Breaking News:

Jendela

Penderitaan yang Bermakna

Meski sudah berpuluh tahun silam, kenangan dengan si Bapak itu tidak pudar dalam ingatanku.

istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Oleh: Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - Hari itu, saya bersiap-siap pulang, keluar dari rumah sakit dr. Soetomo, Surabaya, setelah dirawat inap selama kurang lebih 40 hari. Usia saya masih remaja, sekitar tujuh belas setengah tahun. Saya rapikan pakaian, dan masukkan ke dalam tas. Sambil menunggu kedatangan ayah, saya berbincang dengan beberapa teman senasib, yang sebagian besar lebih tua dari saya.

“Saya senang kamu akhirnya diizinkan pulang. Jadikanlah pengalaman sakitmu ini sebagai pelajaran. Kau masih muda. Jaga kesehatan. Jangan sampai kamu kembali masuk rumah sakit!” kata si Bapak, tetangga yang tidur di sebelah saya. Dia seorang sopir, usia limapuluhan. Waktu muda dia cukup nakal, terutama soal perempuan. Setelah sakit, dia makin sadar akan kebaikan isterinya. “Isteri saya itu rajin salat dan setia, sementara saya tidak. Saya ini nakal,” katanya. Setelah sakit, si Bapak insaf dan bertaubat. Kadang dia bercerita kepadaku sambil berlinang air mata, kadang juga tertawa.

Tak lama kemudian, ayahku datang. Setelah sedikit basa-basi, sebelum meninggalkan ruangan inap, saya ajak si Bapak dan teman-teman lain untuk befoto bersama. Saya kaget, ternyata si Bapak menolak tegas. “Tidak, saya tidak mau berfoto di sini!” “Kenapa?” tanyaku. “Ini tempat kita sakit, saat kita bersedih. Foto itu adalah kenangan. Kalau bikin kenangan, bikinlah yang membahagiakan,” jelasnya. Akhirnya, kami pun gagal berfoto. Saat saya sudah keluar ruangan bersama ayah, teman-teman di rumah sakit itu melambaikan tangan sambil berteriak, “Jangan balik lagi, ya!”

Meski sudah berpuluh tahun silam, kenangan dengan si Bapak itu tidak pudar dalam ingatanku. Padahal, hubunganku dengannya dan keluarganya berakhir persis setelah aku keluar dari rumah sakit itu. Jujur saja, namanya pun aku sudah lupa. Sekitar satu bulan kemudian, seorang kawan yang lebih muda, yang juga sakit di ruangan itu, mengirimiku surat, yang isinya antara lain mengabarkan bahwa si Bapak sudah wafat. Penyakitnya bertambah parah setelah aku keluar dari rumah sakit itu, hingga maut menjemputnya. Tak terasa airmataku meleleh saat membaca surat itu.

Hidup dan mati, senang dan susah, sehat dan sakit, memang watak kehidupan ini. Bahkan ada yang berpendapat bahwa hakikat hidup ini adalah duka, karena kita akan mengalami sakit, tua dan mati. Sangat sulit kiranya menemukan manusia yang tidak pernah sakit, dan tidak ada manusia yang usianya terus muda atau tidak mati-mati. Namun, menurut saya, pandangan ini berat sebelah karena selain sakit, kita pun pernah sehat, sebelum tua, kita juga muda, dan sebelum mati, kita hidup.

Di sisi lain, berbeda dengan menerima kesenangan, manusia seringkali gagal memaknai penderitaan. Manusia lebih sering berkeluh kesah, mengutuki nasib, menyalahkan orang lain, bahkan sampai menyalahkan Tuhan. Si Bapak di atas, tampaknya berhasil menemukan makna di balik penderitaan. Penyakit yang dideritanya, membuatnya sadar akan cinta tulus sang isteri. Maut yang menanti membuatnya ingat pada Tuhan yang memberinya hidup. Masa lalu tak bisa diubah. Yang indah dan baik dikenang bahagia. Yang buruk dan dosa, moga diampuni-Nya.

Penggagas logoterapi dalam psikologi, Viktor E. Frankl, menulis dalam bukunya The Will to Meaning bahwa “penderitaan hanya akan bermakna manakala ia dapat mengubah diri kita menjadi lebih baik.” Ibarat padi yang hanya akan tumbuh, menguning dan berisi, jika ia mau menyandang panas matahari membakar. Emas murni baru bisa dipisahkan dari logam lainnya setelah dipanaskan hingga meleleh. Begitulah kiranya diri kita. Penderitaan harus dapat menjadikan diri kita pribadi yang lebih baik, lebih bermanfaat dan lebih bertanggungjawab.

Kini, Covid-19 membuat kita semua menderita dengan kadar yang berbeda-beda. Karena itu, patut kiranya kita merenung, apakah penderitaan ini akan membuat kita menjadi lebih baik dan lebih bijak ataukah tidak? Kerusakan alam lingkungan yang diduga kuat sebagai sebab awal dari pandemi ini, akankah kita hentikan? Masihkah kita menyembah keserakahan? Kita sudah tahu bahwa virus akan mudah menular jika protokol kesehatan diabaikan, tetapi mengapa masih banyak yang tidak peduli?

Alhasil, kemampuan kita menarik pelajaran kearifan di balik penderitaan akan menentukan seberapa mampu kita menghadapi tantangan masa depan yang kini masih gamang. Apalagi, jika masa depan itu adalah bangunan baru yang kita dirikan dari reruntuhan yang lama! (*)

Editor: Eka Dinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved