Breaking News:

Wabah Corona di Kalsel

Tim Pakar ULM : Cuti Bersama Kontradiktif dengan Upaya Pencegahan Penyebaran Covid-19

Akhir bulan Oktober Tahun 2020 akan dilalui oleh masyarakat Indonesia termasuk di Kalsel dengan hari libur panjang hampir sepekan.

Penulis: Achmad Maudhody | Editor: M.Risman Noor
Istimewa
Tim Pakar Percepatan Penanganan Covid-19 ULM, Hidayatullah Muttaqin, SE., M.Si., Pg.D 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Akhir bulan Oktober Tahun 2020 akan dilalui oleh masyarakat Indonesia termasuk di Kalsel dengan hari libur panjang hampir sepekan. 

Libur panjang ini adalah hasil dari ketetapan pemerintah berupa cuti bersama pada 28 dan 30 Oktober untuk menyertai hari libur nasional Maulid Nabi Muhammad SAW pada 29 Oktober dan hari libur akhir pekan pada 31 Oktober dan 1 Nopember. 

Hal ini memicu tanggapan dari Anggota Tim Pakar Percepatan Penanganan Covid-19 Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Hidayatullah Muttaqin, SE., MSI., Pg.D. 

Menurutnya, kebijakan cuti bersama pemerintah ini merupakan langkah yang kontraproduktif dalam upaya mencegah penularan dan penyebaran Covid-19. 

Sebab, libur panjang dinilainya dapat mendorong masyarakat untuk melakukan perjalanan antar daerah di tengah masih tingginya kasus Covid-19 di Indonesia. 

"Padahal, mobilitas penduduk itu ibaratnya merupakan motor penyebaran virus corona," kata Muttaqin kepada Banjarmasinpost.co.id, Kamis (29/10/2020).

Dibeberkannya, rata-rata kasus harian di Indonesia pada bulan Oktober hingga Tanggal 27 ada sebanyak 4.054 kasus baru.

Baca juga: Update Covid-19 Kotabaru: 22 Orang Sembuh, Nihil Penambahan Pasien Positif

Baca juga: Cegah Covid-19 saat Libur Panjang, Dishub Palangkaraya Perketat Protokol Kesehatan di Tempat Wisata

Jumlah ini lebih besar dari rata-rata kasus baru pada bulan Agustus dan September yang masing-masing berjumlah 2.143 dan 3.740 kasus baru. 

Karena itu, liburan panjang berpotensi membuat kasus harian di Indonesia tetap tinggi pada bulan Nopember nanti.

Ia pun mengidentifikasi ada beberapa resiko peningkatan mobilitas penduduk saat berlibur terkait potensi penularan Covid-19. 

Pertama, daerah yang memiliki banyak obyek wisata memiliki kerentanan terjadinya peningkatan kasus baru Covid-19.

Kedua, masyarakat yang melancong ke suatu daerah wisata akan bertemu dengan penduduk dari daerah lainnya sehingga ada risiko penularan jika ada wisatawan atau penduduk setempat yang telah terinfeksi Covid-19.

Ketiga, ketika masyarakat yang berwisata dan kembali ke daerah asalnya ada kemungkinan membawa bibit Covid-19 ke rumah dan lingkungan tempat tinggalnya.

"Jadi ada potensi kembali meningkatnya pertumbuhan kasus baru Covid-19 di daerah-daerah wisata dan kota-kota yang mobilitas antar daerah penduduknya akan meningkat di masa liburan ini," lanjutnya. 

Menurutnya daerah yang harus waspada akan risiko ini yaitu daerah-daerah memiliki kemungkinan peningkatan kasus Covid-19 karena penduduknya berlibur adalah daerah yang dari sisi ekonomi tingkat PDRB per kapitanya tinggi dan memiliki banyak penduduk kelas menengah serta menengah ke atas.

Namun jika himbauan kepada masyarakat untuk tidak melakukan perjalanan ke luar kota di masa libur panjang didengar oleh warga, termasuk disiplin menggunakan masker, jaga jarak dan cuci tangan, maka potensi peningkatan kasus di bulan Nopember karena libur panjang bisa saja tidak signifikan terjadi. (Banjarmasinpost.co.id/Achmad Maudhody) 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved