Breaking News:

Sosok Tokoh Banua

Pelopor Airways Indonesia Asal Alabio Kabupaten Hulu Sungai Utara

Selama ini Urang Banjar hanya mengetahui nama Bandara Internasional yang cukup megah, Sjamsuddin Noor yang terletak di Landasan Ulin, Banjarbaru, Kali

Foto istimewa
Muhammad Sjamsudin Noor, pelopor Airways Indonesia. 

Editor: Edi Nugroho

BANJARMASIN POST.CO.ID - Selama ini Urang Banjar hanya mengetahui nama Bandara Internasional yang cukup megah, Sjamsuddin Noor yang terletak di Landasan Ulin, Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Namun, siapa Sjamsuddin Noor dan asal dari Kabupaten mana serta bagaimana kiprahnya dalam dunia kedirgantaraan Indonesia, pasti banyak yang tidak mengetahuinya.

Nah, Muhammad Sjamsudin Noor memiliki pangkat Letnan Udara dan mendapat julukan dijuluki sebagai pelopor Airways Indonesia. Sjamsudin sendiri lahir di sebuah kampung, tepatnya daerah Alabio, Amuntai, Hulu Sungai Utara, Kalsel, 5 November 1924.

Ayah Sjamsudin bernama H Abdul Gaffar Noor, dikenal sebagai salah satu ulama di Alabio pada tahuan 1900-an. Ibunya Hj Putri Ratna Willis, juga aktif dikegiatan keagamaan. Ketokohan keduanya, mengantarkan mereka sebagai sosok yang aktif di pergerakan dan organisasi perjuangan. Tahun 1940-an di masa transisi terbentuknya Republik Indonesia Serikat (RIS), H Abdul Gaffar Noor, dipercaya sebagai Kepala Federasi Kalimantan Tenggara.

Baca juga: VIDEO GeNose C19 Hadir di Bandara Internasional Syamsudin Noor

Baca juga: Bandara Internasional Syamsuddin Noor akan Launching Layanan GeNose C19 di Terminal Kedatangan

Baca juga: Penumpang Berangkat dari Bandara Internasional Syamsudin Noor Kalsel Meningkat

Jabatan publik yang di emban sang ayah, membuat Sjamsudin menghabiskan waktu jauh dari kampung halamannya. Di usia 8 tahun, jenjang pendidikan dimulai di HIS Batavia Jakarta. Setelah lulus tahun 1939, melanjutkan sekolah di MULO Bogor, Jawa Barat.

Usai mengenyam pendidikan di sekolah Belanda, sejak tahun 1942 hingga 1945, Sjamsudin melanjutkan pendidikannya di AMS Jogjakarta. Kondisi Negara yang masih dalam tekanan penjajah, membuatnya terpanggil dengan masuk Akademi Militer di Jogjakarta. Setahun di Akademi Militer, dia memperdalam ilmunya dengan masuk Sekolah Kejuruan Penerbang.

Prestasi yang bagus, mengantarkan Sjamsudin terpilih mengikuti program Pendidikan dan Latihan Penerbang di India dan Burma. Dari sinilah ilmu profesional sebagai penerbang pesawat tempur dan pesawat angkut dicapai. Tiga tahun menimba ilmu, Sjamsudin langsung dipercaya menjadi pilot pesawat penerbangan Indonesia Airways.

Dedikasi dan loyalitasnya sebagai penerbang, membuat TNI Angkatan Udara memanggilnya untuk memperkuat barisan penerbang pesawat tempur. Tahun 1950, sepulang dari Burma, Sjamsudin yang berpangkat Letnan Udara Satu, dipercaya menerbangkan pesawat tempur Dakota 446 milik TNI Angkatan Udara. Sejak itu, secara resmi Sjamsudin Noor dipercaya memiloti pesawat tempur untuk membela Negara.

Minggu, tanggal 26 November 1950, sekitar pukul 17.00 Wita, Sjamsudin menjalankan tugas negara menerbangkan pesawat Dakota dari Lapangan Andir Bandung (sekarang Bandara Husin Sastranegara) menuju landasan pacu Tasikmalaya Jawa Barat.

Di perjalanan, badai dan memburuknya cuaca menjadi kendala. Kondisi ini diperparah dengan rusaknya mesin pesawat, membuat Dakota kehilangan kendali. Pesawat pun jatuh setelah menabrak tebing Gunung Galunggung, sekitar 15 kilometer dari Malang Bong, Kecamatan Ciawi, Tasikmalaya, Jawa Barat.

Angkatan Udara Indonesia berduka. Sjamsudin Noor wafat di usia muda. Di usia yang baru 26 tahun anak banua ini, dianugerahi gelar Pelopor Indonesia Airways.

Prosesi pemakamannya dilakukan secara militer di Taman Makam Pahlawan Cikutra Bandung, pada tanggal 26 November 1950. Diikuti tembakan salvo ke udara, TNI AU kehilangan salah satu penerbang muda terbaik bangsa.

Guna mengenang jasa perjuangannya, tanggal 13 Januari 1970 melalui peran DPRD Kalsel, Pemerintah Daerah dan Pimpinan Pangkalan Udara mengusulkan agar Lapangan Udara Ulin diganti menjadi Pangkalan Udara Sjamsudin Noor. (banjarmasin post.co.id/syaiful anwar).

Penulis: Syaiful Anwar
Editor: Edi Nugroho
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved