Breaking News:

Opini Publik

(Catatan Pilkada Kalimantan Selatan) Calon Kepala Daerah Makin Saleh

saya melihat ada hal yang tidak berubah banyak dalam Pilkada Kalimantan Selatan dibanding pelaksanaan sebelumnya, yakni politik kesalehan.

Editor: Eka Dinayanti

Oleh : Supriansyah Peneliti di Kindai Institute Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - HASIL Quick Count (QC) atau Hitung Cepat Pilkada Kalimantan Selatan (Kalsel) belum bisa meyakinkan publik, siapa yang memenangkan pertarungan antara dua calon, Sahbirin-Muhidin dan Denny-Difri. Kedua calon pun dibikin deg-degan dalam. Sebab, ada perbedaan hasil QC di antara lembaga survei dengan margin suara yang tipis.

Tentu, kemenangan baru bisa diklaim salah satu calon apabila penghitungan surat suara oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah selesai seluruh tahapannya. Dalam sebuah perbincangan di warung makan, teman saya menyebutkan bahwa isu politik uang menjadi arus utama dalam pertarungan politik tahun ini di Kalimantan Selatan, adalah faktor paling mempengaruhi hingga hasil Pilkada bisa seketat ini. Kita tentu saja boleh percaya atau tidak.

Tapi, saya melihat ada hal yang tidak berubah banyak dalam Pilkada Kalimantan Selatan dibanding pelaksanaan sebelumnya, yakni politik kesalehan. Walau dinamikanya terus berubah, namun politik kesalehan masih menjadi poin penting dalam kampanye setiap calon kepala daerah di Kalsel. Mengapa bisa demikian?

Religius
Kalsel dikenal sebagai wilayah yang dikenal religius. Hal ini bisa dilihat dari menjamurnya majelis taklim, pengajian, majelis salawat hingga ceramah rutin, baik di langgar, masjid hingga rumah pribadi di setiap kabupaten/ kota. Popularitas para Tuan Guru (Ulama/kyai) dan ustadz di masyarakat juga tidak diragukan lagi.

Oleh sebab itu, ekspresi kesalehan dalam diri politisi di Kalsel dan di daerah lain dapat dilihat dari bagaimana kultur budaya setempat dan tampilan di keseharian. Saya melihat politisi sekarang justru makin saleh, tidak saja mengikuti dinamika keagamaan di Kalsel, seperti dekat dengan ulama, rajin hadir pengajian, rajin salat berjemaah atau menjadi khatib atau imam.

Bahkan, narasi Islam lokal pun turut dimainkan, seperti perhitungan waktu baik, tradisi bahadrah hingga Batapung tawar. Selain itu, citra saleh di politisi atau calon kepala daerah juga dihadirkan lewat keluarga yang utuh dan harmonis, taat dengan orang tua hingga bikin meme dengan narasi agama.

Langkah tersebut mereka lakukan untuk merebut simpati dan dukungan masyarakat Kalsel yang dikenal religius. Tentu, variabel kesalehan menjadi pertimbangan pertama para pemilih, sebagaimana di banyak daerah lain di Indonesia yang dikenal religius. Akibatnya, para kontestan Pilkada di Kalimantan Selatan tahun ini masih tidak bisa keluar dari irisan antara politik dan agama, khususnya soal kesalehan.

Saya sulit membayangkan jika seorang calon peserta Pilkada atau Pemilu di Kalsel, atau daerah yang dikenal religius, tidak menampilkan diri sebagai sosok yang saleh, mungkin sekali dia akan terasing dari persaingan atau tersingkir. Semacam ada keyakinan di masyarakat bahwa calon yang religius atau saleh itu lebih baik, ketimbang mereka yang tidak terlihat agamis.

Walau, tidak sedikit suara-suara sumbang di masyarakat kala melihat “kesalehan” para politisi tersebut. Dari ada yang menyebut “Aji mumpung” atau “Paling waktu Pilkada saja” dan berbagai komentar lainnya di masyarakat, tidak mengubah keyakinan politisi menggunakan narasi agama/ kesalehan.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved