Breaking News:

UIN Antasari Banjarmasin

Perjuangan Penderita Lever Jadi Wisudawati Terbaik Tingkat Fakultas di UIN Antasari Banjarmasin

Noer Asmiyati dari Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini, UIN Antasari Banjarmasin Kalsel raih IPK 3,90

BANJARMASINPOST.CO.ID/MUHAMMAD RAHMADI
Noer Asmiyati, SPd, wisudawati terbaik tingkat Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini UIN Antasari Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Kamis (8/4/2021). 

Editor: Alpri Widianjono

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Menjadi wisudawati terbaik di tingkat fakultas menjadi kebanggaan tersendiri bagi Noer Asmiyati, SPd.

Dia adalah mahasiswi dari Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini, UIN Antasari Banjarmasin Kalimantan Selatan, dengan masa studi 3,5 tahun IPK 3,90 (Pujian).

Diceritakannya, prestasi tersebut tidaklah didapat dengan mudah, Asmiyati mengaku pernah ingin menyerah karena penyakit lever yang diderita.

Karena kondisi tersebut Asmiyati pun sempat berhenti bekerja, hal itu ia lakukan untuk memulihkan kondisi kesehatan.

Baca juga: Rektor UIN Banjarmasin Harapkan Wisudawan Bermanfaat Bagi Masyarakat

Baca juga: UIN Antasari Banjarmasin Kalsel Tetapkan Tujuh Wisudawan dan Wisudawati Terbaik

"Saya pernah kehilangan harapan untuk hidup. Harapan hidup saya hanya 30 persen karena lever saya terganggu," ungkapnya, Kamis (8/4/2021).

Berkaitan hal itu, Asmiyati mengungkapkan, bahwa ada satu hal yang membuatnya kembali bersemangat.

Hal tersebut, yaitu janji dengan dosen Mata Kuliah Psikologi Umum. Janji itu adalah bisa lulus kuliah dalam kurun waktu 3,5 tahun dengan predikat baik.

"Goal yang sudah saya tulis sendiri itulah yang akhirnya membuat saya bangkit dan kembali bersemangat lagi," ungkapnya.

Baca juga: BTalk, Dosen UIN Antasari Banjarmasin Sebut Esensi Tarawih Mendidik untuk Rajin Salat Malam

Di sisi lain, Asmiyati yang saat ini bekerja sebagai guru di satu sekolah PAUD di Banjarmasin, menjelaskan, gaji yang diterima sangat jauh dari kata layak, yaitu Rp 150.000 hingga Rp 350.000 per bulan.

Meski demikian, hal itu tidak menyurutkannya untuk tetap memberikan ilmu pengetahuan yang ia miliki.

"Meski mendapat gaji bawah kata layak, namun saya harus bisa memberikan manfaat kepada masyarakat, dengan kopetensi yang saya miliki," ujarnya.

(Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Rahmadi)

Penulis: Muhammad Rahmadi
Editor: Alpri Widianjono
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved