Breaking News:

Berita Tanahlaut

Bingung Kehabisan Elpiji Pink, Pemilik Rumah Makan di Pelaihari Ini Terpaksa Matikan Satu Kompor

Kosongnya elpiji pink membuat kalangan pemilik rumah makan di Tanahlaut bingung. Mereka mengharapkan solusi dari pemerintah

banjarmasinpost.co.id/idda royani
SERET - Pekerja rumah makan ayam penyet Apollo, Pelaihari, sibuk beraktivitas menyiapkan menu. Aktivitas mereka terbatas karena satu kompor mati karena kehabisan gas, Kamis (23/2/2021). 

Editor : Hari Widodo
 
BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - Seretnya ketersediaan lElpiji kemasan 5,5 kilogram  atau elpiji pink di Kota Pelaihari, Kabupaten Tanahlaut (Tala), Kalimantan Selatan (Kalsel), mulai dirasakan dampakmya oleh kalangan pelaku usaha.

Terutama mereka yang tiap saat menggunakan elpiji nonsubsidi tersebut seperti pemilik rumah makan. Pasalnya, sejak benerapa hari lalu mereka belum mendapat pasokan baru, padahal isi tabung kini mulai kritis atau hampir habis.

"Ini saya sudah dua hari mematikan satu kompor karena tabung elpiji pink-nya sudah habis isi gasnya," ucap Hanif Abdi, pemilik RM Apollo di kawasan Jalan KH Mansyur, Pelaihari, Kamis (25/2/2021).

Pantauan banjarmasinpost.co.id, kompor di rumah makan ayam penyet di tepi ruas jalan protokol tersebut tersisa tiga unit yang nyala.

Baca juga: Gas Elpiji Pink di Tala Langka, Pengecer Sarankan Pemkab Tala Minta Tambahan Pasokan ke Pertamina

Baca juga: Harga Elpiji Pink Kian Naik, Pemasok ke Rumah Makan di Tala Tak Berani Beli

Itu pun isi tabungnya tak penuh lagi. Bahkan satu tabung isinya hampir habis, telah berada pada garis merah dan nyaris menyentuh sisi tepi. Cuma satu tabung yang isinya masih banyak.

Hanif yang juga pemilik rumah makan penyet di Desa Panggung di samping kantor Samsat Pelaihari tersebut mengaku bingung jika tak segera mendapatkan pasokan elpiji pink. Selama ini dirinya dipasok oleh jasa pemasok elpiji.

"Sudah bolak balik saya tanya kepada pemasok, namun belum ada kepastian kapan karena barangnya kosong," tandasnya.

Dalam kondisi normal di rumah makannya ada delapan tabung. Empat tabung digunakan untuk menghidupkan empat unit kompor dan empat tabung lainnya untuk cadangan.

Sejak sekitar lima hari lalu, empat tabung cadangannya telah habis. Lalu, empat tabung lainnya yang ia gunakan saat ini juga mulai menipis isinya dan bahkan satu tabung telah habis sejak dua hari lalu. 

Ia berharap pemerintah mengatasi seretnya pasokan elpiji pink agar tak memunculkan gejolak di tengah masyarakat.

"Saat kemarin pemerintah daerah melakukan konversi, kami kan langsung nurut semula pakai yang melon (elpiji subsidi 3 kilogram) ke pink. Jadi, harapannya supaya jangan susah kayak sekarang nyari elpiji pink-nya," tandasnya.

Baca juga: Taati Imbauan Pemkab Tala, Pemasok Elpiji Rumah Makan ini Langsung Konversi ke Elpiji Pink

Jika dalam beberapa hari ke depan pasokan elpiji pink tetap nihil, ia mengaku sangat bingung harus berbuat apa. Pasalnya jika kembali menggunakan elpiji melon pasti dirazia oleh Satpol PP. Tapi jika tak ada elpiji, tentu usaha akan terhenti.

"Jadi, tolong solusinya dari pemerintah. Tolong ketersediaan elpiji pink dijamin kecukupannya," harapnya. (Banjarmasinpost.co.id/idda royani)

Penulis: Idda Royani
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved