Breaking News:

Jendela

Menjadi Manusia Saat Bencana

Menurut berbagai survei, bangsa Indonesia memang berada di urutan sangat atas dalam hal suka berderma

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - SALAH satu yang menggetarkan hati selama musibah banjir yang menimpa Banua kita adalah betapa banyak bantuan yang mengalir dari berbagai penjuru mata angin. Bantuan itu mencakup logistik, obat-obatan, layanan kesehatan, perbaikan bangunan hingga tenaga dan pikiran yang dicurahkan para relawan.

Menurut berbagai survei, bangsa Indonesia memang berada di urutan sangat atas dalam hal suka berderma. Ini suatu keistimewaan yang patut dibanggakan. Dalam keadaan normal saja, orang Indonesia suka memberi dan berbagi, apalagi dalam keadaan darurat dan musibah. Sejalan dengan hal ini, banyak pula orang yang suka menjadi relawan, membantu menyelamatkan orang-orang yang terkena bencana. Kadangkala para relawan itu mempertaruhkan keselamatan diri mereka sendiri.

Gerakan Anak Muda NU

Banjir, Aksi dan Refleksi

Para pemikir modern banyak yang percaya bahwa tindakan manusia, termasuk dalam berbagi dan kerelaan mengorbankan diri untuk orang lain, semata-mata bentuk lain dari kepentingan pribadi belaka. Artinya, manusia pada dasarnya egois, mementingkan diri sendiri. Jika dia membantu orang lain, tak lain adalah karena orang lain itu bagian dari egonya. Karena itu, katanya, orang akan mengutamakan membantu anaknya, keluarganya, tetangganya, dan orang-orang yang dikenalnya.

Teori kepentingan pribadi di atas memang dapat menjelaskan sebagian perilaku manusia, termasuk tindakan memberi dan berkorban. Misalnya, saya memberi dengan harapan kelak akan mendapat balasan, di dunia atau di akhirat. Saya menolong keluarga saya, teman-teman saya, murid-murid saya, karena saya adalah bagian dari mereka. Suka duka mereka adalah juga suka duka saya. Saya juga membagikan foto dan berita tentang sumbangan saya, agar saya diakui sebagai orang baik.

ANTARA SABAR, SAINS DAN DOA

Namun, apakah semua orang yang berderma dan membantu orang lain berpikiran demikian? Saya kira tidak. Sangat mungkin, Anda membantu orang-orang terdekat karena mereka berada dalam tanggungjawab Anda. Tindakan Anda menolong mereka bukan lahir dari kepentingan diri melainkan karena kewajiban moral. Anda berfoto saat memberikan sumbangan bukan karena ingin pamer, melainkan sekadar bukti bahwa sumbangan para dermawan telah sampai kepada para penerima.

Selain itu, teori kepentingan pribadi juga sulit menjelaskan sikap orang yang secara spontan terjun membantu menyelamatkan orang lain yang tak dikenalnya, yang tengah menghadapi bahaya. Jika Anda melihat seseorang mengalami kecelakaan di jalan, secara alamiah Anda tidak akan bertanya dulu, siapa orang itu. Yang Anda lakukan adalah segera menolongnya. Jelas dalam tindakan Anda itu tidak ada kepentingan pribadi. Anda ingin menolong korban hanya karena rasa kemanusiaan.

Demikianlah, musibah dan bencana dapat memicu kesadaran kemanusiaan universal dalam diri kita. Dalam kerangka kesadaran inilah, manusia bukan hanya makhluk yang bertindak berdasarkan hitungan rasional untung-rugi, tetapi juga makhluk yang memiliki emosi dan empati. Manusia tidak hanya mampu memikirkan dan merasakan dirinya sendiri, tetapi juga mampu membayangkan dirinya berada pada posisi orang lain, yakni menangkap pikiran dan perasaan orang lain itu.

Suatu hari, saya berbincang dengan tetangga perihal banjir yang telah kami alami. Ada banyak kisah tentang toilet yang tak bisa dipakai karena terendam air banjir. Ada yang mengungsi ke masjid atau ke rumah keluarga. Ada banyak lemari dan meja yang terbuat dari serbuk kayu sehingga bengkak dan ambruk akibat terendam air. “Tetapi yang kita alami di Banjarmasin jauh lebih ringan dibanding bencana yang menimpa saudara-saudara kita di HST dan Banjar. Rumah mereka tenggelam bahkan lenyap bersama longsor,” kata seorang Bapak.

Ungkapan si Bapak di atas menunjukkan bahwa musibah tidak hanya perlu disikapi dengan sabar, tetapi juga dengan syukur. Bersyukur adalah bergembira dengan kenyataan hidup sebagaimana adanya. Rasa syukur itu antara lain bangkit ketika kita mampu melihat ke bawah, kepada orang yang lebih menderita dari kita. Bersyukur saat ditimpa musibah berarti menyadari akan keterbatasan diri sekaligus mengakui bahwa masih banyak nikmat Allah yang diterima dalam keterbatasan itu.

Alhasil, dalam dunia kiwari yang sangat kompetitif, yang diperburuk oleh rasisme dan sektarianisme, kita tentu berharap bencana kali ini benar-benar membangkitkan kesadaran kemanusiaan universal. Dalam dunia yang penuh kesombongan dan keserakahan, kita juga berharap bencana bisa membuat orang sadar akan keterbatasan diri sekaligus mensyukuri hidup yang terbatas itu. Kita tentu tak mau, bencana justru menyuburkan kepentingan pribadi yang tersembunyi di balik aksi kedermawanan. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved