Breaking News:

Jendela

Latihan Mengendarai Tubuh

Puasa adalah upaya menyadarkan diri kita bahwa tubuh adalah kendaraan, alat, bukan tujuan, yang harus dijaga dan dirawat sekaligus dikendalikan

istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Editor: Eka Dinayanti

Oleh Mujiburrahman, Rektor UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - “APAKAH kalian senang dengan kedatangan Ramadan?” tanya Emha Ainun Nadjib kepada jemaahnya. “Senang,” jawab mereka lantang. “Bohong! Kalian sebenarnya tidak senang. Kalian akan merasakan lapar, haus dan lemas.” Jemaah pun tertawa. “Namun, meskipun kalian tidak senang dengan puasa, kalian tetap mengerjakannya, karena cinta kepada Allah,” kata Emha. Jemaah pun bertepuk tangan.

Puasa, dengan menahan lapar dan haus serta menghindari hubungan seksual dari terbit fajar hingga tenggelamnya matahari, memang bukan laku yang ringan dan mudah bagi tiap orang. Orang perlu dilatih sejak kecil, dengan tekad bulat yang kuat. Bangun sahur ketika kepala masih berat ingin tidur bukanlah perkara sepele. Menahan lapar dan haus di siang hari, apalagi saat terik matahari sembari bekerja keras, juga bukan soal mudah. Namun, ternyata kaum Muslim mau dan rela melakukannya.

Mengapa yang sulit itu dapat dilakukan? Kaum idealis mengatakan, karena manusia memiliki ruh atau pikiran yang dapat mengendalikan tubuhnya. Bahkan sebagian kaum idealis ini berpendapat, ruh manusia itu terpenjara dalam tubuh. Ia akan bahagia-merdeka jika bebas dari tuntutan tubuh. Puasa adalah salah satu latihan pembebasan itu. Sebaliknya, kaum materialis, yang di zaman modern antara lain diwakili oleh Karl Marx, menilai bahwa bukan saja perilaku manusia, melainkan juga pikirannya, termasuk ilmu, seni dan agama, justru dipengaruhi oleh kondisi materialnya.

Namun, kalau dicermati lebih jauh, puasa kiranya bukanlah permusuhan terhadap tubuh dan materi, melainkan upaya meletakkan ruh dan tubuh pada posisi yang tepat. Dalam pandangan filsafat Islam dan tasawuf, struktur eksistensi manusia itu adalah ruh, jiwa/nafsu dan tubuh. Nafsu berada di posisi tengah, antara jasmani dan ruhani. Nafsu perut (makan dan minum), dan nafsu kemaluan (seksual), berfungsi agar tubuh manusia tumbuh dan bertahan. Namun, jika ruh tidak mengendalikan nafsu, maka ia akan serakah dan melampaui batas.

Kaum Sufi menggambarkan nafsu dan tubuh itu laksana kendaraan bagi ruh. Jika kita mau bepergian jauh, maka kita harus menggunakan kendaraan yang tepat. Jika naik kuda, maka kudanya harus sehat dan tangkas. Jika naik kendaraan bermotor, maka mesinnya harus bagus, dan bahan bakarnya terisi. Namun, kadang karena terpesona dengan keindahannya, orang malah menjadikan kendaraan itu sebagai tujuan, bukan alat. Yang punya kuda, sibuk memberi makan kuda, membersihkan tubuhnya dan mengelusnya. Yang punya kendaraan bermotor sibuk membuat aksesori dan melapnya hingga mengkilat. Ia lupa memakai kuda atau kendaraan itu untuk pergi menuju tujuan.

Puasa adalah upaya menyadarkan diri kita bahwa tubuh adalah kendaraan, alat, bukan tujuan, yang harus dijaga dan dirawat sekaligus dikendalikan. Puasa sama sekali bukan untuk menyiksa apalagi mematikan tubuh. Itu sebabnya, sebelum puasa, kita bersahur terlebih dahulu agar di siang hari tidak terlalu lemas. Ketika waktu berbuka tiba, kita dianjurkan untuk menyegerakannya, bukan menunda-nundanya. Karena itu pula, dalam keadaan normal, puasa sangat baik untuk kesehatan. Tubuh yang sehat ibarat kendaraan yang prima, siap dipakai untuk pergi menuju tujuan.

Puasa juga melatih kita untuk menunda kesenangan jangka pendek, untuk kebaikan jangka panjang. Banyak perilaku manusia yang merusak dirinya sendiri, orang lain dan lingkungan karena ia tergoda dengan kesenangan sesaat. Orang yang mabuk-mabukan atau mengonsumsi narkoba mungkin senang sebentar, tetapi setelah itu menderita sangat lama. Dengan menebang hutan, mengeruk kekayaan bumi, kita dapat uang banyak dan cepat, tetapi dalam jangka panjang, kita dan anak cucu kita akan menanggung bencana. Karena itu, menunda kesenangan jangka pendek amatlah penting.

Jika tubuh adalah kendaraan, dan kesenangan nafsu jangka pendek harus dikendalikan, maka apakah tujuan jangka panjang yang ingin kita raih, dan ke manakah kendaraan itu kita arahkan? Tujuan hidup kita adalah asal muasal kita, yaitu Tuhan yang menciptakan kita. Agar kita sampai bertemu dengan-Nya, kita harus melewati jalan yang benar sesuai petunjuk yang diberikan-Nya, yakni agama yang diwahyukan-Nya. Segala halangan dan godaan untuk berbelok ke jalan yang salah, harus dihindari. Puasa melatih kita agar terbebas dari godaan itu dan fokus menuju tujuan yang benar.

Seperti ditegaskan Alqur’an, puasa akan membawa kita mencapai taqwâ, yaitu kemampuan menjaga diri dari kejatuhan moral selama perjalanan hidup menuju tujuan akhir itu. Perjalanan di jalan yang benar/lurus itu disebut juga “amal saleh” atau perbuatan baik. Yang baik adalah yang bermanfaat, dan yang bermanfaat itu membahagiakan. Di akhir perjalanan, dia akan bertemu dengan sumber segala kebaikan dan keindahan, yang menyambutnya dengan penuh cinta. (*)

Editor: Eka Dinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved