Breaking News:

Berita Tanahlaut

VIDEO Sulitnya Menanam Ulin, Perlu Naungan Hingga Hydrogel

Tak gampang membiakkan pohon ulin (eusideroxylon zwageri). Perlu ketelatenan dan kesabaran ekstra seperti ketika merawat anak kecil

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Tak gampang membiakkan pohon ulin (eusideroxylon zwageri). Perlu ketelatenan dan kesabaran ekstra seperti ketika merawat anak kecil. Pasalnya, kayu kualitas nomor satu itu memerlukan persyaratan tumbuh yang spesifik.

Di antaranya kelembaban yang terjaga dan tak bisa terkena paparan sinar matahari secara langsung. Tanah berkadar asam tinggi juga tak memungkinkan bagi ulin untuk tumbuh. Karenanya diperlukan penaburan kapur dolomit untuk menetralisasi.

"Benar-benar perlu perawatan ekstra. Karena itu pula saat ini kami fokus pada pemeliharaan bibit ulin yang telah kami tanam," ucap Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Tala Rahmad Riansyah, Senin (19/4).

Ia menuturkan pada gerakan Revolusi Hijau yang dicanangkan Dinas Kehutanan Kalsel beberapa pekan silam, Tala mendapat alokasi 1.800 batang bibit kayu ulin.

Di Tala, jelasnya, ada dua tempat penanamannya yakni di area hutan jati di belakang kantor Bupati Tala dengan luasan sekitar dua hektare. Saat ini telah tertanam 430 batang. 

"Itu masih berlanjut karena lahan di belakangnya masih luas hingga tembusnke kantor Dinas LH. Kami sudah minta pihak Dinas LH dan Bagian Umum Pemkab untuk melakukan pembersihan, nanti untuk pelobangan dan penanaman kami yang melaksanakan," sebutnya.

Lalu, tempat kedua penanamannya yakni di sekitar kantor Resort Pengelolaan Huyan (RPH) Tabanio di kawasan Gunung Kayangan di wilayah Desa Ambungan, Kecamatan Pelaihari.

Di lokasi tersebut saat ini telah tertanam sebanyak 541 batang plus 10 batang meranti. Luasan areanya sekitatAr dua hektare dan memerlukan perlakuan khusus karena kondisi areanya agak terbuka karena tanaman penghijauan setempat masih minim.

"Jadi sebagian bibit ulinnya kami pajangi paranet atau naungan. Posisinya menghadap matahari dan melindungi arah matahari terbenam," papar Riansyah.

Tak cuma itu, pihaknya juga mesti menjaga kelembaban area tanam setempat dengan cara menaburkan aquasoft atau hidrogel. Bahan ini mampu memberikan kebutuhan air bagi tanaman.

Hidrogel berasal dari kata hydro (air), artinya gel yang dapat menyerap dan menyimpan air ratusan kali beratnya. Hidrogel berfungsi menyerap air dan nutrisi untuk tanaman dan melepaskannya secara perlahan sesuai kebutuhan tanaman tersebut.

Guna memaksimalkan fungsi hidrogel, jelas Riansyah, lebih dulu pihaknya merendam barang tersebut ke drum berisi pupuk NPK. Jadi hidrogel tersebut sekaligus mengandung pupuk. Pengaplikasiannya, lahan sekitar bibit ulin dicangkul tak terlalu dalam untuk meletakkan hidrogel.

Kemudian ditutup kembali. Harga barang ini Rp 20 ribu per kilogram. Selain itu pada lubang tanam pihaknya juga mengaplikasikan furadan untuk mengusir ulat dan kapir dolomit untuk menetralkan pH tanah.

Ini karena lahan di sekitar Gunung Kayangan agak asam. Jarak antarlubang tanam 5x5 meter. Meski telah diperlakukan secara khusus, namun tetap saja ada sebagian bibit ulin tersebut yang mati.

"Di Gunung Kayangan delapan batang dan di Hutan Jati lima batang. Tapi sudah kami sulam semuanya," sebutnya.(Banjarmasinpost.co.id/idda royani)

Penulis: Idda Royani
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved