Breaking News:

Berita Bisnis

Banyak Koperasi di Kalsel Terancam Tutup, ini Permasalahannya

tidak semua koperasi berhasil dalam usahanya, karena banyak pula yang tidak bisa berkembang bahkan terancam tutup, contohnya di Kalsel.

banjarmasinpost.co.id/salmah
H Gusti Mahfudz, pengamat ekonomi Kalsel 

Editor: Eka Dinayanti

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Koperasi merupakan soko guru perekonomian Indonesia.

Namun tidak semua koperasi berhasil dalam usahanya, karena banyak pula yang tidak bisa berkembang bahkan terancam tutup, contohnya di Kalsel.

Sebagaimana dikatakan pengamat ekonomi Kalsel, H Gusti Mahfudz, cukup banyak koperasi di Kalsel yang ingin tutup, dan masalahnya itu ada pada anggotanya sendiri.

"Koperasi dimaksud adalah koperasi yang umum di masyarakat, bahwa sekitar 60 persen kondisinya ingin tutup karena tidak bisa berkembang, disebabkan banyak pinjaman macet," ungkap Mahfudz yang juga Ketua Koperasi Jasa Keuangan Syariah Teladan, Banjarmasin.

Baca juga: Firasat Buruk Tetangga Berujung Penemuan Mayat Warga Purnasakti Banjarmasin

Baca juga: Polisi Masih Temukan Pelanggar di Giat Lanjutan Operasi Yustisi 2021 Polsek Banjarmasin Selatan

Baca juga: Operasi Yustisi Protokol Kesehatan di Pasar Jangkung Tabalong, Lima Warga Kedapatan tak Bermasker

Fenomenanya anggota yang pinjam uang di koperasi tidak bisa bayar, bahkan hingga bertahun-tahun, jadi koperasi tak bisa memutar dana.

"Walau kesulitan beroperasi namun rata-rata pengurus tak mau membubarkan koperasinya. Ya, kalau bubar bagaimana menagih pinjaman macet anggota?" tukasnya.

Salah satu kemudahan koperasi adalah pinjaman tanpa jaminan.

Jaminan tak dipentingkan tapi hanya kepercayaan, namun kenyataannya banyak pinjaman anggota tak bisa ditagih.

"Berbeda kondisinya dengan koperasi khusus yang ada diperkantoran pemerintahan dan perusahaan swasta, karena pinjaman anggota itu terbayar lewat pemotongan gaji," tandasnya.

Adapun pemerintah juga tak bisa banyak menolong koperasi umum di masyarakat, kalau pun diberi bantuan dana, maka sebentar saja habis.

"Perbankan membantu, juga sulit, karena kondisi sekarang. Apalagi banyak pula pinjaman pihak koperasi dan masyarakat yang macet, ini karena pendapatan masyarakat sedang turun," beber Mahfudz.

Mahfudz menilai, kebijakan zaman Presiden Gus Dur dan SBY bisa dicontoh, memberi bantuan tunai kepada masyarakat yang terdampak ekonomi, walau bantuan hanya sementara namun itu dapat memicu pergerakan ekonomi.

"Selain itu dalam teori ekonomi, perlunya inventasi di daerah agar ada usaha yang menyerap banyak tenaga kerja manusia. Masyarakat punya pendapatan, mereka bisa belanja dan bergeraklah ekonomi," pungkas Mahfudz.

(banjarmasinpost.co.id/salmah saurin)

Penulis: Salmah
Editor: Eka Dinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved