Breaking News:

Berita HST

Tiga Jembatan Putus Diterjang Banjir HST, Petani  Karet Kini Kesulitan Mencari Nafkah

Petani karet di HST kesulitan mencari nafkah. Banjir bandang yang menerjang membuat tiga jembatan yang menjadi akses ke kebun karet dan sawah putus.

banjarmasinpost.co.id/hanani
Pasca putusnya jembatan penghubung Desa Baru dengan Batutunggal akibat banjir bandang 14 Januari 2021 lalu, fasilitas menyeberang sungai ke kebun karet dan swah warga hanya ada perahu karet dan rakit banmbu. 

Editor : Hari Widodo

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Sejak tiga jembatan gantung yang menghubungkan Desa Baru Waki ke Desa Batutunggal Kecamatan Batubanewa, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalsel putus petani korban banjir kini kesulitan mencari nafkah.

Mayoritas warga Desa Baru memiliki kebun karet dan sawah termpat bercocok tanam di Desa Batutunggal.

Kedua desa tersebut terpisahkan sungai yang cukup lebar, dan selama ini tidak ada jembatan darurat yang dibangun, karena arus sungai cukup kuat ketika ketinggian air meningkat.

Sebagai fasilitas menyeberang, hanya ada bantuan satu perahu karet kecil dari BNPP dan rakit bambu  serta tali nilon yang dibentangkan sebagai tempat pegangan saat memakai rakit atau perahu karet.

Baca juga: Warga Haur Gading Kabupaten HSU Bakal Bongkar Total Rangka Jembatan Putus

Baca juga: Jembatan Putus, Ruas Jalan Desa Tanah Habang Banjar Alternatif Menuju Hulu Sungai dan Banjarmasin

Akhmad Sanusi, warga Desa Baru yang kini tinggal di rumah hunian sementara menyatakan tak lagi menyadap karet sebagai pekerjaan utama,  karena sulit menyeberang ke kebun karet.

“Biasanya tiap pagi saya menyadap karet lewat jembatan gantung. Sorenya mengajar anak-anak mengaji  di TPA. Menyeberang pakai rakit atau perahu karet, rawan terbalik,”ungkapnya.

Sanusipun kini hanya mengandalkan gajinya sebagai guru ngaji di TPA  Rp 100 ribu per bulan, yang dibayar per tiga bulan.

Sekalipun bisa menyadap dengan menyeberang pakai perahu, dia tak bisa mengangkut hasil karet.

Sepeda motor yang digunakan ke kebun karet hanyut terbawa arus air. Sampai sekarang , belum ditemukan.

“Semoga saja pemerintah segera membangunkan kembali jembatan penghubung desa kami dengan kebun karet dan sawah. Sebab, hampir 100 persen sawah dan kebun warga ada di seberang,”katanya.  

Sementara, Halidah, warga Desa Baru lainnya mengatakan, terpaksa menggunakan perahu karet tersebut jika menyadap.

Baca juga: Jembatan Darurat Desa Tatakan Tapin Dibongkar, Materialnya Dibawa ke Jembatan Putus di Mataraman

“Sebenarnya tidak berani juga, tapi kami butuh uang untuk menyambung hidup,”katanya.

Jika arus sungai sedang deras, Halidah dan warga lainnya pun terpaksa tak menyadap.

Untuk membawa hasil sadapan karet, warga kata Halidah menggunakan sepeda motor melewati Desa Bulayak, yang tentunya secara jarak lebih jauh. (banjarmasinpost.co.id/hanani)

Penulis: Hanani
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved