Breaking News:

Berita Banjarmasin

Anggota TPPP ULM Ini Berharap 3M Dibiasakan Agar Tidak Muncul Hanoman Versi Antagonis

Anggota TPPP Covid-19 ULM, Nasrullah, mengingatkan pemerintah dan masyarakat menjadikan 3M sebagai kebiasaan untuk mencegah peningkatan kasuss positif

Penulis: Irfani Rahman | Editor: Alpri Widianjono
ISTIMEWA
Anggota Tim Pakar Percepatan Penanganan Covid-19 Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Nasrullah. 

Editor: Alpri Widianjono

BANJARMASINPOST.CO.ID,BANJARMASIN - Masyarakat Kalimantan Selatan selama ini menjalankan protokol kesehatan untuk mencegah tertular Covid-19 yang secara sederhana disebut 3M, yaitu masker, menjaga jarak dan mencuci tangan.

Namun menurut seorang anggota Tim Pakar Percepatan Penanganan (TPPP) Covid-19 Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Nasrullah, hal yang didapatkan selama ini justru kasus peningkatan positif Covid-19.

"Atas dasar itu, penekanan penting saya adalah jika berbulan-bulan kita menjalani protokol kesehatan, maka semestinya kita sudah sampai pada taraf habit atau sudah terbiasa menjalani 3M. Jadi, kita bukan lagi menjalankan protokol atas anjuran, hingga sanksi pemerintah, melainkan ada kesadaran bahwa akan terasa kurang, mengganjal, atau tidak nyaman bahkan terasa rugi jika 3 M tidak dijalankan," urai dosen Program Studi Pendidikan Sosiologi Bidang Keilmuan Antropologi Budaya FKIP ULM ini.

Agar ini menjadi habit atau kebiasaan, dirinya mengusulkan, pertama, penggunaan masker mampu bertranformasi dari fungsi medis perlu dikuatkan menjadi fungsi estetis.

Alasannya, ketika masker diperuntukkan bagi umum demi pencegahan wabah, tidak serta merta masyarakat mengikuti. Masker biasanya digunakan untuk kalangan tertentu, karena masker bukan praktek dari kehidupan sehari-hari.

Baca juga: Hadapi Hari Besar Keagamaan Nasional, Ketersediaan Bahan Pokok di Kalsel Aman

Baca juga: Ditembak, Begal Mobil Sewaan di Kalsel Ditangkap di Banyuwangi

Baca juga: Back Up Pengamanan Saat Pilkada Kalsel 2020, Ribuan Personel Polda Akan Diturunkan

Baca juga: Sosialisasi Pilkada Kalsel 2020 ke Penyandang Disabilitas, Penerjemah Bahasa Isyarat Pun Dihadirkan

Maka, fungsi estetis tanpa meninggalkan fungsi medis menjadi penting agar penampilan pengguna masker mampu masuk ke ranah gaya hidup.

"Pengamatan saya, sudah banyak masker seperti ini dengan bentuk sangat menarik, maka akan dapat menjadi gaya hidup penggunanya. Namun sekali lagi, tanpa meninggalkan fungsi medis," imbuhnya.

Kedua, menjaga jarak mesti tetap menjadi perhatian. Perlu bahasa atau ungkapan yang mudah difahami masyarakat, misalnya “truk aja menjaga jarak, apalagi kita”.

Menurutnya pula, institusi yang mampu menerapkan menjaga jarak adalah sektor perbankan. Karena, urusan uang dan dengan keberadaan Satpam Bank yang telah terlatih menertibkan pengunjung dengan cara dan bahasa yang tidak menyinggung perasaan nasabah. Maka, protokol menjaga jarak lebih mudah dilaksanakan.

Ketiga, cuci tangan dengan sabun menjadi sangat penting agar dijadikan kebiasaan. Di berbagai kota, termasuk Kota Banjarmasin, di setiap pinggir jalan sebenarnya telah ada tempat air untuk mencuci tangan.

Namun akan menjadi efektif, lanjut Nasrullah,  jika berada pada tempat ibadah, seperti bagi umat Islam yakni pada tempat berwudu.

Jika ke masjid lima kali sehari, niscaya berwudu dan mencuci tangan dengan sabun sudah pasti dilakukan 5 kali pula. Belum lagi jika dilakukan dalam berbagai kesempatan lain, maka frekuensi cuci tangan akan semakin meningkat.

"Kebiasaan 3M ini menjadi penting agar kita tidak menjadi Hanoman versi antagonis yang membakar kerajaan Alengka dengan ekor yang terbakar. Maka jika abai 3M, apalagi jika secara medis reaktif Covid-19 atau melalui swab ternyata positif tapi tanpa gejala sehingga mudah bepergian kemana-mana, maka pada saat itu Hanoman versi antagonis telah bergerak membakar atau menularkan Covid-19 kepada orang lain," pungkasnya.

(Banjarmasinpost.co.id/Irfani)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved