Breaking News:

Jendela

Politik Melawan Penyakit Hati

Membaca tulisan-tulisan akademis tentang politik memang asyik sekaligus menjengkelkan

istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Oleh: Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - “Saya mau istirahat. Saya sudah lelah dalam beberapa minggu ini, membaca dan menulis,” kataku kepada seorang kawan, saat keluar dari perpustakaan Universitas Leiden. “Tetapi kamu tadi saya lihat meminjam buku filsafat dan tasawuf. Berarti kamu tidak istirahat, tetap membaca buku,” katanya. “Bagi saya, membaca buku filsafat dan tasawuf itu adalah penghiburan,” jawabku.

Kala itu, saya tengah menggarap disertasi yang temanya terhubung erat dengan politik. Membaca tulisan-tulisan akademis tentang politik memang asyik sekaligus menjengkelkan. Karya akademis tentang politik biasanya menampilkan pertarungan kekuasaan secara rinci dan rumit, sehingga pikiran dan perasaan kita terbawa-bawa laksana menonton film laga atau membaca novel detektif. Seperti dalam film laga atau novel detektif, kita senang jika tokoh baik menang. Sayangnya, dalam dunia politik, seringkali orang baik tersingkir. Inilah yang bikin saya jengkel dan cape!

Pada 2011, saya diundang untuk berbicara di depan sejumlah peneliti di Sophia University, Tokyo, tentang hubungan antar-agama di Indonesia, yang merembet ke soal-soal politik. Dalam bincang-bincang santai usai diskusi, seorang profesor berkata kepada saya, “Saya dengar tadi Anda optimistis dengan masa depan Indonesia. Biasanya, kalau yang berbicara ahli ilmu politik, kesimpulannya cenderung murung dan pesimistis.” “Saya memang bukan ahli ilmu politik. Keahlian saya tidak jelas. Mungkin saya optimistis karena saya (dulu) aktivis,” kataku sekenanya.

Entah ilham dari mana, tiba-tiba saja kata ‘aktivis’ itu muncul di kepala saya. Di Indonesia, biasanya istilah ‘aktivis’ itu dipakai untuk orang yang aktif di organisasi kemahasiswaan atau kemasyarakatan, dan lebih khusus lagi, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Istilah itu tampaknya digunakan untuk orang yang terlibat langsung dalam upaya-upaya pemberdayaan masyarakat. Karena terhubung dengan isu-isu kemasyarakatan, aktivis sering kali bersentuhan dengan politik/kekuasaan. Seorang aktivis sudah seharusnya optimistis. Jika tidak, maka dia akan kalah sebelum berjuang.

Sulit kiranya menyangkal bahwa sepanjang sejarah umat manusia, perebutan kekuasaan seringkali diwarnai kekejian bahkan pertumpahan darah. Manusia bisa menjadi sangat rakus bahkan buas ketika dadanya dipenuhi ambisi kekuasaan. Mungkin inilah makna kalimat malaikat kepada Allah tentang manusia, “Apakah Engkau menciptakan orang yang akan berbuat kerusakan dan pertumpahan darah?” Drama kuasa itu pun dimulai ketika Iblis enggan sujud/hormat kepada Adam. Kekuatan jahat (iblis) tak mau tunduk. Kekuatan baik (malaikat) khawatir. Adam berada di tengah.

Karena tertipu rayuan Iblis, Adam dan Hawa dikeluarkan dari surga. Hidup di bumi, sepasang suami-isteri itu beranak pinak. Dua anak mereka, Habil dan Qabil berseteru. Menurut Alkitab, Qabil bekerja sebagai petani, sedangkan Habil sebagai penggembala domba. Mereka mempersembahkan kurban kepada Tuhan. Qabil menyiapkan gandum yang kurus dan layu untuk dikurbankan, sedangkan Habil menyiapkan seekor domba yang gemuk dan sehat. Dapat diduga, api menyambar domba (sebagai bukti kurban ini diterima Tuhan), bukan gandum. Qabil marah, lalu membunuh Habil.

Apa sebenarnya penyebab pertumpahan darah itu? Ada yang bilang, mereka berebut perempuan cantik. Siapa yang kurbannya diterima, dialah yang memilikinya. Ali Shari’ati dalam On the Sociology of Islam (1979: 97-110) mengajukan tafsir lain yang bernada Marxis. Katanya, Habil itu pemburu, sedangkan Qabil itu petani. Qabil mewakili masyarakat petani yang memiliki lahan, sementara Habil mewakili masyarakat pemburu yang tidak mengklaim kepemilikan apapun. Qabil adalah moyang dari para pemilik alat produksi yang jadi penindas, sedangkan Habil adalah moyang kaum tertindas.

Saya kira kisah Qabil dan Habil menunjukkan bahwa pertumpahan darah berasal dari penyakit hati. Qabil iri kepada Habil yang kurbannya diterima Allah. Iri itu berkembang menjadi benci, dengki hingga dendam. Qabil juga serakah. Ia ingin menguasai harta yang dimiliki Habil. Akhirnya, Qabil membunuh Habil. Pembunuhan adalah cara paling kasar merebut kuasa. Dalam alam demokrasi, pembunuhan dalam arti mengakhiri hidup lawan mungkin tidak dilakukan. Yang dilakukan adalah pembunuhan karakter seperti fitnah yang justru lebih kejam.

Alhasil, politik bukan sekadar pertarungan merebut dan mempertahankan kekuasaan, tetapi juga pertarungan mengalahkan penyakit hati seperti iri, dengki, dendam dan serakah. Pertarungan politik di masyarakat sebenarnya mencerminkan pertarungan batin dalam kesunyian diri tiap-tiap aktor. Ilmu politik erat hubungannya dengan filsafat dan tasawuf, bukan? (*)

Editor: Eka Dinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved