Breaking News:

Fikrah

Haul sang Ibu

19 Rabiul awal adalah haul wafatnya ibuku Rusiah. Alhamdulillah beliau sudah melaksanakan ibadah haji, pada tahun 1976

istimewa
KH Husin Nafarin LC Ketua MUI Kalsel 

Oleh: KH Husin Naparin

BANJARMASINPOST.CO.ID - 19 Rabiul awal adalah haul wafatnya ibuku Rusiah. Alhamdulillah beliau sudah melaksanakan ibadah haji, pada tahun 1976, pada saat ramai ramainya orang Banjar pergi ke Makkah lewat umrah sandal jepit. Umrah sandal jepit adalah julukan kepada jamaah haji orang Banjar yang berhaji lewat keberangkatan umrah; kemudian langsung tinggal di Mekkah sampai musim haji dan mereka melaksanakan haji. Di antara mereka itu (ada yang tinggal bekerja di Makkah beberapa tahun sebagai pembantu rumah tangga atau sopir atau penjaga toko dan menjadi tukang emas).

Alhamdulillah aku dapat memberangkatkan ibuku untuk melaksanakan ibadah umrah langsung berhaji seperti kebanyakan orang Banjar, tetapi ibuku tidak bekerja. Aku memberangkatkannya lewat dana yang aku kumpulkan sewaktu aku bekerja di Belanda. Aku bekerja dua bulan di pabrik acar, dua bulan di restoran Toraja sebagai tukang cuci piring, dan dua bulan terakhir sebgai pemungut sampah di jalan dan di pemukiman orang Belanda di kota Denhag.

Aku pernah terpisah dari ibuku lebih kurang 12 tahun. Aku di jamak Jibtol mendapatkan beasiswa ke Timur Tengah semula ke Jamiah Madinah di Saudi. Aku lulus lewat tes penjaringan calon mahasiswa, setelah aku berangkat ke Jakarta, dikatakan aku terlambat datang sehingga aku gagal le Madinah.

Lewat bantuan KH Idham Khalid Pengasuh PP Rakha waktu itu, beasiswaku ditukar ke Mesir di Al Azhar Univesity Cairo. Keberangkatan ke Kairo haruslah dengan biaya sendiri, harge tiket sebanyak Rp 180 ribu. Seluruh warga Rakha waktu itu bergerak mengumpulkan dana di bawah inisiatif ustadz muallim KH Samlan Karman. Ada yang menyumbang Rp 10 ribu dan lain sebagainya. Seorang donatur pedagang rokok di Balangan, (alm) H Baderi menyumbangkan dana sebesar Rp 180 ribu, sehingga seluruh biaya tiket tertutupi.

Tapi aku dijodohkan dengan puteri beliau. Aku manut-manut saja. Setelah beberapa waktu keberangkatanku, di suatu pagi, sedang yang membawaku bergerak dari PP Rakha, ibu berteriak. Anakku- anakku, berhenti dan ibuku dibawa diikutkan dengan sedan itu untuk pelepasan di kantor Bupati Dharma waktu itu.

Setelah pelepasan secara resmi akupun masuk mobil sedan yang akan membawaku ke Banjarmasin, Mobil pun bergerak membawaku. Sepeninggalku, menurut keterangan ibuku pingsan tak sadarkan diri. Oleh bibiku Hj Murbaiyah beliau dibawa ke Barabai. Hari-hari berlalu demikian bagi ibu selalu diliput kesedihan. Berita tentang aku lewat surat di pos berlalu dua bulan.Begitulah ibuku bila ia bekerja di sawah, lalu jika ada di atas udara pesawat terbang, beliau terduduk tidak bisa bekerja. Di dalam hatinya ia berkata diatas kapal terbang itu ada anakku dibawa orang, iapun menangis berurai air mata. Dalam membesarkanku, ibu hanya padai menyadap karet dan bersawah. Ia seringambil upah mengetam padi sampai ke Gambut dan Anjir.

Dalam membesarkanku, ibuku hidup penuh penderitaan. Tidak ada penggalan warisan yang ditinggalkan ayahku kecuali sepetak kebun yang dijual untuk membayar SPP-ku masuk kuliah Fakultas Ushuluddin cabang IAIN Antasari Banjarmasin di Amuntai. Suatu hari ibuku tidak punya beras iapun berutang ke rumah tetangga. Pernah tidak ada lauk baik sedikit pun. Sore habis Ashar ibupergi ke sawah kepunyaanya, di situ ada sumur yang airnya hampir kering. Ia coba menanggukinya ternyata menemukan ikan haruan cukup untuk lauk makan tiga hari.

Di Al Azhar, aku langsung masuk tingkat empat karema ijazah Fak. Usuluddin sudah dipersamakan dengan tingkat tiga, lewat usaha pendahuluku yaitu ustadz KH Amberani Hamidie. Sehingga satu tahun saja aku telah dapat mencapai gelar Lc dengan nilai jayyid (baik).

Kegagalanku ada di Azhar, adalah dalam mencapai magister atau MA. Kegagalanku dipengaruhi oleh bingungnya aku antara meneruskan pertunanganku dengan puterinya (alm) H Baderi yang memberangkat aku, ataukah aku putuskan. Karena tunanganku itu telah menjalin percintaan dengan pemuda lain, dan berita ini disampaikan oleh seseorang yang dapat dipercaya di Makkah. Akhirnya pertunangan itu aku putuskan karena juga mengirim surat kepada bahwa ia tidak bersedia denganku, dan pertunangan itu hanya karena ayah-ibunya. Hal ini sedikit banyak mempengaruhi perkuliahanku di Azhar untuk mencapai MA. Kemudian aku meninggalkan Mesir Al Azhar tanpa Magister, aku singgah di Saudi Arabia dan bekerja di Kedutaan Besar RI di Jeddah pada bagian haji sebagai pegawai musim haji dan beberapa lama kemudian sebagai lokal staff pada bagian politik dan tata usaha. Aku dipercaya mengurus masjid di Kantor Kedutaan untuk salat Jumat bagi karyawan dan buruh Indonesia yang bekerja di Jeddah, bila mereka tidak ke masjidil Haram di Makkah.

Mereka haus pencerahan jiwa lewat khutbah berbahasa Indonesia dan aku ditugaskan sebagai seorang khatib dan imam. Ramadhan cukup ramai dengan buka bersama dan salat tarawih berjamaah. Istriku Hj Unaizah, bekerja sebagai guru di Sekolah Indonesia Jeddah.

Setelah hampir enam tahun kami tinggal dan aku bekerja di Saudi, kami pulang ke Indonesia, dan hasil tabungan kami dapat membeli sebuah rumah sederhana tempat kami tinggal. Kemudian beberapa lama aku berangkat lagi ke Pakistan untuk meneruskan studi di Islamic University Islamabad. Di sini aku memperdalam ilmu Bahasa Arab dan berhasil mencapai gelar MA. Disamping itu aku mengikuti ujian mencapai gelar Madi Punjab University, Lahore Karachi pada jurusan Islamic Studeis atau Dirasah Islamiyah.

Sepulangnya aku ke Indoesia aku didaulat oleh Wali Kota Sadjoko untuk menjadi Ketua MUI kota Banjarmasin, kemudian setelah beberapa waktu oleh badan formatur pemilihan ketua umum MUI Kalsel didaulat menjadi Ketua Umum MUI Provinsi Kalsel, setelah sebelumnya menjadi ketua umum di bawah Bapak H Ahmad Makkie BI. Dengan beliau aku banyak belajar tentang adiministrasi dan tata aturan organisasi. Allah yarham Pak Makkie, beliau dua periode menjadi bupati Tapi dan dianggap sebagai Bapak Pembangunan bagi rakyat Tapin. (*)

Editor: Eka Dinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved