Breaking News:

Berita Banjarmasin

Simposium Internasional Manajemen Lahan Basah Digelar ULM

Simposium internasional yang diadakan ULM hadirkan narasumber pakar pertanian untuk membahas sistem agrikultur yang sesuai dengan kondisi di Indonesia

Penulis: Achmad Maudhody | Editor: Alpri Widianjono
ULM UNTUK BPOST GROUP
Simposium internasional yang diselenggarakan Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Kalimantan Selatan, secara virtual. 

Editor: Alpri Widianjono

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Akibat dampak yang ditimbulkannya di hampir seluruh sektor termasuk kesehatan, ekonomi dan sosial, pandemi Covid-19 bisa berdampak pada ketahanan pangan dunia.

Efek ini diyakini bisa mulai terjadi dan dirasakan baik di saat pandemi saat ini dan hingga tahun-tahun berikutnya.

Hal ini disampaikan peneliti senior Food and Agriculture Organisation (FAO), Dr Muhammad Zaman, pada Simposium Internasional Manajemen Lahan Basah yang dilaksanakan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) secara virtual, Senin (30/11/2020).

Dalam simposium internasional yang dibuka Rektor ULM diwakili Wakil Rektor Bidang Akademik ULM, Aminuddin Prahatama Putra ini, Zaman menilai Indonesia dengan 250 juta lebih penduduknya tak terlepas dari risiko tersebut.

"Kerawanan ini diperparah oleh perubahan iklim yang sekarang melanda dunia antara lain dicirkan dengan curah hujan tinggi di beberapa negara," kata Zaman.

Baca juga: Warga Kabupaten Pulang Pisau Kelola Lahan Gambut untuk Dijadikan Destinasi Wisata

Baca juga: Mahasiswa Prodi Farmasi ULM Ajarkan Membuat Sabun Kertas dan Tissue Basah di Loktabat Banjarbaru

Karena itu, dia menyarankan setiap negara khususnya di Indonesia untuk mulai menerapkan Climate Smart Agriculture yaitu sistem agrikultur yang dimodifikasi menyesuaikan dengan perubahan iklim.

Menteri Pertanian yang hadir secara virtual diwakili oleh Dr Yiyi Sulaeman menyatakan, untuk merespon kerawanan pangan ini Pemerintah Republik Indonesia sudah meluncurkan program Food Estate (FE).

Menurut Yiyi yang juga merupakan Peneliti Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) ini, program FE dilaksanakan dengan penanaman padi, hagung dan tanaman pangan lainnya.

Dimana program ini mencakup luasan area total mencapai 700.000 hektare di beberapa daerah di Indonesia termasuk di Provinsi Kalteng.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved