Ekonomi dan Bisnis
Terdampak Banjir, 4.662 hektar Jeruk Kalsel Rusak, Ini Langkah Pemerintah
Ribuan pohon jeruk di Kalsel rusak akibat terendam banjir. Kerusakan jeruk terluas, terjadi di Kabupaten Batola.
Penulis: Nurholis Huda | Editor: Hari Widodo
Editor : Hari Widodo
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Banjir Kalsel berdampak luas terhadap sektor pertanian. Tanaman jeruk, menjadi salah satu yang terimbas.
Ribuan pohon jeruk di Kalsel rusak akibat terendam banjir. Kerusakan jeruk terluas, terjadi di Kabupaten Batola.
Kadis Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Kalsel, Syamsir Rahman, mengatakan, untuk membantu para petani jeruk, pihaknya menganggarkan bantuan bibit jeruk per batang Rp 15 ribu dengan alokasi sekitar Rp 10 miliar.
"Alokasi sebanyak itu juga untuk selain jeruk, karena juga ada bibit lain yang jelas tanaman hortikultura," imbuhnya.
Baca juga: Akibat Terendam Banjir, Kebun Jeruk di Karang Indah Batola Mulai Mati
Baca juga: VIDEO Terendam Banjir, Ratusan Hektare Jeruk di Batola Terancam Rusak
Dilaporkan sedikitnya 4.662 hektar areal perkebunan jeruk di Provinsi Kalimantan Selatan rusak akibat bencana banjir.
Rusak dan gagal panen jeruk ini menyebabkan produksi jeruk Siam Banjar anjlok. Bahkan dilaporkan dengan kerugian diperkirakan lebih Rp 100 miliar.
Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Kalsel, Syamsir Rahman, Rabu (24/2/2021) mengatakan banjir sangat berdampak pada sektor pertanian di Kalsel.
"Selain tanaman pangan padi, banjir juga menyebabkan ribuan hektar areal tanaman hortikultura jeruk rusak. Terbanyak terjadi di Kabupaten Barito Kuala," ujarnya.
Dinas Pertanian mencatat luas areal pertanian jeruk yang rusak akibat banjir seluas 4.662 hektar atau sekitar 30 persen dari luas pertanian jeruk di Kalsel seluas 12 ribu hektar.
Baca juga: KalselPedia - Desa Danda Jaya Batola Kalsel, Kawasan Transmigrasi yang Menjadi Penghasil Jeruk Siam
Kerusakan terparah terjadi di Kabupaten Barito Kuala yaitu 3.185 hektar. Sentra jeruk Siam Banjar di Kalsel berada di Kabupaten Barito Kuala dan Banjar, dengan produksi pertahun sekitar 110 ribu ton.
Jeruk Siam Banjar ini sebagian besar dipatok untuk kebutuhan industri minuman hingga ke Pulau Jawa.
Sodikun, salah seorang petani jeruk di Desa Danda Jaya, Barito Kuala mengatakan banjir yang berlangsung lebih satu bulan tidak hanya menyebabkan gagal panen tetapi juga matinya pohon jeruk. (banjarmasinpost.co.id/nurholis huda)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/sugiarto-petani-jeruk-memperlihatkan-kondisi-daun-jeruk-yang-mulai-menguning.jpg)