Breaking News:

Opini Publik

Ketahanan Ekonomi Kalsel di Masa Pandemi

Secara umum definisi ketahanan ekonomi adalah daya tahan suatu perekonomian terkena krisis dan dengan cepat melakukan pemulihan.

istimewa
Muhammad Handry Imansyah (Guru Besar FEB ULM) 

Oleh: Muhammad Handry Imansyah (Guru Besar FEB ULM)

BANJARMASINPOST.CO.ID - PANDEMI Covid-19 meluluh lantakan perekonomian di seluruh dunia termasuk Indonesia dan Kalsel. Pemerintah Pusat sangat khawatir dengan resesi sehingga mengabaikan sumber resesi itu sendiri. Padahal tanpa bisa mengendalikan sumber resesi, justru resesi akan berkepanjangan dan membebani anggaran tak berujung.

Penulis mencoba menganalisis ketahanan ekonomi Kalsel di masa pandemi. Secara umum definisi ketahanan ekonomi adalah daya tahan suatu perekonomian terkena krisis dan dengan cepat melakukan pemulihan. Adapun kriteria untuk mengukur ketahanan ekonomi ini bermacam-macam.

Menurut Brigulio et al., (2014) menyatakan sebuah negara secara ekonomi rentan adalah yang mudah terkena goncangan eksternal karena secara umum memang sangat terbuka seperti konsentrasi ekspor dan ketergantungan impor strategis. Ketahanan ekonomi dapat didefinisikan sebagai kemampuan untuk pulih atau menyesuaikan dampak negatif dari goncangan ekonomi.

Definisi tersebut diturunkan ke dalam empat area dimana ketahanan ekonomi dapat dilihat dari area stabilitas makroekonomi, efisiensi pasar mikroekonomi, tata kelola pemerintahan dan pembangunan sosial (Brigulio et al., 2014).

Untuk indikator indeks makroekonomi mencakup indikator inflasi, pengangguran dan pertumbuhan ekonomi. Sedangkan Indeks Efisiensi Pasar yang terdiri dari indeks kebebasan berusaha yang dicerminkan ease of doing busines (kemudahan membuka usaha), kebebasan finansial yang dicerminkan efisiensi di pasar keuangan seperti margin tingkat bunga kredit dan tingkat bunga tabungan, dan kebebasan buruh yang dicerminkan mudahnya rekrutmen dan pelepasan (PHK) buruh (fleksibilitas) di pasar kerja.

Sedangkan Indeks Tata Kelola Pemerintahan mencerminkan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) yang dalam hal ini untuk level daerah penulis menggunakan Indeks Demokrasi Indonesia untuk Kalsel yang dikembangkan oleh BPS. Dan yang terakhir merupakan Indeks Pembangunan Manusia yang mencerminkan pembangunan sosial dengan indikator Pendidikan, Kesehatan dan indikator Pendapatan per kapita.

Sudah hampir 7 bulan pandemi Covid-19 melanda Indonesia dan belum ada tanda-tanda melandai, karena memang pengelolaan yang buruk di dalam membatasi penularan dan nampaknya lebih mendahulukan pengelolaan masalah ekonomi ketimbang masalah kesehatan. Jadi semua serba tanggung dan ketika dilakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) pertama dilakukan, saran para ahli epidimiologi juga tidak banyak didengar yaitu seperti 3T (testing, tracing, treatment). Makanya kurva belum melandai setelah penerapan relaksasi untuk menghindari resesi. Padahal telah dianggarkan dana untuk bantuan sosial bagi rakyat yang terdampak dengan PSBB dan kalangan masyarakat terutama pekerja harian dan pekerja yang kena PHK. Lambatnya penyaluran dana dan kurang baiknya data bagi penerima bansos menyebabkan rakyat tetap tidak bisa berdiam di rumah karena mereka tidak dapat penghasilan sama sekali jika tidak keluar rumah untuk bekerja.

Setelah keluar hasil pertumbuhan ekonomi triwulanan 2 2020 yang menunjukkan terjadi kontraksi dimana untuk Kalsel mengalami pertumbuhan minus 2,6% sementara pertumbuhan di tingkat nasional sebesar minus 5,32%. Pemerintah Pusat makin panik dengan merelaksasi penanganan dan pengelolaan covid 19 supaya triwulan 3 tidak tumbuh negatif dan terhindar dengan sebutan resesi.

Kata-kata resesi seolah menjadi momok yang menakutkan bagi kalangan pemerintah. Padahal resesi itu biasa saja, karena itu terjadi hampir di seluruh dunia, bahkan dalam magnitude yang lebih dalam. Padahal yang paling penting adalah menangani penyebab resesi, yaitu pandemi covid-19 terlebih dahulu. Bila penyebabnya dapat diatasi dengan baik, maka dampak ikutannya berupa resesi akan lebih mudah ditangani dan resesi tidak akan berlarut-larut, sehingga bansos tidak berlarut-larut membebani anggaran. Makin lama kondisi pandemi tak dikelola dengan tepat, akan makin berat pembiayaan anggarannya.

Halaman
12
Editor: Eka Dinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved