
ULM untuk BPost
Dosen Fakultas Tenik Universitas Lambung Mangkurat (ULM) dan anggota Tim Pakar Percepatan Penanganan COVID-19 ULM, Muthia Elma, ST., M.Sc., Ph.D 

Editor: Eka Dinayanti

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Pemerintah pusat memberikan sinyal bagi pemerintah daerah untuk memperbolehkan sekolah-sekolah khususnya yang berada di zona hijau penyebaran Covid-19 kembali menggelar kegiatan belajar-mengajar secara tatap muka.

Namun mayoritas Pemerintah kabupaten/kota di Kalsel meskipun sudah ada beberapa daerahnya berzona hijau, belum memberikan izin pelaksanaan belajar-mengajar tatap muka di sekolah.

Pasalnya risiko penularan Covid-19 di sekolah juga menjadi suatu kekhawatiran umum.

Menurut Anggota Tim Pakar Percepatan Penanganan Covid-19 Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Dr. Muthia Elma, ST., M.Sc, Ph.D di tengah situasi demikian, beberapa alternatif skema pembelajaran bisa dilakukan.

Biaya Tes Swab Covid-19 Keluarga Raffi Ahmad-Nagita Diungkap, Kakak Syahnaz dan Nisya Sebut Ini

Bukan Konten Bagi Uang! Baim Wong Bagikan Vlog Youtube Pertama dengan Paula, Ayah Kiano Posting Ini

Sikap Betrand Peto pada Sahabat dari NTT yang Datang ke Rumah Ruben Onsu dan Sarwendah Terungkap

Salah satunya sekolah dengan proses belajar-mengajar di luar ruangan (outdoor).

Secara umum kata Muthia pembelajaran outdoor dipercaya dapat meningkatkan mutu pendidikan.

Meskipun di Indonesia untuk sementara sekolah masih ditutup, namun di beberapa negara maju, sekolah outdoor sudah mulai dipilih dan diterapkan menjadi program edukasi dalam mengisi kegiatan semasa pandemi covid-19.

Penelitian pun menurut Muthia telah pula dilakukan terkait pengamatan mengenai anak-anak yang jauh lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami penyakit parah dibandingkan orang dewasa.

"Data di lapangan mengatakan, hanya sebagian kecil anak yang memerlukan rawat inap pada saat pandemi ini. Meskipun diberitakan bahwa sebagian kecil anak dapat mengalami sindrom inflamasi pasca infeksi yang parah, angka kematian terpantau sangat rendah," papar Muthia.

Paparan udara segar dengan sirkulasi tak terbatas dipandang sebagai cara untuk menurunkan risiko penularan covid-19 dan membuat semakin banyaknya orangtua yang melihat pentingnya memindahkan anak-anak mereka ke program sekolah outdoor.

Namun tetap dengan catatan selalu menjaga jarak fisik termasuk selama permainan dan aktivitas.

Diyakini efek negatif terhadap kesehatan kemungkinan besar akan jauh lebih buruk ketika anak-anak selalu di rumah tanpa aktivitas luar ruangan dan interaksi dengan teman-teman yang seusia selama wabah.

Ia juga mengemukakan pendapat yang disampaikan Dewan Sekolah Distrik Toronto (TDSB) di Kanada yang mencoba meningkatkan kesempatan bersekolah bagi siswanya dan mendorong para guru untuk melaksanakan kelas outdoor di tahun 2020 ini.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved