Ekonomi dan Bisnis

November 2020 Kalsel Terjadi Inflasi 0,69 Persen, Dipicu Naiknya Harga Produk Makanan dan Minuman

Pada November 2020 di Kalimantan Selatan (Kalsel) terjadi inflasi sebesar 0,69 persen

Penulis: Mariana | Editor: Hari Widodo
BANJARMASINPOST.CO.ID/MARIANA
Ilustrasi-Kepala BPS Kalsel, M Edy Mahmud, memaparkan materi inflasi, NTP, dan ekspor-impor Kalsel dalam konferensi virtual BPS Kalsel, Senin (3/8/2020). 

Editor : Hari Widodo

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Pada November 2020 di Kalimantan Selatan (Kalsel) terjadi inflasi sebesar 0,69 persen atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 105,21 pada Oktober 2020 menjadi 105,94 pada November 2020.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Moch Edy Mahmud menjelaskan, Inflasi di Kalsel November 2020 terjadi karena adanya kenaikan IHK pada beberapa kelompok pengeluaran, yaitu kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 1,52 persen, kelompok transportasi dan kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 1,22 persen.

Selanjutnya kelompok kesehatan naik sebesar 1,12 persen, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,98 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar lainnya sebesar 0,24 persen, kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,22 persen.

Lalu kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran naik sebesar 0,18 persen, kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,01 persen. 

Baca juga: KalselPadia : Tahan Inflasi, Pegadaian Gencar Sosialisasikan Produk Investasi Emas

Baca juga: Inflasi Kalsel 0,22 Persen, Didorong Komoditas Daging Ayam Ras, Bahan Bakar, dan Ikan Gabus

Sedangkan, kelompok yang mengalami penurunan indeks harga yaitu kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,17 persen. 

"Sementara kelompok pendidikan tidak mengalami perubahan indeks harga dibanding Oktober 2020. Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga dengan andil inflasi tertinggi di Kalsel antara lain,  angkutan udara, daging ayam ras, bawang merah, telur ayam ras dan bahan bakar rumah tangga," paparnya.

Ia menambahkan, komoditas yang mengalami penurunan harga dengan andil deflasi tertinggi, antara lain, emas perhiasan, sepeda motor, kacang panjang, bayam dan ikan tongkol/ikan ambu-ambu.

Di wilayah Pulau Kalimantan, sebelas kota mengalami inflasi sedangkan satu kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Sintang sebesar 0,96 persen, sedangkan inflasi terendah terjadi di Kotabaru sebesar 0,1 persen. Sementara itu, kota yang mengalami deflasi yaitu Tarakan sebesar 0,05 persen. (banjarmasinpost.co.id/mariana)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved