Breaking News:

Ekonomi dan Bisnis

Warga Disarankan Beli Beras Zakat Fitrah ke Petani Lokal di Kalsel

Umat Islam yang akan bayar zakat fitrah disarankan agar membeli beras dari petani Kalsel, sehingga turut membantu menyejahterakan mereka.

ISTIMEWA
Beras zakat fitrah dalam kemasan. 

Editor: Alpri Widianjono

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Umumnya zakat fitrah dibayar menggunakan beras. Bersamaan dengan ini, petani berharap pembayar Zakat Fitrah mengutamakan beras lokal dibandingkan beras impor.

Gempuran beras impor membayangi pendapatan petani, terlebih lagi di masa sulit akibat Pandemi Covid-19. Momen zakat fitrah menjadi secercah harapan petani merasakan berkah Ramadhan tahun ini.

Petani muda anggota Poktan Harapan Baru yang bercocok tanam di Desa Manarap Baru, Kecamatan Kertak Hanyar, Kabupaten Banjar, Ardiansyah, Senin (3/5/2021), menjelaskan, beras impor yang ada di pasaran kebanyakan dari Thailand.

Sebenarnya, kata dia, kualitas beras petani lokal sangat bagus, dan dari segi harga tidak jauh beda. 

Baca juga: Presiden Jokowi Pastikan Tak Ada Impor Beras Sampai Juni 2021

Baca juga: Dijatah Impor Beras 1 Juta Ton, Dirut Bulog Budi Waseso Malah Yakin Bisa Swasembada

"Kami mewakili aspirasi para petani, berharap masyarakat lebih mengutamakan beras lokal dalam membayar zakat fitrah. Dengan membeli zakat fitrah langsung ke petani di Kalsel, maka akan membantu ekonomi petani melalui Gerakan Beli Beras Zakat Fitrah ke Petani Lokal," urainya. 

Zakat itu pasti menebar manfaat. Gerakan ini solusi mendapatkan dua kebaikan sekaligus, yaitu pahala membayar zakat dan menyejahterakan petani lokal. 

Adi , sapaanya, menambahkan harga beras keperluan zakat fitrah sesuai dengan edaran Kementerian Agama dan tepat takaran syariat 3,5 liter atau 2,5 kilogram per jiwa sebagai berikut. Beras Mayang, Unus, Mutiara, Rojolele, Pandan Wangi dan sejenisnya Rp 45.000. 

Selanjutnya Beras Siam, Karang Dukuh dan sejenisnya Rp 40.000 dan Beras Ganal atau Biasa, Pandak dan IR, Rp 35.000. Satu di antara beras lokal asli Banua yakni beras 'Utuh Agak-Diyang Bungas'. 

Baca juga: Pertahankan Surplus Beras, Tala Optimalkan Intensifikasi Melalui Tanam hingga Tiga Kali Setahun

Baca juga: Desa Shabah Jadi Kampung Tangguh Banua Kedua di Kecamatan Bungur, Satgas Bagikan Beras

Makna 'Beras Utuh Agak-Diyang Bungas', filosofinya ujar Adi, utuh itu adalah seorang anak lelaki Suku Banjar yang gagah dan rupawan. Sedangkan diang adalah seorang anak gadis Banjar yang sangat cantik. 

"Jadi, beras yang dijual ini seakan-akan seperti utuh dan diang yang rupawan dan bungas.  Berasnya nyaman dimakan,” ujar Adi pemuda kelahiran Desa Bi'ih, Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar tersebut. 

Dia menambahkan pengemasan dan harga beras 'Utuh Agak-Diyang Bungas' sesuai keperluan zakat fitrah mengacu edaran Kementrian Agama dan tepat takaran syariat 3,5 liter atau 2,5 Kilogram per jiwa.

Harga beras Mayang, Unus, Mutiara, Rojolele, Pandan Wangi dan sejenisnya Rp 45.000. Selanjutnya beras Siam, Karang Dukuh dan sejenisnya Rp 40.000 dan Beras Ganal atau Biasa, Pandak dan IR, Rp 35.000.

(Banjarmasinpost.co.id/Nurholis Huda)

Penulis: Nurholis Huda
Editor: Alpri Widianjono
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved