Breaking News:

Jendela

Jendela - Hasrat Kepahlawanan  

Pada 1990-an, Emha Ainun Nadjib pernah mengkritik para mahasiswa yang gemar melakukan pelatihan kepemimpinan. Yang ia kritik adalah suatu kepongahan.

Editor: M.Risman Noor
UIN Antasari Banjarmasin
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari, Banjarmasin Prof Mujiburrahman 

Oleh : Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Pada 1990-an, Emha Ainun Nadjib pernah mengkritik para mahasiswa yang gemar melakukan pelatihan kepemimpinan. Yang ia kritik adalah suatu kepongahan tersirat, bahwa mahasiswa itu kelak akan menjadi orang nomor satu dan berkuasa di berbagai bidang. Ini artinya, mahasiswa diam-diam sudah meletakkan diri lebih tinggi dari rakyat kebanyakan.

Kritik Emha itu cukup tajam, terutama untuk para aktivis organisasi. Boleh jadi, gara-gara sering membahas teori kepemimpinan, banyak aktivis yang target utamanya dalam berorganisasi adalah menjadi ketua belaka. Kalau sudah jadi ketua, berarti sukses dan bangga. Padahal, jabatan ketua itu satu saja. Terjadilah pertarungan politik, kalah mengalahkan. Tak jarang, karena ingin menang, adapula yang culas. Akibat terburuknya adalah perpecahan, saling benci dan dendam.

Namun, kiranya tidak adil jika kita menyalahkan para aktivis mahasiswa. Semua ini terjadi antara lain karena ‘didikan’ kita sebagai senior mereka. Senior yang sering dibanggakan dan ditampilkan adalah yang sudah berhasil menjadi pemimpin, ketua atau pejabat. Kalau yang kiprahnya bukan sebagai pemimpin, sering tidak dianggap. Apalagi budaya kita memang suka menghormati pejabat: dimintai sambutan, fotonya dipajang di mana-mana, dan dilayani hingga terbungkuk-bungkuk.

Di sisi lain, ada gairah positif di balik hasrat menjadi ketua itu, yaitu hasrat ingin menjadi pahlawan. Menurut KBBI, pahlawan adalah “orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani; hero.” Ada tiga kata kunci di sini: menonjol, berani dan kebenaran. Kata ‘menonjol’ menyiratkan kepemimpinan. Namun kepemimpinannya itu sarat dengan nilai moral, yaitu berani dan rela berkorban membela kebenaran.

Kepahlawanan selalu dirindukan, khususnya di masa krisis. Max Weber mengatakan, pemimpin kharismatik hanya akan lahir di masa krisis. Ia menjadi kharismatik karena dianggap mampu memberikan jalan keluar. Karena itu tak heran, di masa sekarang bermunculan tokoh-tokoh idola kharismatik. Anak-anak muda, yang tengah mencari jatidiri dan pengakuan akan keberadaan mereka, berangan-angan bisa menjadi seperti mereka. Tokoh kharismatik adalah pahlawan.

Dalam masa pancaroba budaya, seringkali pula masyarakat kecewa terhadap tokoh idola. Ternyata, si tokoh juga rapuh, tak kuat menghadapi godaan sesaat hingga berkhianat pada idealismenya sendiri. Akibatnya, muncullah kerinduan akan tokoh-tokoh yang sudah wafat, yang seolah tanpa cacat. Karena mereka yang hidup sudah sulit dipercaya, maka yang sudah mati pun dibangkitkan dari kubur, entah itu dalam bentuk biografi, manakib, film, hingga ritual haul dalam berbagai bentuknya.

Masalah menjadi semakin rumit ketika siapa yang pahlawan, siapa yang bukan, ditentukan oleh pasar. Dulu Goenawan Mohammad pernah menulis, hero yang sebenarnya adalah Supermarket Hero. Ini candaan yang kena. Kalau dikaitkan dengan media sosial, seseorang menjadi pahlawan terutama karena publik antah berantah dunia maya mengakuinya. Semakin banyak yang mengakui, semakin mantap. Kriterianya adalah selera pasar yang bisa berubah-ubah laksana hembusan angin.

Demikianlah, baik yang berambisi ingin menjadi ketua, idola dan pahlawan, ataupun orang-orang yang merindukan sosok semacam itu sebagai penyelamat atau minimal penghibur di kala galau, sama-sama terperosok pada fantasi kesempurnaan yang tak pernah ada. Karena itu, perlu kiranya melihat idola dan pahlawan sebagai manusia, bukan dewa. Selain itu, perlu pula melihat orang-orang biasa, bukan hanya orang-orang yang menonjol saja, sebagai sosok pemimpin dan pahlawan. 

“Setiap kamu adalah pemimpin, dan bertanggungjawab atas kepemimpinannya,” kata Nabi. Pesan mulia ini mengingatkan bahwa pemimpin itu tak mesti harus ketua, tetapi tiap orang memiliki tanggungjawab kepemimpinan masing-masing. Jika pun kita tak memimpin orang lain, maka yang pasti kita harus memimpin diri sendiri. Justru inilah yang sulit. “Bukanlah orang yang kuat itu yang sanggup membanting musuh, tetapi yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah,” kata Nabi.

Jika orang mampu mengendalikan diri, mengalahkan nafsu, maka dialah pemimpin yang sebenarnya. Sebaliknya, orang yang masih dikuasai nafsu, tak layak memimpin orang lain. Sifat kepemimpinan yang alruistik dari seorang pahlawan adalah buah dari kemampuan mengalahkan nafsu. Ia rela berkorban untuk kepentingan orang lain. Dia menjadi manusia yang bermanfaat, mendatangkan kebaikan. “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain,” kata Nabi.

Alhasil, entah menjadi ketua atau anak buah, menjadi pejabat atau rakyat, menjadi idola media sosial atau tak dikenal, Anda adalah pemimpin dan pahlawan jika hidup Anda bertanggungjawab, mampu mengendalikan nafsu, rela berkorban dan bermanfaat bagi orang lain.  (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved