Ekonomi dan Bisnis
Puncak Kenaikan Harga, Karet Kalsel Tembus Rp 19.500 Per Kilogram
petani karet di Kalsel pada Oktober lalu kembali merasakan puncak kenaikan harga karet yang mencapai Rp 19.500 per kilogram.
Penulis: Nurholis Huda | Editor: Hari Widodo
Editor : Hari Widodo
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Harga karet di Kalimantan Selatan (Kalsel) mengalami kenaikan, seiring dengan membaiknya permintaan ekspor sejak pemberlakuan new normal.
Diberlakukannya New Normal menjadi secercah harapan untuk kembali bergerak dan bangkit, termasuk bagi petani yang juga terdampak.
Sama halnya dengan sektor lain pada umumnya, petani juga mengalami fluktuasi turun naik harga yang terkait dengan pandemi dan perang dagang di ranah global.
Seperti para petani karet di Kalsel pada Oktober lalu kembali merasakan puncak kenaikan harga karet yang mencapai Rp 19.500 per kilogram.
Baca juga: Kambing Etawa dan Hutan Karet di Tempat Wisata Puncak Harapan Kabupaten Tapin
Baca juga: Tingkatkan Kualitas Karet, UPPB di Tabalong Dapat Mesin Pembuat Asap Cair
Baca juga: Beberapa Kali Pindah, Pasar Karet Rakyat di Kelurahan Agung Tabalong hingga Kini Terus Berjalan
Nah, mengawali tahun pada Januari 2021, ini berdasar data dari Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalimantan Selatan, per tanggal 7 Januari, harga karet pabrikan dengan K3 100 persen mencapai Rp 19.000 hingga 19.500 per kilogram.
Untuk harga Karet stok gudang 15 hari dengan K3 62 sampai 65 persen harganya Rp 12.000 sampai Rp 12.500.
Harga Karet kering 3-7 hari dengan K3 hingga 58 persen harganya Rl 10.700 hingga Rp 11.200.
Adapun harga karet basah panen dari petani di Pabrikan dengan kadar 53-55 persen dihargai Rp 10.000 sampai Rp 10.600.
Terakhir karet basah dri petani baru panen dengan kadar 43-45 persen dihargai Rp 8.500 sampai Rp 9000.
Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan (Kadisbunak) Provinsi Kalsel, Hj Suparmi, menjelaskan saat ini harga karet sudah normal, dimulai sejak Agustus dan September hingga Januari ini stabil.
"Pada awal maret untuk petani karet sempat anjlok, untuk harga karet Rp 5000 per kilogram bokar, hal ini disebabkan Cina menghentikan impor karet sehingga harganya pun berada di level sangat rendah," ujarnya.
Kemarin, para petani sedang di puncak kenaikan harga karet pada akhir tahun 2020 yakni tembus diatas Rp 20.000 per kilogram untuk kadar karet kering atau K3 100 persen.
Sedangkan K3 yang dihasilkan UPPB (Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar) rata-rata maksimal sampai 70 persen dengan harga tertinggi menyentuh harga Rp 14.000.
Hal ini sesuai dengan arahan Gubernur Kalimantan Selatan, Sahbirin Noor untuk mendorong peningkatan kesejahteraan petani karet.
Salah satu penyebab kenaikan karena Cina sebagai negara tujuan ekspor terbesar mulai berhasil mengendalikan Covid-19 dan memulihkan perekonomiannya.
Saat anjloknya harga karet, pabrik karet masih buka meski dengan sistem buka-tutup atau sehari melakukan pembelian karet ke petani, sehari tidak. Upaya ini dilakulan supaya petani karet jangan sampai tidak laku karetnya.
"Meski harganya turun, karet masih bisa dijual untuk keberlangsungan kehidupan petani dan Alhamdulillah himbauan untuk tidak menutup pabrik, dipatuhi oleh perusahaan dibawah GAPKINDO Kalselteng," jelasnya.
Suparmi mengatakan, meski pandemi Covid-19 belum berakhir, tetapi ekonomi harus tetap berjalan. Artinya, Kalsel harus mengendalikan pandemi sekaligus membangkitkan ekonomi.
"Sub sektor perkebunan termasuk yang stabil khususnya pertanian secara umum, termasuk perkebunan dan peternakan, meskipun ada turun naik tetapi jalan terus," urainya.
Perlu diketahui karet merupakan komoditas perkebunan unggulan Kalsel selain kelapa sawit.
Jumlah luas areal karet di Kalsel saat ini mencapai 270.825 hektar dengan produksi karet 194.930 kilogram/tahun dan produktivitas sebesar 1.031 kilogram/tahun.
Baca juga: Sidang Tera Dilaksanakan di Pasar Karet Rakyat di Tabalong, Timbangan Rusak Langsung Diperbaiki
"Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melalui Disbunak terus mendorong peningkatan produksi dan produktivitas melalui kegiatan peremajaan karet dengan dana dari APBN, APBD provinsi dan kabupaten sentra karet. Tahun 2021, kegiatan kami selain peremajaan, juga mendorong pengolahan dan pemasaran melalui pembentukan UPPB," jelasnya.
Pembentukan UPPB ditargetkan mencapai 650 unit se-Kalsel pada 2024. Kemuduan pada 2021, ditargetkan terbentuk 100 UPPB. Saat ini, sudah terbentuk 151 UPPB di Kalsel.
(banjarmasinpost.co.id /nurholis huda)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/disbunak-kalimantan-selatan-hj-suparmi.jpg)