Kesaksian Pendamping Hasan Basry

Pondokannya Dikepung dan Dihujani Peluru Belanda, Hasan Basry dan Para Pejuang Masih Selamat

Bapak Gerilya Kalimantan ini bersama para pejuang lainnya selalu melengkapi diri dengan senjata tradisional

Penulis: Salmah | Editor: Eka Dinayanti
banjarmasinpost.co.id/salmah
H Sarman, pernah mendampingi Pahlawan Nasional Brigjend TNI H Hasan Basry 

Editor: Eka Dinayanti

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Ketika para penjajah Belanda bermodal senjata dan peralatan tempur modern (di masanya), pasukan pejuang tanah air lebih mengandalkan senjata tradisional dan keyakinan terhadap pertolongan Tuhan Yang Maha Esa.

Begitupula Brigjend H Hasan Basry, Bapak Gerilya Kalimantan ini bersama para pejuang lainnya selalu melengkapi diri dengan senjata tradisional, mengingat senjata api yang dimiliki terbilang seadanya.

Hasan Basry yang juga Komandan Tentara ALRI Divisi IV di Kalimantan Selatan tersebut, selain mempersenjatai diri dengan pistol, salah satunya pistol mini ala James Bond dan pisau belati kecil (keduanya bisa dilihat di Museum Wasaka Banjarmasin).

Baca juga: Pernah Mendampingi Bapak Gerilya Kalimantan Hasan Basry, Sarman Tiga Bulan Tinggal di Hutan

Baca juga: Saat Berwudhu Jelang Salat Subuh Bapak Gerilya Kalimantan itu Ditembak Mata-mata Belanda

Dikisahkan H Sarman, pendamping Hasan Basry semasa gerilya, suatu hari di sebuah pondokan di Desa Janggar, masih wilayah Hulu Sungai Selatan, terjadi pengepungan oleh tentara Belanda.

Lebih tepatnya adalah tentara KNIL yang merupakan pasukan 'Belanda hitam' alias orang pribumi dari kawasan Timur Indonesia yang direkrut Belanda sebagai tentara mereka.

"Ketika itu di pondokan ada empat orang yakni Kak Hasan Basry, H Damanhuri, H Aberani Sulaiman, Ibnu Hadjar," ujar Sarman yang juga anggota LVRI (Legiun Veteran Republik Indonesia) Kalsel.

Mengetahui ada pengepungan, mereka bersiap melakukan perlawanan.

Namun para pejuang gerilya itu memilih menyiapkan senjata tajam daripada mengokang pistol dan senapan.

"Saat itu H Damanhuri yang sudah bersiap dengan parang dan tombak, mengatakan lebih baik pertarungan jarak dekat saja dengan senjata tajam. Namun Hasan Basry mencegah," kisah Sarman.

Lantas Hasan Basry menyelinap keluar pondok tanpa sepengetahuan para pengepung.

Ada sebuah lesung penumbuk padi di dekat pondokan. Kemudian Hasan Basry berdiri di atas lesung dan berdoa.

Sementara itu para pengepung merasa para pejuang tak bisa apa-apa lagi.

Sejurus kemudian pondokan itu dihujani tembakan, hingga pasukan pengepung menjadi heran karena tak ada erang kesakitan apalagi percikan darah dari dalam pondok.

"Merasa membuang peluru dan sasaran dituju mereka anggap tak ada di pondok, pasukan itu kemudian berlalu meninggalkan pondok. Padahal para pejuang tetap ada di dalam," tukas Sarman.

Selain kejadian tadi, Sarman juga pernah mendampingi Hasan Basry keluar persembunyan untuk berbelanja bahan makanan ke pasar.

Ternyata di pasar banyak sekali tentara KNIL dan polisi Belanda yang patroli.

(banjarmasinpost.co.id/salmah saurin)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved