Berita Jakarta

Guru Dapatkan Pelatihan Trauma Healing Pascabencana

Para guru mengikuti webiner penanganam trauma healing yang diadakan Cetta Satkaara dan Rumah Guru Bimbingan Konseling. Bantu pemulihan pascabencana.

Penulis: R Hari Tri Widodo | Editor: Alpri Widianjono
CETTA SATKAARA
Webinar Pelatihan Psikososial dan Trauma Healing Bagi Tenaga Pendidik secara virtual melalui platform zoom. 

Editor: Alpri Widianjono

BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA - Letak strategis Indonesia yang berada di garis khatulistiwa serta tiga lempeng yaitu Eurasia, Indoasia dan Pasifik, menjadi faktor pemicu seringnya terjadi bencana alam.

Indonesia bahkan masuk dalam 35 negara paling rawan di Indonesia. Sepanjang tahun 2021 ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sudah 1.125 bencana alam terjadi di Tanah Air.

Dampak bencana yang tidak kalah penting namun seringkali luput dari perhatian adalah gangguan kejiwaan (psikologis) pada anak atau biasa disebut trauma.

Berbeda dengan biaya kerusakan secara sosial atau ekonomi yang dapat dihitung, dampak psikologis pada anak pasca bencana tidak dapat diprediksi waktu, durasi serta intensitasnya.

Baca juga: Komunitas Sobat SD Banjarmasin Hibur Anak-anak HST dengan Badut, Cosplay dan Sulap

Besarnya  dampak trauma pascabencana pada anak mendorong peran orang dewasa, khususnya guru untuk turun tangan melakukan pemulihan.

Hal tersebut juga yang melatarbelakangi Cetta Satkaara bersama Rumah Guru Bimbingan Konseling (RGBK)  untuk mencetuskan program edukasi trauma healing pascabencana.

Co Founder dan Senior Advisor PT Cetta Satkaara, Ruth Andriani, menuturkan, rentetan bencana yang terjadi di Tanah Air belakangan ini membawa keprihatinan dan menggugah rasa kemanusiaan untuk ikut menolong.

Namun sayangnya, bantuan di ranah psikologis masih sering terlupakan. Padahal banyak korban yang masih menyisahkan trauma psikis berkepanjangan pascabencana.

Baca juga: TNI dan Tim Pemulihan Trauma Dampingi Anak-anak Terdampak Bencana di Kabupaten HST

“Sebagian orang berfokus hanya pada luka fisik dan menekankan pentingnya kehadiran bantuan medis saat bencana terjadi. Belum banyak yang memahami bahwa ada luka emosional, terutama pada anak yang sama sakitnya dan butuh perhatian lebih untuk ditangani,” ujar Ruth, Jumat (23/4/2021).

Inisiatif ini diwujudkan dalam Webinar Pelatihan Psikososial dan Trauma Healing Bagi Tenaga Pendidik yang berlangsung Sabtu (10/4/2021) secara virtual melalui platform zoom.

Webinar ini diikuti 200 guru terpilih setingkat SD, SMP dan SMA Sederajat di seluruh Indonesia, termasuk dari Kalimantan.

Menghadirkan pembicara, Christina Dumaria Sirumapea M.Psi., Psikolog, Psikolog Klinis Dewasa dan Associate Assessor di Tiga Generasi, serta Ana Susanti, MPd, Founder RGBK dan Widyaiswara di Kemendikbud RI.

Baca juga: Hibur Anak-anak Korban Banjir di Desa Baru Waki, Ini Harapan PPI  HST

Salah satu pokok bahasan penting yang disampaikan Christina dalam paparannya adalah mengenai Psychological First Aid (PFA) bagi korban bencana.

Perempuan yang akrab disapa Ina ini menjelaskan bahwa PFA dibagi menjadi empat landasan yakni prepare, look, listen dan link.

“PFA itu dukungan praktis layaknya kotak obat darurat yang bisa digunakan orang awam untuk membantu sementara dalam penanganan korban pasca bencana agar lebih tenang dan aman. Namun untuk tahap lanjutannya tetap harus ditangani oleh profesional yaitu psikolog atau dokter,” ujar Ina.

Adapun empat landasan PFA meliputi, Prepare, yakni pengamatan situasi kemanan, gejala serta bantuan yang diperlukan korban.

Look adalah pendekatan sebagai pendengar aktif untuk membantu korban menenangkan diri.

Listen, diterapkan dengan memberikan akses layanan kesehatan. Sedangkan Link, menghubungkan korban ke tenaga profesional sesuai kebutuhannya.

"Yang perlu digarisbawahi adalah jangan bertanya terlalu detail mengenai trauma yang dialami karena justru akan mentriger ingatan korban akan pengalaman bencana,” jelasnya.

Sebagai mitra pelaksana Webinar Pelatihan Psikososial dan Trauma Healing Bagi Tenaga Pendidik, Founder RGBK, Dr Marjuki, MPd, pun menyambut positif antusiasme dari para guru.

Dirinya berharap webinar ini dapat menjadi wadah awal untuk memfasilitasi pengembangan guru terutama dalam hal penanganan trauma pasca bencana.

(Banjarmasinpost.co.id/R Hari Triwidodo)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved