Breaking News:

Jendela

Jendela - Sepi, Menyepi dan Pencerahan Hati

Di sisi lain, kadang manusia justru mencari sepi, menyepi, menyendiri atau mengasingkan diri

Editor: M.Risman Noor
istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlarut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Puisi “Senja di Pelabuhan Kecil” karya Chairil Anwar ini sangat indah dan berhasil menggambarkan kesepian yang menghimpit seorang anak manusia tanpa menyebut kata ‘sepi’ sekali jua pun.

Sepi itu terasa makin menusuk, ketika Chairil mengatakan “gerimis mempercepat kelam”, “kelepak elang menyinggung muram” dan “kini tanah dan air tidur hilang ombak. ” Kemudian dalam langkah gontai, ia berkata: “Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan menyisir semenanjung; masih pengap harap; sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan; dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap.”

Puisi Chairil di atas, meskipun lahir dari pengalaman pribadinya yang khas, dapat mewakili perasaan universal manusia tentang rasa sepi. Dalam kasus Chairil, ia merasa sepi karena putus cinta, putus hubungan dengan seorang yang istimewa. Manusia memang makhluk sosial, yang tak mungkin hidup sendirian.

Ia lahir dari ayah-ibu, dan besar dalam keluarga dan masyarakat. Dalam pergaulannya itu, ada orang-orang dekat yang istimewa, seperti orangtua, saudara, sahabat, guru dan kekasih. Kehilangan mereka akan menimbulkan rasa sepi yang dalam.

Meskipun kehilangan orang-orang istimewa tak dapat dihindari, terutama karena kematian adalah pasti, manusia modern tetap berusaha keras menghalau sepi, dengan membangun berbagai jalur koneksi pengisi waktu dan hati, melalui teknologi yang diciptakannya.

Melalui radio, televisi, hingga telepon pintar, saat ini manusia terhubung satu sama lain dengan cepat, mudah dan murah. Manusia juga dapat mengisi waktunya yang luang, menikmati dan berinteraksi dengan berbagai program di media elektronik itu.

Hidup yang selalu terhubung dengan dunia luar itu diharapkan berhasil mengusir sepi yang selalu mengintai manusia. Namun, ternyata sepi itu tak dapat dicegah dengan mudah. Hidup manusia modern rupanya penuh paradoks. Dia mengalami alienasi, terasing dari lingkungannya, bahkan dari apa yang dikerjakannya.

Ia pergi ke pasar swalayan yang ramai dan bertemu banyak orang, tetapi tak satupun yang mengenalnya dan menegurnya. Ia sepi di tengah keramaian. Ia bekerja di pabrik makanan, mengepak makanan yang bukan miliknya, dan tak tau siapa yang akan membelinya.

Ketika Covid-19 melanda dunia, aktivitas berkumpul sangat dibatasi, sehingga orang berkegiatan secara daring, menggunakan sarana elektronik. Pembelajaran, seminar, rapat, konferensi, diskusi, dan layanan administrasi, semua dilaksanakan secara daring. Namun, banyak orang yang ternyata masih tidak tahan dengan dunia yang serba daring ini. Mereka merasa masih belum benar-benar terhubung, jika tidak berhadap-hadapan secara fisik. Media memang paradoks, karena melaluinya orang bisa hadir sekaligus absen. Kita hadir, tetapi hanya sebagian dari diri kita, bukan keseluruhan.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved