Breaking News:

Jendela

Muhasabah Nisfu Syakban

jika kita lupa melakukan muhâsabah tiap hari, maka minimal kita melakukannya setahun sekali, di malam Nisfu Syakban

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Editor: Eka Dinayanti

Oleh Mujiburrahman, Rektor UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - Saya dan isteri kadang suka menghibur diri dengan melihat album foto anak-anak kami, saat mereka masih kecil dan lucu. Anehnya, anak-anak justru tidak begitu tertarik pada foto-foto mereka sendiri. Sepertinya, bagi mereka, foto-foto itu biasa saja, tidak ada yang istimewa. Saya pun merenung. Mungkin karena mereka hidup di era digital, ketika foto begitu mudah dibuat, sebanyak-banyaknya. Hal ini berbeda dengan saat kami masih muda, ketika satu foto baru bisa dihasilkan setelah melalui proses panjang, dari pemotretan hingga filmnya dicuci dan dicetak di studio.

Namun, alasan perbedaan generasi di atas kiranya masih belum memadai. Saya kira, ada yang lebih dalam dari sekadar perbedaan antara generasi analog dan generasi digital, yaitu sudut pandang orang muda dan orang tua terhadap hidup. Orang yang sudah tua, apalagi usia di atas 50 tahun, sudah mulai melacak jejak-jejak yang ditinggalkannya di masa lampau. Umur adalah misteri, tetapi yang pasti, kita akan semakin tua, dan maut kapan saja bisa menjemput. Sudah selayaknya, orang yang waras akan berpikir, apa saja kebaikan yang telah kuperbuat selama hidupku?

Sebaliknya, orang muda lebih berpikir ke masa depan, karena masa lalunya masih terlalu pendek, dan tantangan masa depan semakin berat. Kemajuan sains dan teknologi modern memang telah membuat hidup manusia lebih mudah dan gesit, tetapi pada saat yang sama, tuntutan hidup makin tinggi dan persaingan makin ketat. Teknologi melahirkan budaya serba instan, tetapi untuk hidup mapan, kini orang harus melewati proses yang makin sulit dan panjang. Angka pengangguran makin tinggi, dan ijazah sarjana sama sekali bukan jaminan orang akan mendapatkan pekerjaan yang layak.

Perbedaan sudut pandang anak muda dan orangtua di atas tentu tidak sepenuhnya tergantung usia. Ada anak muda yang suka melakukan introspeksi mengenai apa yang telah dilakukannya di masa lalu untuk menatap masa depan. Dia mau belajar dari kegagalan dan kesalahan yang telah dilakukannya. Dia juga mensyukuri keberhasilan yang telah dicapainya. Sebaliknya, adapula orang tua yang tua-tua keladi. Sudah tua renta, masih saja berambisi menumpuk harta dan menduduki takhta. Sudah banyak berbuat dosa, tetap saja tidak mau bertaubat. Seolah dia akan hidup selama-lamanya.

Karena itulah, agar kita tidak terjerumus ke jurang ambisi duniawi, kaum Sufi mengajarkan supaya kita, tua ataupun muda, melakukan muhâsabah, menghitung-hitung hidup, setiap hari sebelum tidur. Apa kebaikan yang telah kulakukan hari ini, dan apa pula dosa yang telah kuperbuat? Adakah pula kesia-siaan tak berguna yang kukerjakan? Dengan pertanyaan-pertanyaan ini, orang akan berusaha menjalani hidup dengan lebih baik. Hidup yang baik adalah hidup yang bermanfaat, yaitu yang mendatangkan kebaikan. Itulah hidup yang bernilai dan bermakna. Itulah hidup yang bahagia.

Namun, kebanyakan manusia terlena dengan hidupnya. Hari demi hari berlalu begitu saja, tanpa renungan dan perhitungan. Pagi dan petang silih berganti, hanya diisi dengan kesibukan ambisi mengejar kekayaan, kekuasaan dan ketenaran. Tak ada lagi waktu untuk berpikir, apakah aku sudah menjalani hidup dengan baik dan benar? Apalagi di era media sosial ini, ketika hidup kita seolah ditentukan oleh penilaian orang lain terhadap kita. Kita lebih peduli pada puja-puji atau caci-maki orang lain di media sosial, meskipun itu palsu, ketimbang kenyataan hidup kita yang sebenarnya.

Karena itu, jika kita lupa melakukan muhâsabah tiap hari, maka minimal kita melakukannya setahun sekali, di malam Nisfu Syakban. Di malam ini, kita menyesali dosa-dosa di masa lalu, dan memohon ampunan-Nya. Untuk masa depan, kita memohon diberi umur panjang dalam berbuat taat kepada-Nya, bukan maksiat. Kita berharap dihindarkan-Nya dari segala bencana dan mendapatkan rizki yang halal, bukan yang haram. Kita juga ingin menjadi manusia merdeka, yang tidak banyak tergantung pada orang lain. Dan andai kita tutup usia, kita meminta suatu akhir yang baik dan mulia.

Nisfu Syakban secara bahasa artinya pertengahan bulan Syakban. Ia mengingatkan bahwa hidup adalah laksana perjalanan panjang yang ditempuh untuk satu tujuan. Di tengah jalan, ada saatnya kita harus berhenti sejenak, beristirahat sambil mengingat jalan yang sudah kita tempuh dan bagaimana cara kita melaluinya. Segala kebaikan yang kita torehkan, kita kenang dengan penuh syukur, dan segala kesalahan yang kita lakukan, kita sesali dengan tekad untuk tidak mengulanginya. Mumpung napas masih ada, kesempatan masih terbuka untuk menjadi manusia mulia, bukan? (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved