Breaking News:

Jendela

Hidup dan Tafsiran Kita

Manusia memiliki akal dan imajinasi untuk memberi makna terhadap kenyataan

istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Oleh Mujiburrahman, Rektor UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - Suatu hari hujan mulai turun dan Nasruddin Hoja memandangi air yang jatuh dari langit itu melalui jendela rumahnya. Tak lama kemudian dia melihat seorang tetangganya tengah berlari tergopoh-gopoh. “Hei, kenapa kau berlari dari air hujan? Bukankah hujan itu rahmat Tuhan?” Mendengar ucapan Nasruddin, si tetangga itu pun melambatkan langkahnya, hingga ia basah kuyup.

Sehari berikutnya, justru Nasruddin yang terkena hujan. Ia pun berlari-lari ingin segera tiba di rumah. Si tetangga tadi melihatnya dan berkata, “Hei, apakah kamu lupa dengan perkataanmu kemarin?” Mendengar ucapan tetangganya itu, alih-alih melambat, Nasruddin malah berlari makin kencang. “Aku berlari karena aku tidak ingin menginjak-injak rahmat Tuhan,” katanya.

Karena saat ini musim hujan, mungkin anekdot Nasruddin di atas cukup menghibur. Hujan dan panas adalah tingkah alam, yang datang silih berganti sesuai pergantian musim. Peristiwa alam itu adalah sesuatu yang biasa sebagaimana adanya. Hujan adalah hujan. Tak lebih dan tak kurang. Yang membuat hujan berbeda adalah akibat yang ditimbulkannya dan tanggapan manusia terhadapnya. Hujan bisa indah atau gundah tergantung manusia memaknainya dan menafsirkannya.

Manusia memiliki akal dan imajinasi untuk memberi makna terhadap kenyataan. Makna adalah arti, maksud atau tujuan yang dihadirkan melalui simbol atau tanda. Menurut Alqur’an, Adam sebagai manusia pertama menjadi lebih istimewa dari malaikat karena Tuhan mengajarinya nama-nama segala sesuatu. Nama adalah simbol bagi yang dinamai. Simbol itu mengandung makna. Simbol dan makna saling terikat. Tanpa makna, simbol tak berguna. Tanpa simbol, makna tak dapat dihadirkan.

Saya menulis kata-kata ini, dengan huruf-huruf sebagai simbol untuk menyampaikan makna tertentu kepada Anda. Saya juga bisa menyampaikannya secara lisan, dengan simbol berupa bunyi suara tertentu, sehingga orang yang mendengar dapat memahami maksud saya. Selain kalimat-kalimat dalam kitab suci, alam semesta dan seluruh makhluk di dalamnya juga adalah simbol-simbol, yang dalam Alqur’an disebut âyât. Tugas kita adalah mengkaji dan memahami simbol-simbol itu.

Salah satu kalimat Pramoedya Ananta Toer (Pram) yang sering dikutip orang dari novelnya Rumah Kaca adalah: “Hidup sungguh sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsirannya.” Hidup memang sederhana jika kita melihatnya laksana hujan tanpa dimaknai dan ditafsirkan. Tetapi hal itu tidak mungkin, terutama jika hujan itu mendatangkan banjir dan rumah kita tergenang. Kita adalah makhluk pemburu makna, dan hidup tanpa makna adalah hidup yang hampa dan muspra.

Menurut seorang kawan, selama masa pandemi ini, buku-buku motivasi (self-help) laku di pasaran. Buku-buku itu umumnya mengajarkan bagaimana kita menata pikiran agar tidak galau dan mampu memaknai kesulitan hidup. Terimalah dengan ikhlas kenyataan sebagaimana adanya. Bersabarlah atas musibah, nanti pasti ada hikmahnya. Puaslah dan bersyukurlah dengan apa yang ada. Cara kita menyikapi musibah lebih berpengaruh atas bahagia-derita kita daripada musibah itu sendiri.

Namun, mungkin pula maksud ungkapan Pram di atas lebih dekat kepada pandangan kaum sosialis. Karl Marx sering dikutip mengatakan, “Para filosof hanyalah menafsirkan dunia dengan berbagai cara; padahal masalah pokoknya adalah, bagaimana mengubahnya.” Ketika orang sibuk memaknai suatu peristiwa yang buruk, ia mungkin saja lupa bagaimana mengubah keadaan menjadi lebih baik. Pencarian makna yang berlebihan bisa membuat orang lari dari kenyataan dan tanggungjawab.

Memang, bagi kaum neo-liberal, hidup terutama adalah tanggungjawab pribadi. Jika kau menderita, kau sendiri yang salah, jangan salahkan orang lain, masyarakat atau negara. Buku-buku motivasi, sadar atau tidak, sejalan dengan neo-liberalisme. Ruth Whippman yang mengkritik psikologi positif dalam America the Anxious (2016) menyatakan, neo-liberalisme telah membuat warga Amerika Serikat terobsesi mengejar bahagia yang bersifat pribadi, dan suka membeli buku-buku motivasi.

Apakah tafsir liberal tak bertemu dengan tafsir sosialis? Tidak mesti. Konon penanggalan 2021 persis sama dengan 1971, tahun kelahiran saya. Apakah ini berarti 2021 adalah tahun keberuntungan saya? Entahlah. Ini adalah tafsiran, yang mungkin membuat saya optimistis, tetapi tidak berarti bahwa saya mengabaikan keluarga dan masyarakat, atau menganggap negara bisa bebas dari tanggungjawab mengatasi krisis Covid-19. Bagaimanapun, saya adalah bagian dari keluarga, masyarakat dan negara.

Alhasil, sebagaimana hujan, pergantian tahun adalah peristiwa biasa. Namun, sebagai manusia kita berusaha memaknainya karena kualitas hidup kita antara lain ditentukan oleh tafsiran kita terhadap berbagai peristiwa yang kita alami. (*)

Editor: Eka Dinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved