Breaking News:

Jendela

Menghindari Sinisme

Di masa ini, ketika kita semua dihimpit oleh krisis Covid-19 yang luar biasa, kita perlu lelucon yang menghibur dan menghindari sinisme

istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Oleh: Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - Baru-baru ini, seorang sahabat ditimpa musibah berat. Isterinya mendadak meninggal dunia. Saya berusaha menghiburnya. “Kata Guru Sekumpul, jika seseorang disayangi manusia, maka Allah lebih menyayanginya lagi. Orang yang dicintai manusia seringkali dipanggil Allah lebih dulu alias mati muda,” kataku. “Sebaliknya, sebagai rektor, saya sering mendengar orang membenci saya. Saya berharap, berkat kebencian orang itu, usia saya lebih panjang,” kataku lagi. Kami pun tertawa.

Di masa ini, ketika kita semua dihimpit oleh krisis Covid-19 yang luar biasa, kita perlu lelucon yang menghibur dan menghindari sinisme. Menurut KBBI, sinisme adalah “pandangan atau pernyataan sikap yang mengejek atau memandang rendah” atau bisa pula berarti “pandangan atau gagasan yang tidak melihat suatu kebaikan apapun dan meragukan sifat baik yang ada pada manusia.” Kini sinisme menggema di mana-mana: di media massa, media sosial hingga percakapan langsung.

Sinisme cenderung mencari kambing hitam ketimbang berusaha mencari solusi. Sinisme lahir dari kebutaan terhadap kesalahan diri sendiri, dan pada saat yang sama, gagal melihat kebaikan orang lain. Sebenarnya manusia itu tidaklah buta akan kekurangan dirinya. “Sesungguhnya manusia itu sangat mengenali dirinya, meskipun ia mengemukakan berbagai alasan” kata Alqur’an (QS 75:14-15). Sinisme terjadi karena ia ingin menutupi kekurangan dirinya dengan cara menyalahkan orang lain.

Tentu saja, orang bisa buta akan kekurangan dan kesalahan dirinya akibat pujian yang berlebihan dan kesombongan. Seorang pemimpin yang sering dipuja-puji dan dijilat bawahan lama kelamaan akan lupa diri dan congkak. Anak yang selalu dimanja, tak pernah ditegur, akan cenderung menjadi egois. Kaum Sufi mengajarkan, jika ingin mengetahui kekurangan diri, dengarkanlah kritik orang yang membencimu. Mata yang cinta itu buta, tetapi mata yang benci sangat tajam melihat kekurangan.

Namun, siapakah pula di dunia ini yang tanpa kekurangan dan kesalahan? Tidak ada! Karena itu, agar terhindar dari sinisme, kita perlu saling mendengarkan dan mengingatkan. Semua manusia merugi, kata Alqur’an, kecuali yang beriman dan berbuat baik, serta saling mengingatkan tentang kebenaran dan kesabaran (QS 103). ‘Benar’ dan ‘sabar’ adalah dua kata kuncinya. Kita harus sabar mencari dan menanggung kebenaran, yaitu sesuatu yang sesuai dengan kenyataan, peraturan, moral dan agama.

Selain itu, tak bisa dipungkiri bahwa dalam masalah-masalah yang menyangkut kepentingan orang banyak, pemimpinlah yang paling bertanggungjawab. Ia harus sabar mencari dan memutuskan yang benar. Masalah semakin rumit karena kita hidup di dunia yang diserbu oleh ‘kebenaran’ berdasarkan selera dan kepentingan subjektif. Orang menganggap sesuatu itu benar semata-mata karena sesuai dengan kepentingan sempit pribadinya. Karena itu, kecermatan dan kewaspadaan amat diperlukan.

Selain pemimpin, kaum elit yakni lapisan tengah dan atas dalam masyarakat, adalah golongan yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan publik. Jika demokrasi kita masih sakit akibat politik uang, maka yang pertama disalahkan adalah kaum elitnya yang sanggup membeli demokrasi itu dengan harga ‘murah’. Jika narkoba merajalela, kriminalitas bertambah, korupsi meningkat, kemiskinan dan kebodohan tak berkurang, maka yang dituding pertama untuk bertanggungjawab adalah kaum elit.

Kebutaan pemimpin dan ketidakpedulian kaum elit memang sangat mudah memicu sinisme. Agar terhindar dari sinisme, mungkin kita bisa belajar dari kaum Sufi yang suka melawan dengan lelucon. Suatu hari Raja berbicara kepada seorang Sufi, “Kau sudah berkeliling negeri dan mendengar suara rakyat. Kau tentu tahu, hari apakah yang paling mereka tunggu dan impikan?” Sang Sufi menjawab, “Wahai bayangan Tuhan di muka bumi. Hari yang paling ditunggu dan diimpikan oleh rakyat adalah ketika paduka mendapatkan kebahagiaan dan kesenangan di dalam surga!”

Alhasil, sinis itu menyakitkan, sedangkan lucu itu menghibur. Namun, jika sang pemimpin dan kaum elit masih bebal dengan segala peringatan, mungkin Tuhan sendirilah yang akan memberikan teguran keras berupa bala bencana berkelanjutan hingga kerusuhan sosial. Na’ûdzubillâh! (*)

Editor: Eka Dinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved