Breaking News:

Tajuk

Resesi Kesehatan dan Ekonomi

Menteri Keuangan Sri Mulyani membuat pengakuan mengejutkan yakni negeri ini mengalami resesi ekonomi pada kuartal III 2020

BANJARMASINPOST.CO.ID - Menteri Keuangan Sri Mulyani membuat pengakuan mengejutkan yakni negeri ini mengalami resesi ekonomi pada kuartal III 2020. Artinya dari Juli sampai dengan September. Bahkan dia menyatakan tahun ini angka pertumbuhan ekonomi minus 1,7 persen. Mengejutkan karena ini sebuah pengakuan dari pemerintah.

Namun sebenarnya kelesuan perekonomian tidaklah mengejutkan bagi para pekerja swasta, pemilik warung makan, pengusaha kecil hingga pengusaha besar. Hal ini karena mereka telah merasakannya. Banyak pekerja yang dirumahkan tanpa tahu nasib selanjutnya. Pemilik warung lebih banyak duduk termenung karena tak banyak pengunjung yang datang. Pengusaha kecil pun turut merasakan karena turunnya pesanan. Sementara itu pengusaha besar terpaksa mengurangi karyawannya, setidaknya sementara waktu, hingga pandemi Covid-19 berakhir.

Sejumlah kebijakan dikeluarkan pemerintah untuk meningkatkan daya beli dengan memberikan berbagai insentif kepada pegawai negeri. Sementara untuk pekerja swasta yang merupakan anggota Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) dalam proses. Sedangkan sejumlah pengusaha mengeluhkan minimnya kebijakan yang dapat mengurangi beban perusahaan.

Memang hal ini tidak dirasakan Indonesia saja. Banyak negara yang mengalami resesi bahkan terancam bangkrut akibat pandemi Covid-19. Namun banyak pula yang bisa bertahan karena di antaranya memiliki devisa yang besar.

Sementara Indonesia tak memilikinya karena terbiasa berutang. Menkeu Sri Mulyani mengungkapkan realisasi pertumbuhan utang dalam membiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 mencapai Rp 693 triliun per akhir Agustus 2020. Angka itu naik 143,3 persen dari periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp 285,1 triliun. Sri Mulyani menuturkan realisasi pembiayaan utang pada akhir Agustus 2020 setara dengan 56,8 persen dari target revisi pembiayaan utang pemerintah yang mencapai Rp1.220,5 triliun pada APBN 2020.

Beberapa waktu lalu Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI, Onny Widjanarko, mengatakan utang luar negeri Indonesia mendekati Rp 6.000 triliun. Ini sungguh angka yang fantastis.

Negeri ini memang kerap berutang dengan alasan masih bisa membayarnya. Namun sampai kapan kita harus terus membayarnya? Sepertinya utang ini harus kita warisnya ke generasi selanjutnya.

Padahal kita sejak kecil sering diminta menabung agar memiliki uang jika ada keperluan mendesak. Ternyata keperluan mendesak itu ada saat ini, saat pandemi Covid-19 menyerang. Akibatnya kita harus menghadapi resesi kesehatan dan resesi ekonomi. Semoga kita bisa melewatinya dan menjadikannya pelajaran. (*)

Editor: Eka Dinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved