Breaking News:

Berita HST

Harga Cabai Rawit di Kabupaten HST Makin Menyengat, Ini Penyebabnya Menurut Petani

Harga cabai rawit dan cabai tiung di Kabupaten Hulu Sungai Tengah makin menyengat.

Penulis: Hanani | Editor: Syaiful Akhyar
Husni untuk banjarmasinpost.co.id
Husni, warga Barabai dengan kebun cabai tiung di Desa Walatung, Kecamatan Pandawan, Hulu Sungai Tengah. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Harga cabai rawit dan cabai tiung di Kabupaten Hulu Sungai Tengah makin menyengat.

Kondisi ini terjadi sejak banjir bandang Januari 2021 lalu dimana harga cabai terus mengalami kenaikan.

Harga di kisaran Rp 60 ribuan, kemudian menjadi Rp 70 ribu sampai sekarang di kisaran Rp 80 sampai 100 ribu per kilogram.

Sejumlah petani di HST pun mengatakan, melonjaknya harga cabai, sebagai dampak dari banjir di daerah penghasil di Kalsel, termasuk Kabupaten HST.

Baca juga: Kebakaran di Desa Pakan Dalam Kabupaten HSS, 83 Jiwa Kehilangan Tempat Tinggal

Baca juga: Potret Wajah Luna Maya pada 25 Tahun Lalu Muncul, Tanda Persahabatan dengan Paula Ola

Baca juga: Pembangunan Blok Lapas di Kabupaten Tanahbumbu Digenjot, Diprediksi Sudah Beroperasi pada 2022

Apalagi, banjir di HST merupakan banjir bandang yang bersifat merusak, termasuk merusak tanaman padi dan tanaman perkebunan. Termasuk kebun cabai banyak yang rusak.

“Kebun cabai saya sendiri sudah siap panen. Hanya tersisa sekitar 30 persen, yang sekarang bisa dipanen,”kata Husni, warga yang berkebun cabai tiung di Desa Walatung, Kecamatan Pandawan.

Meski saat ini harga sedang berpihak kepada petani, namun kebanyakan petani tak bisa menikmati harga tersebut, karena kebunnya banyak yang rusak sehingga tak bisa berbuah secara maksimal.

“Sebagian batangnya busuk,”katanya. Namun,sebagain petani yang kebunnya tak terkena banjir, saat ini bisa menikmati keuntungan.

Seperti M Akhyari, yang memiliki kebun di Desa Kambat Utara. Tiap kali panen, kebunnya menghasilkan 10 kilogram cabai rawit. “Panennya per tiga hari sekali,”katanya.

Petani cabai lainnya yang kebunnya tak sampai rusak akibat banjir, Rifhan mengakui selama sepekan terakhir harga cabai tiungnya dihargai Rp 80 ribu per kilogram. Tiap kali panen, 20 sampai 30 kilogram per tiga hari,”katanya.

Menurutnya, sangat jarang petani langsung bisa menikmati harga tinggi, kecuali saat ketersediaan cabai tak berlimpah seperti sekarang. Mengenai harga di pasaran, dipastikan harga cabai lebih tinggi ketimbang di penjual langsung.

(banjarmasinpost.co.id/hanani)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved