Berita Banjar

Dibantu Dosen ULM, Kemasan Gula Aren Sungai Tuan Jadi Lebih Modern

Gula aren buatan Desa Sungai Tuan Kecamatan Astambul Kabupaten Banjar kini berubah. Jika dahulu hanya dibungkus plastik atau daun kini berbeda

Penulis: Milna Sari | Editor: M.Risman Noor
Abdi Fithria
kemasan gula aren warga Desa Sungai Tuan yang lebih baik 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Gula aren buatan Desa Sungai Tuan Kecamatan Astambul Kabupaten Banjar kini berubah. Jika dahulu hanya dibungkus plastik atau daun kini berbeda.

Gula aren Sungai Tuan kini tampil lebih modern. Bentuk gula aren juga lebih modis dengan wadah pouch dan kemasan kotak. 

Si Tuan, itulah nama yang diberikan untuk gula aren organik produksi warga Sungai Tuan. Gula aren yang dibungkus kotak bahkan diberi plastik terlebih dahulu.

Modernisasi gula aren Desa Sungai Tuan tak lepas dari pengabdian masyarakat ULM yang dilakukan dosen Fahutan ULM, Abdi Fithria dan Hafizianor yang memodernisasi gula produksi warga menjadi lebih kece.

Desa Sungai Tuan jelas Abdi Kamis (12/11/2020) yang juga dosen ULM merupakan salah satu desa penghasil gula merah di Kabupaten Banjar. Desa yang berada di pesisir sungai tabukan.  Banyak terdapat pohon aren di desa tersebut.  Berdasarkan tempat tumbuh aren, desa tersebut sangat cocok untuk ditanami aren karena merupakan daerah yang landai. 

Baca juga: Pengajuan Izin Resepsi Pernikahan Meningkat Selama Bulan Maulid di Martapura Timur

Baca juga: Sebanyak 34 Warga Binaan Lapas Karang Intan Kabupaten Banjar Dilatih Menulis Cerpen

Masyarakat juga banyak yang memanfaatkan banyaknya pohon aren untuk dijadikan gula aren. Namun sayang gula aren yang dihasilkan warga masih berupa gula aren kemasan lama dan diolah dengan peralatan sederhana yang rumit.

Sama seperti kebanyakan gula aren yang dijual di pasar, gula aren buatan warga Sungai Tuan dicetak pada cetakan batok kelapa.  Biasanya hasil sadapan yang berupa nira aren dikumpulkan dari beberapa batang pohon aren.

Hasil sadapan yang diperoleh pada setiap pagi dan sore hanya sekitar lim liter per hari.  Air nira tersebut biasanya dikumpulkan sampai empat hari baru diolah menjadi bula aren.  Hasil yang diperoleh adalah lima kilogram per empat hari.  Hasil produknya dijual di pasar lokal di Kecamatan Astambul dengan harga Rp 20.000 per kilogram.

"Jika dilihat dari pendapatan pengolahan gula aren adalah Rp.100000 per empat hari, merupakan pendapatan yang relatif sedikit," jelas Abdi.

Produksi gula aren secara tradional, tanpa kemasan, tanpa merek dan bentuk yang biasa memiliki pangsa pasar yang rendah. Padahal potensi tanaman aren yang tinggi di desa Sungai Tuan Ulu  merupakan peluang untuk pengembangan industri rumah tangga dan peningkatan pendapatan dari aren yaitu dengan perbaikan kemasan.

Selain perbaikan kemasan, tim yang didanai dari BNPB 2020 oleh LPPM ULM juga merubah bentuk gula aren yang dari batok kelapa ke bentuk bulat kecil.

Jika selama ini produk hanya dipasarkan per empat hari ke pasar kecamatan sebanyak la kilogram, maka dengan kegiatan ini diharapkan produksi bisa lebih banyak dan yaitu menjadi 10 kilogram per empat hari dan masuk ke pasar modern.

"Sekarang kita sedang mengusulkan agar gula aren warga bisa masuk ritel modern karena pengusulan juga akan mencoba melihat seberapa  besar kandungan nutrisi dan umur simpan dari gula aren produksi mitra agar lebih memudahkan di dalam pelabelan ketika produk akan dilepaskan ke pasar modern. Tempat perbelanjaan modern umumnya memiliki kriteria khusus terhadap kemasan yang akan dipajang," bebernya. ( Banjarmasinpost.co.id/Milna)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved