Breaking News:

Berita Ekonomi

Harga Cabai Tinggi, Warga Palangkaraya Kalteng Pilih Kurangi Pembelian

Sejumlah ibu rumah tangga di Palangkaraya, Kalimantan Tengah mengaku mengurangi membeli cabai lantaran harga di pasar tradisional setempat

banjarmasinpost.co.id / faturahman
Petani Cabai Sampit, Kotim, Kalteng belum lama tadi panen perdana program demplot, namun belum mampu memenuhi kebutuhan lokal. 

Editor: Edi Nugroho

BANJARMASINPOST.CO.ID, PALANGKARAYA - Sejumlah ibu rumah tangga di Palangkaraya, Kalimantan Tengah mengaku mengurangi membeli cabai lantaran harga di pasar tradisional setempat masih tinggi, bahkan untuk membeli cabai Rp5 ribu cum dapat 10 biji cabai saja.

Ini membuat para ibu yang biasa beraktifitas di dapur mengurangi membeli cabai  karena harga satu kilogramnya bisa mencapai Rp100 ribu lebih.

"Saya beli pencok saja dibatasi untuk meminta cabai yang biasanya lombok 7 oleh penjualnya hanya boleh masimal lombok dua saja," ujar Rahmi, salah satu penyuka makanan pencok di Palangkaraya, Rabu (24/3/2021).

Para penjual makanan yang menggunakan bahan cabai membatasi dalam memberikan cabai untuk rasa pedas bahan makanan yang dijual kepada pelanggannya, dengan alasan harganya saat ini mahal.

Baca juga: Update Covid-19 Banjarbaru: 38 Positif, 87 Sembuh, 480 Orang Dipantau

Baca juga: Sosialisasikan UTBK SBMPTN, ULM Paparkan Syarat dan Ketentuan Pelaksanaan

"Terpaksa dibatasi, kecuali harga pencoknya dinaikkan, boleh saja," ujar Bi Enor salah satu penjual pencok keliling

Kenaikan harga cabai tersebut, cukup pantastis, harga normal cabai biasanya Rp40 ribu perkikogramnya, saat ini terus mengalami kenaikan hingga tembus lebih Rp100 ribu perkilogramnya yang kemudian bikin pusing penjual makanan dan ibu rumah tangga.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Koperasi UKM Perindustrian, Kota Palangkaraya Rawang, mengatakan, kenaikkan harga cabai akibat pasokan cabai berkurang dari Pulau Jawa yang didrop dari Banjarmasin ke Palangkaraya sejak beberapa minggu ini.

Dia mengatakan, petani cabai di Pulau Jawa banyak yang mengalami gagal panen sehingga pasokan menurun dan harganya melambung.

"Petani cabai daerah pemasok gagal panen, karena ranaman terserang hama juga faktor cuaca menyebabkan pasokannya berkurang,” ujarnya seraya kebutuhan konsumsi cabai di Palangkaraya cukup tinggi. (banjarmasinpost.co.id / faturahman)

Penulis: Fathurahman
Editor: Edi Nugroho
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved