Wabah Corona di Kalsel
Jika Sekolah Dibuka, Tim Pakar Covid-19 ULM Berharap Munculnya Kluster Keluarga Diwaspadai
Tim Pakar Covid Covid 19 ULM, Nasrullah S Sos,I, MA mengatakan wacana pembukaan pembelajaran tatap muka wajib direspon hati-hari oleh pemerintah
Penulis: Irfani Rahman | Editor: Hari Widodo
Editor : Hari Widodo
BANJARMASINPOST.CO.ID,BANJARMASIN - Dosen Program Studi Pendidikan Sosiologi Bidang Keilmuan Antropologi Budaya FKIP dan juga anggota Tim Pakar Percepatan Penanganan Covid Covid 19 ULM , Nasrullah S Sos,I, MA mengatakan wacana pembukaan pembelajaran tatap muka di sekolah, bahkan di perguruan tinggi hendaknya di respon secara hati-hati.
Sebab kalau tidak justru bisa menimbulkan kluster keluarga, yang ditularkan pelajar selama pergaulan di sekolah atau didapatkan melalui perjalanan pulang pergi dari rumah ke sekolah dan sebaliknya.
Jika imunitas anak-anak sekolah memang kuat, tapi bagaimana dengan orang tua, atau pamam dan bibi hingga kakek nenek mereka.
Maka kalau pun protokol kesehatan dilaksanakan dengan ketat, bagaimana juga dengan pelajar yang bergerombol di waktu istirahat.
Baca juga: Update Covid-19 Kotabaru : Kasus Baru Bertambah 9, Kini Total Terkonfirmasi 643 Orang
Baca juga: Update Covid-19 Batola, Positif Betambah 1 Orang, Total Capai 844 Kasus
Oleh karena itu, baik pemerintah pusat hingga turun ke pemerintah daerah dan pihak sekolah perlu melihat dengan jernih.
Bahkan saya mendengar sekolah akan melakukan polling terhadap orang tua siswa untuk melihat aspirasi mereka, saya kira itupun kurang tepat.
Penekanan saya, kalaupun membuka pembelajaran tatap muka di sekolah harus memperhatikan:
Pertama, aspek geografis sekolah yang jauh dari pusat keramaian.
Maka sekolah yang dibuka idealnya berada di pedesaan jauh dari akses mobilitas.
Kedua, asal siswa atau pelajar. Kalau pun sekolah dianggap jauh dari akses keramaian, tapi bagaimana kalau ada siswa di sekolah tersebut yang berasal dari zona merah.
"Jangan-jangan justru pembawa virus yang menjangkiti teman-teman atau gurunya dan kemudian dibawa ke rumah,"katanya.
Ketiga, hal terpenting juga jumlah siswa di dalam kelas. Sekolah sangat memungkinkan dibuka, selain poin pertama dan kedua, adalah jumlah siswa yang terbatas.
Bahkan ada sekolah di desa-desa tertentu yang memiliki siswa perkelas jumlahnya terbatas hitungan jari dan gurunya tinggal menetap di lingkungan sekolah akan sangat memungkinkan sekolah dibuka kembali.
Baca juga: Vaksin Covid-19 Sinovac Belum Kantungi Sertifikasi Halal, MUI Tunggu Dokumen dari Sinovac
Bagian tak kalah pentingnya, kita hampir menuntaskan masa covid-19 jika vaksin telah disuntikkan ke dalam tubuh. Maka justru saat inilah yang genting, sebab vaksin belum disuntikkan dan sebaliknya
kasus baru covid-19 terus bertumbuh termasuk di Kalsel.
Data Dinkes Provinsi Kalsel, Sabtu (12/12) suspek 290 orang atau bertambah 11 orang dari 279 orang pada Jumat (11/12). (banjarmasinpost.co.id/irfani rahman)