Breaking News:

Tajuk

24 Tahun Tragedi 23 Mei

24 tahun silam. Dilaporkan 118 orang luka, 142 orang tewas dalam kerusuhan di penghujung berakhirnya rejim Orde Baru

Editor: Eka Dinayanti

BANJARMASINPOST.CO.ID - TRAGEDI memilukan terjadi akibat kerusuhan pada tanggal 23 Mei 1997, 24 tahun silam. Dilaporkan 118 orang luka, 142 orang tewas dalam kerusuhan di penghujung berakhirnya rejim Orde Baru. Ada pula yang menyebut sedikitnya 166 korban tewas dari tragedi Jumat Kelabu yang pernah menimpa kota berjuluk Seribu Sungai.

Dari jumlah korban tewas, 120 korban dikuburkan secara massal di Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang dikelola Pemko Banjarmasin, di Jalan Bumi Selamat, A Yani Km 22 Landasan Ulin, Banjarbaru. Kondisi lokasi kuburan massal yang didalamnya tertanam ratusan mayat tanpa identitas itu jangan sampai memprihatinkan.

Sayangnya, satu ketika terkadang digenangi air akibat air pasang. Patok plang sekitar 60 sentimeter terbuat dari kayu bertuliskan Makam Masal Jumat Kelabu 23 Mei 1997 masa iya terus dibiarkan kusam. Khawatirnya lagi, bila patok-patok kuburan yang dulunya banyak itu sampai banyak yang hilang. Kuburan massal berukuran sekitar 26 m x 4 meter.

Semoga ada yang tak lupa dan datang ziarah ke makam ini. Pada satu kesempatan, Mansyur, Dosen program studi pendidikan sejarah FKIP ULM berharap masyarakat menanamkan sikap menolak lupa. Melalui aksi menolak lupa dan mengenang tragedi tersebut.

Ia inginkan masyarakat dapat mengambil hikmah dan pelajaran, bahwa emosi yang dihadirkan secara besar kepermukaan hanya akan membawa dampak negatif dan kerusakan.

Ketua LKS2B Kalimantan ini mengatakan dari aksi-aksi mengenang kembali peristiwa kerusuhan “JumÔÇčat Kelabu” di ruang publik, selain membawa dampak positif untuk peace building pasca kerusuhan. Selain itu dapat pula membawa pengaruh dan dampak negatif bagi
psikologis masyarakat Kota Banjarmasin.

Menurutnya, karena dari aksi tersebut akan membuka kembali luka lama (memori kolektif) terutama bagi keluarga korban kerusuhan, dengan membangkitkan kembali emosi, amarah, kecewa dan sedih.

Hal tersebut, kata dia lebih lanjut, kemudian dapat menanamkan kembali kebencian terhadap partai, agama, etnis dan pemerintah yang dianggap lalai dan tidak pernah tuntas menyelesaikan kasus ini hingga sekarang. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved