Breaking News:

KalselPedia

KalselPedia : Profil Singkat Prof DR H Masyithah Umar

Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin baru saja memiliki Guru Besar dalam bidang ilmu fiqih. Dia adalah Prof Hj Masyithah Umar M Hum

banjarmasinpost.co.id/muhammad rahmadi
Guru besar Prof Hj Masyithah M Hum, dalam bidang ilmu fiqih. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin barus saja memiliki Guru Besar dalam bidang ilmu fiqih.

Dia adalah Prof Hj Masyithah Umar M Hum, seorang perempuan yang lahir di Kota Banjarmasin, 13 Agustus 1995.

Masyithah memulai pendidikannya di SD Negeri 1 Tanah Grogot lulus tahun 1963, SMP Negeri 1 Tanah Grotgot lulus tahun 1971.

Kemudian, sekolah persiapan masuk IAIN lulus 1974, menjadi sarjana di IAIN tahun 1981, lulus S2 di UI 1993, meraih gelar Doktor di Universiti Utara Malaysia 2015 dan meraih gelar Profesor tahun 2021.

Baca juga: Rektor UIN Antasari Banjarmasin Kukuhkan Guru Besar Ilmu Fikih

Baca juga: Guru Besar UIN Antasari Banjarmasin Prof Hj Masyithah Ajak Perempuan Perjuangkan Nasib

Perjuangan untuk mendapatkan gelar Profesor tidak serta merta diraih dengan cepat, tetapi membutuhkn perjuangan yang panjang.

Sebelumnya Masyithah tidak pernah terpikir untuk menjadi Profesor, tetapi gelar itu adalah sebuah perjalanan akademis dan perjalanan hidup yang harus dilaluinya.

Masyithah memiliki istilah dalam menjalani kehidupan, yaitu 3 M, pertama menjalani takdir Allah, ke dua menekuni dengan penuh kesyukuran kepada Allah, dan ke tiga menerima jalan hidup dengan penuh kesabaran.

Sang guru besar ke dua di UIN Antasari Banjarmasin ini pernah menjadi Dekan Fakuktas Syariah 2004-2008, Pembatu Rektor III 2008-2012, Komisioner KPU Provinsi Kalsel 2013 sebagai ketua divisi sosialisasi, pendidikan pemilih dan pengembangan sumber daya manusia, wakil divisi perencanaan, keuangan dan logistik/umum, rumah tangga dan organisasi periode 2013-2018.

Mastithah memiliki hasil tulisan yang semuanya bertemakan perempuan tentang fikih, di antaranya bercerita tentang perceraian, poligami, dan terakhir bercerita tentang bagaimana cara perempuan di hadapan peradilan.

Dalam membuat tulisan tentang wanita, Masyithah sudah mewawancarai banyak wanita, khususnya mereka yang selama ini terlibat langsung berkaitan dengan tema tulisan.

Karena sesungguhnya seluruh tulisan Masyithah berangkat dari sebuah penelitian, dan tak jarang juga dikutip dari hasil penelitian orang lain.

Baca juga: VIDEO Gelar Rapat Senat Terbuka, Rektor UIN Antasari Banjarmasin Kukuhkan Satu Guru Besar

Masyithah sudah melakukan penelitian sejak 18 tahun yang lalu, pada tiga generasi di tiga negara, yaitu Indonesia, Pakistan, dan Kanada.

Khusus di Indonesia penelitian dilakukannya di Kabupaten Barito Kuala, karena di sana terdapat seorang wanita yang berusia lebih dari 100 tahun. (Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Rahmadi)

Penulis: Muhammad Rahmadi
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved