Breaking News:

Jendela

Karakter dan Habitus Kita

Sudah setahun Covid-19 mengancam hidup kita, dan di Indonesia sudah lebih dari satu juta orang yang terkena

istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Oleh Mujiburrahman, Rektor UIN Antasari Banjarmasin

Editor: Eka Dinayanti

BANJARMASINPOST.CO.ID - Suatu hari, seorang birokrat berkunjung ke kantor saya. Dia tampaknya orang ‘baik-baik’, tetapi sulit menghadapi lingkungan yang mencengkeramnya. “Sebenarnya, masalah kita ini sederhana. Biasakanlah yang benar. Jangan membenarkan yang biasa,” katanya.

Sesuatu yang biasa, menurut KBBI adalah sesuatu yang “umum, lazim, seperti sediakala, sebagai yang sudah-sudah, sudah merupakan hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, sudah menjadi adat atau sudah sering kali.” Masalah muncul jika yang biasa itu ternyata menyimpang, salah, melanggar peraturan, hukum dan moral. Namun karena sudah begitu kebiasaannya, maka kita pun membenarkannya, yakni mengakui, menyetujui, mengizinkan atau meluluskannya.

Sebaliknya, membiasakan yang benar adalah upaya melazimkan yang benar atau terbiasa dengan sesuatu yang benar. Membiasakan yang benar adalah juga membenarkan dalam arti meluruskan, membetulkan atau memperbaiki sesuatu. Membiasakan yang benar menuntut keberanian melawan arus, karena ia berusaha mengubah praktik-praktik yang sudah lama berurat dan berakar. Pelakunya tidak cukup hanya orang baik (shâlih), tetapi juga orang yang ingin memperbaiki (mushlih).

Pada umumnya, kita suka kepada orang baik yang jujur, ramah dan pekerja keras. Namun, ketika orang baik itu berusaha memperbaiki sesuatu demi kepentingan orang banyak, kita segera menjadi pembencinya, terutama jika ia mengganggu kepentingan pribadi kita. Sebaliknya, kita cenderung dapat menyukai orang yang mementingkan dirinya sendiri, asalkan kepentingan kita diikutsertakan oleh orang itu, meskipun pada saat yang sama kita merugikan kepentingan orang banyak.

Dengan demikian, membiasakan yang benar tidak akan berjalan mulus tanpa pelaku yang memiliki komitmen kepada yang benar. Pelaku itu adalah orang baik yang ingin memperbaiki. Selain itu, ‘membiasakan’ juga menunjukkan proses yang harus dilewati, agar yang benar itu lambat laun menjadi kebiasaan. Mungkin di sini kita bisa mengikuti teori yang mengatakan bahwa karakter atau akhlak adalah buah dari pembiasaan, sedangkan pembiasaan berasal dari pikiran yang dipraktikkan.

Marilah kita perhatikan berbagai perilaku kita. Sudah setahun Covid-19 mengancam hidup kita, dan di Indonesia sudah lebih dari satu juta orang yang terkena. Namun, apakah kita benar-benar mau sadar akan bahayanya sehingga menaati protokol kesehatan? Sebagian masyarakat memang taat memakai masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mencuci tangan, tetapi sebagian (besar?) lagi tetap tidak peduli. Mereka yang bandel ini jelas tidak mau berubah dari kebiasaan lama.

Kini banyak daerah terkena banjir, dan minggu ini ‘giliran’ Jadetabek. Banjir bukanlah bencana sepele. Ia dapat menimbulkan banyak kerugian harta dan kehilangan nyawa. Kita juga tahu bahwa penyebab banjir selain cuaca ekstrem adalah sampah, saluran air yang mampet dan perusakan hutan. Namun, setelah air mengering, kita kembali membuang sampah sembarangan, membiarkan saluran air tidak terurus dan merusak alam, karena semua ini sudah menjadi kebiasaan kita.

Setiap Aparatur Sipil Negara (ASN) wajib datang ke kantor dan pulang sesuai jam kerja. Sebagian ASN itu rajin bekerja sesuai jadwal, tetapi sebagian lagi tidak. Alat elektronik perekam daftar hadir pun diakalinya. Pagi-pagi dia datang ‘melapor’ ke alat itu, kemudian pulang ke rumah. Nanti sore dia kembali lagi menghadap alat itu. Di masa Covid-19, ketika sebagian ASN diminta bekerja dari rumah, orang-orang yang malas itu tambah malas. Kebiasaan lama justru diperkuat oleh keadaan baru.

Pada masa Orde Baru, banyak ASN mengeluh tentang gaji mereka yang rendah. Karena itu, sebagian mereka mencari tambahan di luar gaji melalui kegiatan di dalam dan luar kantor. Namun, ketika gaji ASN dinaikkan, bahkan diberi berbagai tunjangan, kebiasaan mencari tambahan itu tidak berubah. Meskipun sudah menjadi tugas pokok dan fungsinya, sebagian ASN itu tetap malas bekerja jika tidak ada tambahan di luar gaji rutin. Kenaikan gaji tidak meningkatkan kinerja karena kebiasaan lama.

Entah sudah berapa dasawarsa, kita hampir tak pernah lagi mendengar sekolah atau madrasah yang tidak meluluskan siswanya seratus persen. Bahkan sebodoh dan senakal apa pun seorang siswa, dia tetap naik kelas. Lulus semua atau naik kelas semua itu sudah biasa. Akibatnya, ketika ada ujian yang bisa membuat siswa tidak lulus, kita stres semua. Kelak saat si anak kuliah, pikirannya sudah terbentuk demikian sehingga ketika ada dosen yang tidak meluluskannya, dia tidak bisa menerima.

Alhasil, banyak sekali perilaku kita yang membenarkan yang biasa, bukan membiasakan yang benar. Padahal, seperti kata pepatah: alah bisa karena biasa. Sesuatu yang sulit, baik atau buruk, jika sering dikerjakan, akan menjadi mudah. Ketika kita sudah terbiasa melakukan sesuatu, maka ia akan menjadi karakter kita, habitus kita, yang pada gilirannya menentukan nasib kita dan anak cucu kita. (*)

Editor: Eka Dinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved