Breaking News:

Jendela

Tahun Vivere Pericoloso

Vivere Pericoloso adalah judul pidato Bung Karno pada 17 Agustus 1964, saat Indonesia mengalami kegentingan luar biasa

istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Oleh Mujiburrahman, Rektor UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - Jumat malam, 25 Desember 2020, hujan tak henti-henti hingga subuh. Usai Salat Subuh pagi Sabtu, hujan masih rintik-rintik. Karena sudah berniat ingin olahraga jalan kaki, saya dan isteri tetap keluar rumah. Untuk melindungi diri, saya pakai topi dan jaket, sedangkan isteri membawa payung. Langit tampak mendung. Gerimis masih menetes tipis-tipis. Jalanan lengang dan sepi. Tetapi setelah kami berjalan sekitar tiga kilometer, hujan berhenti, meski langit masih tertutup awan kelabu.

Hujan atau salju di bulan Desember itu biasa. Namun, sebagaimana dikatakan para ahli, kini hujan lebih banyak dan cuaca lebih dingin. Minggu lalu diberitakan, satu daerah di Rusia mengalami cuaca super dingin, minus 50 derajat celcius! Di tanah air, banjir dan longsor menjadi berita setiap hari. Kemarin, BPost memajang foto memilukan: sebuah rumah lantainya terendam air akibat banjir, dan di atasnya menggantung bayi di ayunan dalam posisi duduk berselimut ikatan kain (bapukung).

Di negeri ini, banjir dan longsor memang seperti langganan setiap tahun. Namun bencana ini terasa lebih berat karena kita tengah ditimpa musibah yang lebih berat. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Pada 2020 ini, sekitar sembilan bulan sudah kita menanggung musibah wabah Covid-19 yang tidak hanya menyebabkan kematian jutaan orang di dunia, tetapi juga menghancurkan ekonomi, mengguncang politik dan merombak budaya. Kita benar-benar berada pada titik nadir sejarah.

Andai Sukarno masih hidup, dia mungkin akan kembali berkata “Vivere Pericoloso”, ungkapan Italia yang berarti hidup dalam bahaya. Vivere Pericoloso adalah judul pidato Bung Karno pada 17 Agustus 1964, saat Indonesia mengalami kegentingan luar biasa. Ekonomi amat merosot. Banyak orang kelaparan. Kekuatan-kekuatan politik di seputar Sukarno tengah pasang kuda-kuda, sementara dunia mengintai Indonesia dalam kerangka perang dingin antara kubu komunis dan kapitalis.

Dalam pidatonya itu, Bung Karno menegaskan bahwa revolusi belum selesai, dan Indonesia tengah menghadapi bahaya. Bung Karno benar. Pada 30 September 1965, satu kudeta meletus tetapi gagal, disusul oleh pembunuhan ratusan ribu manusia. Sukarno jatuh dan Suharto naik. Terinspirasi judul pidato Sukarno, Christopher Koch asal Australia, mengarang novel pada 1974 dengan judul The Year of Living Dangerously (tahun hidup dalam bahaya). Novel ini kemudian dijadikan film pada 1982.

Judul pidato yang menjadi novel dan film itu kemudian menjadi judul serial film dokumenter lagi di Amerika Serikat. Episode pertama dirilis pada 2014, dan yang kedua pada 2016. Film dokumenter berjudul Years of Living Dangerously ini menayangkan bahaya perubahan iklim akibat perusakan alam oleh manusia seperti penebangan hutan, pertambangan dan penggunaan bahan bakar fosil. Para artis Hollywood tampil mewawancarai para ilmuwan untuk menjelaskan bahaya ini.

Bahaya itu pun datang, bukan hanya cuaca yang menjadi ekstrem dan tidak menentu, tetapi juga berupa wabah Covid-19 yang menyerbu ke seluruh penjuru. Lantas, adakah hubungan antara perubahan iklim atau pemanasan global dan munculnya Covid-19? Menurut sebagian ahli, keduanya memang berhubungan. Diduga virus Corona itu berasal dari hewan. Karena hutan sebagai habitat hewan dirusak manusia, akhirnya hewan hidup berdekatan dengan manusia. Terjadilah penularan.

Apakah musibah wabah Corona ini akan membuat manusia lebih bijak? Slavoj Ẑiẑek dengan tegas mengatakan “tidak”. Ia mengutip Hegel yang konon mengatakan, satu-satunya yang kita pelajari dari sejarah adalah bahwa manusia tidak mau belajar dari sejarah! Di sisi lain, Seyyed Hossein Nasr, dalam dua wawancaranya tentang Covid-19 mengatakan, musibah ini akan membuat manusia sadar tentang kelemahan dan keterbatasan dirinya, sehingga dia ingat pada Yang Maha Kuasa. Manusia tidak lagi hanya mengejar materi, tetapi juga kekayaan ruhani sebagai sumber kebahagiaan sejati.

Saya kira, karena manusia adalah makhluk yang bebas memilih, maka dua pendapat di atas benar. Ada manusia yang berubah menjadi lebih baik dan bijak, adapula yang tetap jahat bahkan lebih jahat. Ada yang tidak mau tenggelam dalam gundah, lalu mencari jalan keluar dan menemukan hikmah di balik musibah. Sebaliknya, adapula yang menyalahkan keadaan dan mengambinghitamkan orang lain, atau bahkan memancing di air keruh, mengambil kesempatan dalam kesempitan.

Alhasil, tahun 2020 adalah vivere pericoloso, tahun hidup dalam bahaya, tetapi bukan berarti semua orang yang menghadapi bahaya itu kalah dan menderita. Mendung tidak selalu berarti hujan, dan langit cerah bukan berarti takkan terjadi hujan. Hujan tidak selalu berarti gundah. Hujan kadang terasa romantis dan indah. Covid-19 pada 2020 telah menguji kita, apakah kita menjadi lebih baik dan bijak, atau lebih buruk dan jahat. (*)

Editor: Eka Dinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved