Breaking News:

Liku liku Panipahan Tanahlaut

Perajin Nipah di Tanahlaut Masih Bertahan hingga Sekarang, Namun Tinggal Beberapa Orang

Perajin nipah di Tanahlaut kini hanya tinggal beberapa orang, banyak yang beralih ke pekerjaan lain

banjarmasinpost.co.id/roy
Khairina cekatan menganyam daun nipah menjadi atap. Sehari bisa dapat seratus lembar 

Editor: Eka Dinayanti

BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - Pada masa lalu, perajin atap nipah di Kalimantan Selatan (Kalsel) cukup banyak.

Termasuk yang berada di Desa Panjaratan, Kecamatan Pelaihari, Kabupaten Tanahlaut (Tala).

Namun kini jumlah mereka kian menyusut seiring kemajuan zaman yang turut melambungkan teknologi atap rumah.

Pengguna atap daun nipah pun lambat laun terus berkurang.

Hal itu pada akhirnya juga berimbas pada perajin nipah yang mulai meninggalkan profesi tersebut.

Baca juga: Liku-liku Panipahan Tanahlaut, Turun-temurun Puluhan Tahun, Bertahan hingga Sekarang

Baca juga: Kisah Panipahan di Tanahlaut, Susuri Sungai hingga di Kampung Tetangga, Kadang Bertemu Buaya Besar

Baca juga: Panipahan di Tanahlaut Harus Berkilo-kilometer Jauhnya Mencari Nipah, Hari Gelap Masih Susuri Sungai

Baca juga: Kisah Panipahan Tanahlaut, Perairan Rawa Kerap Ada Buaya, Warga Terbiasa Hidup Berdampingan

Sebagian telah beralih pada pekerjaan lain yang lebih menguntungkan.

Kini, di Panjaratan hanya tinggal beberapa orang yang masih setia menggeluti pekerjaan sebagai perajin atap nipah.

Di antaranya adalah Rawiyah, warga RT 2.

"Warga kami yang saat ini masih mencari bikin atap nipah tidak banyak lagi. Umumnya, bikin kalau ada pesanan saja," sebut Kepala Desa Panjaratan, Sahibul Yani, Sabtu (27/2/2021).

Ia menuturkan bahan baku daun pohon nipah umumnya cukup di pinggiran sungai ke arah kampung Bagandis.

"Itu masuk wilayah Desa Pagatanbesar dan Desa Tabanio," sebutnya.

(banjarmasinpost.co.id/roy)

Penulis: Idda Royani
Editor: Eka Dinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved