Breaking News:

Tajuk

Sekali Gebrakan

Kerusakan akibat bencana banjir yang melanda di wilayah Kalsel kerugian ditaksir mencapai Rp 1,349 triliun.

Editor: Eka Dinayanti

BANJARMASINPOST.CO.ID - BENCANA banjir melanda 11 dari 13 kabupaten/kota di Kalimantan Selatan (Kalsel) lebih dari sebulan sudah mengubah wajah Bumi Antasari. Sejumlah wilayah mengalami kerusakan cukup parah seperti jalan utama, jambatan, sekolah, tempat ibadah, perkantoran, pasar dan lainnya.

Bahkan di beberapa tempat seperti Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) ratusan rumah penduduk rata dengan tanah akibat dihantam banjir bandang yang datang secara tiba-tiba. Puluhan jiwa pun melayang akibat tak sempat menyelamatkan diri dari bencana paling parah di Kalsel ini.

Kerusakan akibat bencana banjir yang melanda di wilayah Kalsel kerugian ditaksir mencapai Rp 1,349 triliun. Jumlah sebanyak ini menurut perkiraan Tim Reaksi Cepat Pusat Teknologi Pengembangan Sumber Daya Wilayah Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Melihat kerusakan fisik yang terjadi akibat bencana ini apa yang harus dilakukan oleh pemerintah, organisasi masyarakat bahkan masyarakat sendiri. Apakah orang di Kalsel hanya diam saja menanti bantuan dari pemerintah pusat atau melakukan hal bermanfaat untuk mencoba memperbaiki kerusakan?

Kalau dana dari pemerintah pusat mungkin bisa diperoleh, karena Presiden Joko Widodo (Jokowi) serius menyuruh Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk menangani dampak kerugian akibat bencana ini.

Memang tanpa dana sekitar Rp 1,3 triliun kelihatannya untuk memperbaiki kerusakan akibat banjir ini tak mungkin bisa.

Namun perlu kita sikapi secara arif, dana hanya bisa memperbaiki sementara saja dari kerusakan alam yang terjadi saat ini. Kalau terjadi lagi bencana alam seperti ini di tahun-tahun ke depan, apakah kita harus merasakan lagi kerusakan hebat seperti yang terjadi di awal 2021 ini?

Karena seperti kita ketahui, bencana banjir yang terjadi nyaris merata di wilayah Kalsel seluas 38.744 km per segi ini bukan semata-mata karena curah hujan yang ekstrem.

Melainkan karena sejumlah faktor lain yang menjadi penyebab sehingga banjir begitu merugikan. Salah satunya kerusakan ekosistem alami di daerah hulu yang sebenarnya berfungsi sebagai tangkapan air, sehingga menyebabkan kelebihan air di daerah hilir yang membawa banjir besar.

Untuk banjir di perkotaan seperti di Banjarmasin, penyebabnya utamanya karena hilangnya tempat-tempat resapan air akibat pembangunan dengan cara diurug atau ditumbun yang bagitu masif terjadi dalam 10 tahun terakhir ini. Seharusnya dengan cara rumah panggung, sehingga daerah resapan air tidak hilang dan pembangunan tetap jalan.

Selain itu, melihat bencana banjir yang terus berulang di Kalsel, diharapkan pemerintah daerah dan pemerintah pusat untuk mulai tanggap terhadap bencana baik sebelum, sesaat, dan sesudah bencana.

Tidak itu saja, pemerintah juga harus melihat kembali (mereview) kembali pemberian izin industri ekstraktif, menyetop izin baru pembukaan lahan baik untuk perkebunan sawit maupun segala jenis pertambangan.

Dengan cara begitu, mengatasi parahnya dampak akibat bencana alam bisa dilakukan dalam sekali gerakan, sehingga meski bencana banjir datang berulang tidak akan membawa kerugian fisik yang parah. Dan dana besar untuk memperbaiki kerusakan fisik seperti jalan, jembatan dan fasilitas umum lainnya bisa dialihkan untuk keperluan yang lebih mendesak lainnya. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved