Breaking News:

Penanganan Covid 19

Cegah Penyintas Covid-19 Terinfeksi Lagi, Ini 7 Tips Tim Pakar Covid-19 ULM

enelitian di Munich, Jerman dan Spanyol melaporkan sebagian penyintas COVID-19 memang dapat kembali terinfeksi virus yang sama beberapa bulan kemudian

Penulis: Achmad Maudhody | Editor: Hari Widodo
BANJARMASINPOST.CO.ID/KHAIRIL RAHIM
Prof Dr dr H Syamsul Arifin MPd DLP, Guru Besar Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) yang juga anggota Tim Pakar Percepatan Penanganan Covid-19 ULM, saat diskusi, Selasa (27/10/2020). 

Editor : Hari Widodo

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Sejak awal pandemi menyerang, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memberi peringatan bahwa tidak ada bukti bahwa orang yang telah pulih dari COVID-19 dan memiliki antibodi  mampu terlindungi dari infeksi kedua. 

Menurut WHO, sebagian besar studi yang pernah dilakukan memang menunjukkan bahwa orang yang telah pulih dari infeksi memiliki antibodi terhadap virus. 

Namun, beberapa dari orang-orang ini memiliki tingkat antibodi penawar yang sangat rendah dalam darah mereka, seperti di Israel dan Jerman ditemukan pasien yang 3 bulan setelah dinyatakan sembuh dari Covid-19 terinfeksi kembali. 

Demikian pula Penelitian di Munich, Jerman dan Spanyol melaporkan sebagian penyintas COVID-19 memang dapat kembali terinfeksi virus yang sama beberapa bulan kemudian. 

Baca juga: Berkunjung ke Mal, Tim Pakar ULM Sebut 5 Benda Ini Berpotensi Jadi Transmisi Covid-19

Baca juga: Tren Jumlah Kasus Covid-19 Menurun, Tim Pakar Covid-19 ULM: Waspadai Penurunan Semu

Hal ini menjadi perhatian Anggota Tim Pakar Percepatan Penanganan Covid-19 Universitas Lambung Mangkurat (ULM) yang juga Guru Besar Ilmu Kesehatan ULM, Prof. Dr. dr. Syamsul Arifin

Harapan terhadap vaksin Covid-19 yang pengembangannya terus mengalami kemajuan pun kata Syamsul menjadi semakin tinggi untuk bisa menghentikan pandemi Covid-19. 

Namun menurutnya vaksin yang telah diuji coba sampai saat ini pun ternyata masih memiliki beragam kelemahan, dimana vaksin Covid-19 diperkirakan memiliki jangka waktu yang terbatas untuk menciptakan sistem imun di tubuh pasiennya. 

"Masa berlaku efektivitas vaksin saat ini diperkirakan hanya bertahan 6 bulan sampai 2 tahun. Oleh karena itu penerapan protokol kesehatan secara disiplin masih merupakan senjata utama dalam memerangi Covid-19," kata Syamsul. 

Syamsul pun mengingatkan penerapan protokol kesehatan tak hanya meliputi 3M tapi 6M yaitu memakai masker, mencuci tangan pakai sabun, menjaga jarak, menghindari kerumunan, menghindari menyentuh wajah, mata dan hidung serta meningkatkan daya tahan tubuh.  

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved