Breaking News:

Fikrah

Membentuk Rumah Tangga yang Islami

Apa yang kita lakukan saat ini adalah menapak-tilasi peristiwa besar dan bersejarah yang pernah terjadi di dalam surganya Allah SWT

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
KH Husin Nafarin LC 

Oleh: KH Husin Naparin

BANJARMASINPOST.CO.ID - Nasihat ini tidak saja ditujukan kepada pengantin baru, tetapi juga kepada sebagai pengantin ‘bau’. Ada pengantin baru, semerbak dengan minyak wangi, London Night mungkin. Tetapi kalau kita yang tua ini minyaknya yang digosokkan minyak angin, minyak kayu putih dan minyak urut GPO. Ya.. pengantin jugalah seadanya.

Apa yang kita lakukan saat ini adalah menapak-tilasi peristiwa besar dan bersejarah yang pernah terjadi di dalam surganya Allah SWT dan sangat perlu untuk kita ketahui, agar tahu duduk-persoalan kehidupan berumah tangga dan tidak ada tuduhan miring bahwa Nabi Adam dan Hawa kumpul kebo. Tidak, Adam a.s diciptakan dari tanah. setelah tercipta disuruh tinggal di surga. Tinggallah Adam a.s. di surga sendirian. Hidup sendiri terasa tidak nyaman, ada yang terasa kurang. Tapi apa itu ? Adam juga tidak tahu. Adam menikmati dan menyaksikan kehidupan di surga serba lengkap.

Adam tertidur di bawah sebatang kayu yang rindang. Dalam tidurnya, tulang rusuk dadanya sebelah kiri dicabut oleh malaikat atas perintah Tuhan dan dijadikan makhluk baru yang hidup, Itulah Hawa, artinya makhluk hidup yang dicipta dari makhluk hidup, bukan dengan jalan diperanakkan. Hawa duduk di samping Adam. Ketika Adam terbangun, ia terkejut ada seseorang disampingnya, ia bertanya; man anti, siapa kamu. Hawwa menjawab: Ana imra’ah, saya sorang perempuan.

Adam bertanya lagi, limazda khuliqti, mengapa Anda diciptakan. Hawa menjawab “Litaskuma ilayya. Supaya kamu hidup tenteram denganku. ”Naluri kemanusiaan” Adam-pun muncul, ia ingin menjamah Hawa. Ributlah para malaikat di dalam surga. “Adam, kamu baru boleh menyentuhnya setelah kawin dan membayar mahar. Adam bertanya, apa maharnya? Malaikat menjawab; Anda bersalawat kepada Nabi dan Rasul terakhir... Adam setuju. Jibril pun melamar Hawa pun dinikahkan dengan Adam dengan mahar tersebut. Disaksikann oleh Israfil dan Mikail dan para para malaikat lainnya di surga. Nah, inilah yang berlaku sepanjang sejarah kehidupan manusia beriman.

Apakah perkawinan hanya sampai disini? Al-Qur’an menyebutnya dengan istilah : Mitsaaqan qaliizhaa, yang diwujudkan dengan Ijab-kabul, disebut pernikahan. Dengan demikian, pergaulan menjadi halal, perhimpunan menjadi ibadat; yang tadinya jika nanda berdua lakukan adalah maksiat dan haram agar perjalan nanda berdua tidak kesasar, pantaulah selalu apa tujuan bahtera perkawinan menurut agama; yaitu: Pertama, untuk mengikuti sunnah Rasul SAW.

Kemudian dua, untuk mendapatkan dan memelihara keturunan yang baik (zurriyyah thayyibah) sehingga kehidupan menjadi langgeng dan lestari. Ketiga, untuk menghubungkan tali kasih sayang yang disebut dengan silaturahmi.

Selanjutnya keempat; Untuk membentuk keluarga sakinah, keluarga bahagia dengan kedamaian Mawaddah dan Rahmah. Mawaddah, kasih sayang yang didominasi faktor lahiriyah, ketampanan, kecantikan, ekonomi dan kemuliaan nasab dan keturunan,bisa jadi juga oleh pangkat dan jabatan, sedang rahmah, adalah cinta kasih yang didominasi oleh batiniyah dan hati. Dalam membentuk keluarga sakinah ini, pada masa-masa pertama pengantin berdua seperti berlayar di laut yang tenang karena masih belum jauh dari tepian, ombak belum ada, yang ada hanyalah angin sepoi-sepoi basah, yang akan menambah asyiknya pengembaraan nanda berdua; itulah yang dikatakan “berbulan madu.”

Tapi bila perjalanan tambah jauh, pantaipun sudah lenyap dari pandangan mata; Nanda berdua berada di tengah-tengah lautan kehidupan, ombak bertambah besar dan angin bertambah dahsyat. Di sinilah nanti akan terasa betapa pentingnya saling memahami, saling tolong menolong dan saling membutuhkan; dan kesetiaan masing-masing akan diuji dan teruji.

Oleh karena itu, berlayarlah nanda dengan kapal bermesinkan taqwa, bermuatan iman, dan berkompaskan takwa. Istrimu adalah seorang perempuan, ada kelebihannya, Anda syukuri dan ada kekurangannya Anda lengkapi dan barangkali ada kelebihan. Saya yakin Anda memandangnya sebagai Srikandi, sehingga andapun menyuntingnya, peliharalah kesrikandian dirinya; bahkan ia adalah bidadari bagi Anda.

Tetapi janganlah saudara jadikan ia seperti judul sinetron : “Bidadari yang terluka. Kalau nanda memandangnya sebagai Arjuna, Arjunalah sampai ke akhir hayat. Sebagai kepala rumah tangga, berat nian tugas yang dihadapinya seorang suami sebagai kepala rumah tangga, makin jauh perjalanan, seperti judul sinetron Deddy Yusuf “Jalan Makin Membara”. Oleh sebab itu bantulah ia.

Dalam sebuah hadist diriwayatkan oleh Darquthni, beliau bersabda bahwa idzaa araadallahu bi’ahli baitin khairaan, bila Allah SWT menghendaki penghuni sebuah rumah tangga itu baik, maka: Pertama, Faqqahahum fid-din, Allah pahamkan kepada mereka agama; artinya mengetahui dan mengamalkan. Kedua, Wa waqara shagiruhum kabirahum Yang muda menghormati yang tua, artinya dirumah tangga itu ada etika dan tata kerama.

Ketiga, Wa razaqahumurrifqa fi ma’iisyatihum, Allah berikan pula rezeki yang lembut menyenangkan: artinya baik dan halal. Kemudian eempat, Wal- qahsdu fi nafaqatihim, Ekonomis dalam perbelanjaan, artinya penghuni rumah tangga itu pandai mengatur; tidak boros dan tidak kikir, tahu yang mana yang pokok harus didahulukan, dan mana yang hanya perlengkap dan bisa ditunda atau ditinggalkan.

Serta kelima, Wa bash-sharahum ‘uyubahum fa yatuubuuna minha, Kepada penghuni rumah tangga itu, Allah sadarkan akan kekeliruan masing-masing sehingga saling meminta maaf. Bila tidak, maka di rumah tangga itu seperti anak unta yang kehilangan induknya broken-home karena orang sekarang.

Ingat. Terangilah rumah tangga kalian dengan Salat dan bacaan Al-Qur’an; Aminah bintu Syati, seorang ulama perempuan Mesir penulis buku ”Banaaturrasul”, menceritakan ketika Nabi SAW menikahkan puterinya Fatimah Az-Zahra dengan Ali bin Abi Thalib. Malam harinya sesudah Shalat Isya, Fatimah diantar ke rumah Ali bin Abi Thalib yang sudah tersedia, Rasul SAW minta siapkan satu tempayan air putih bersih. Rasul membaca beberapa ayat Al-Qur’an tetapi tidak disebutkan ayatnya. Setelah itu beliau ambil satu gelas dari air itu dan beliau percikkan ke ubun-ubun kedua mempelai. Sisanya keduanya disuruh meminumnya. Sisa air yang ada di tempaian diperuntukkan bagi kedua mempelai untuk berwudhu, dan keduanya diisuruh salat dan melaksanakan sujud syukur. Usai prosisi tersebut. Rasulullah SAW keluar meninggalkan kedua mempelai untuk bermalam pertama. Amin. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved