Ekonomi dan Bisnis

Kalsel Sumbang 3,5 Persen Produk Minyak CPO Nasional, La Nina Ancam Pasokan Minyak Sawit

Kalsel dari luasan produksi yang 500.000 hektare dari 14 juta hektare luasan nasional, sekitar 3,5 persen menyumbang produk minyak CPO nasional

Penulis: Syaiful Anwar | Editor: Hari Widodo
Arief RM Akbar untuk BPost
Unit Produksi Bensin Nabati dari Minyak Sawit di Lab. Teknik Kimia ITB. 

Editor : Hari Widodo

BANJARMASIN POST.CO.ID - Awalnya sawit hanya untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati bagi industri pangan.

Namun, saat ini kebutuhan bioenergi semakin masif hampir di semua negara untuk mengimbangi laju kerusakan lingkungan yang diakibatkan konsumsi bahan bakar fosil.

Menurut Arief RM Akbar, kordinator Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (Maksi) Kalselteng, kebutuhan akan energi terbarukan akan berpotensi menjadikan RI sebagai lumbung energi dan perlahan akan melepas ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil yang selama ini terjadi.

"Kebutuhan bahan baku bioenergi ini akan berdampak positif bagi industri sawit nasional yang akan mendongkrak harga TBS petani," katanya, Jumat (6/11/2020).

Baca juga: Jalan Angkutan Sawit Kotim Rusak, Setiap Hari Dilintasi Ratusan Truk

Baca juga: Sebagian Buah Kelapa Sawit Rakyat di Kabupaten Tanahlaut Ditolak Pabrik, Ini Penyebabnya

Baca juga: TBS Sawit Kalsel Rp 1.700 Per Kilogram, Berdampak Positif Petani Banua

Ditambahkannya, sentimen positif yang akan terus berdampak baik bagi industri sawit nasional adalah mandatori program B30, seperti yang di nyatakan kementrian kordinator perekonomian dalam siaran press nya tanggal 27 Oktober 2020 lalu dimana Pemerintah tetap berkomitmen untuk tetap melanjutkan program B30.

"Hal ini di tunjukkan dengan langkah pemerintah melakukan penyesuaian tarif pungutan ekspor crude palm oil (CPO) dan produk turunannya untuk menyokong keberlanjutan program B30 tersebut," ungkapnya.

Program B30 disamping untuk kemandirian energi nasional, juga untuk menjaga stabilisasi harga CPO pada level harga minimal US$ 600 per ton serta menjaga harga tandan buah segar (TBS) petani sawit.

Dijelaskan staf pengajar Teknologi Industri Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat (ULM), dalam mandatory program B30, target konsumsi bahan bakar nabati tersebut untuk tahun 2020 telah ditetapkan 9,6 juta kilo liter walupun sampai dengan September konsumsinya baru 6,17 juta ton atau 64 persen dari target.

Hal ini disebabkan adanya pelambatan ekonomi akibat pandemi.

Selama aktivitas ekonomi masih lambat, lanjut Arief, kebutuhan energi belum akan pulih ke level normal. Artinya konsumsi bahan bakar baik di dalam maupun luar negeri belum bisa banyak diharapkan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan total ekspor minyak dan lemak nabati maupun hewani dari Januari-September 2020 mencapai US$ 13,85 miliar atau menjadi penyumbang terbesar ekspor non-migas dengan pangsa mencapai 12,45 persen.

Apabila mengacu pada data Buletin Statistik Perdagangan Internasional Ekspor Indonesia BPS bulan Juli lalu, total ekspor CPO dan turunan CPO mencapai 14,2 juta ton.

Jika digabung dengan ekspor CPKO beserta turunannya akan menjadi 15,1 juta ton.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved