Breaking News:

Berita HST

Banjir Bandang HST Kalsel, Tanda Bekas Ketinggian Air Tertinggal di Dinding Rumah

Air yang merendam selama empat hari hingga sepekan, membuat banjir di HST meninggalkan bekas di dinding rumah warga

Penulis: Hanani | Editor: Hari Widodo
banjarmasinpost.co.id/hanani
Ketinggian air di Jalan SMP Kompleks Kodim, Barabai ditunjukkan warga lewat bekas tanda bidai gantung yang terendam ini, Sabtu (13/2/2021). 

Editor : Hari Widodo

BANJARMASINPOST.CO.ID, KANDANGAN - Banjir bandang di wilayah Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) membuat sejumlah rumah warga hanyut terbawa arus deras.

Sebagian mengalami rusak parah, sedang dan ringan.

Juga merusak perabotan rumah serta pakaian yang tak sempat diselamatkan, Khusus di Kota Barabai, ibu kota kabupaten, air bah tak serta merta surut, tapi merendam rumah selama empat hari sampai satu minggu. 

Lamanya air masuk rumah, menimbulkan bekas ketinggian air yang bisa dilihat dari bagian dinding, pintu maupun jendela rumah.

Baca juga: Suaminya Tewas Disapu Banjir Bandang di HST, Salimah Terharu Anaknya Dapat Tawaran Kerja

Baca juga: VIDEO Pasca Banjir Bandang, Sungai Hantakan Masih Bercampur Lumpur, Warga Perlu Pasokan Air Bersih

Baca juga: Dahsyatnya Banjir Bandang di HST, Dinding Beton SDN Bulayak Hancur Berkeping-Keping

Meri, warga Jalan SMP Kompleks Kodim Barabai mengatakan, telah mengukur ketinggian air di sekitar rumahnya berdasarkan bekas lumpur yang masih menempel di tirai bidai yang digantug di teras rumahnya. 

“Setelah diukur ketinggian air sekitar 175 sentimeter,”kata Meri yang saat banjir sempat bertahan hampir dua hari di atas loteng jemuran di rumahnya, karena kawasan tempat tinggalnya itu sulit ditembus relawan.

Sementara, Hj Ruhana, Jalan PH M Noor mengatakan, ketinggian air di sekitar rumahnya setinggi dada orang dewasa atau sekitar 1,5 meter.

“Kalau dalam rumah sekitar satu meter. Ada bekasnya di daun pintu,”katanya. 

Baca juga: Cerita Warga Batu Benawa Kabupaten HST Lolos dari Maut Saat Banjir Bandang

Tanda itu sulit hilang karena merupakan bekas air bercampur lumpur, longsorang tanah dari bagian hulu Pegunungan Meratus di Kecamatan Hantakan.

“Kecuali dicat, baru bisa hilang. Jadi kalau ada yang nanya setinggi apa banjir bandang yang melanda kawasan sekitar kami,  cukup melihat bekas kenangan yang ditinggalkan ini,”kata Ruhana. (banjarmasinpost.co.id/hanani) 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved