Breaking News:

Berita Jakarta

Forum Alumni Kelompok Cipayung Koordinasikan Bantuan Kemanusiaan untuk Palestina

Pemberian bantuan untuk rakyat Palestina akibat konflik Hamas-Israel disuarakan Forum Alumni Kelompok Cipayung dalam webinar di KAHMI Center, Jakarta.

Editor: Alpri Widianjono
ISTIMEWA
Tokoh-tokoh Forum Alumni Kelompok Cipayung (FAKC) dalam webinar bertema "Silahturahmi Kebangsaan dan Koordinasi Bantuan Kemanusiaan untuk Palestina" yang diselenggarakan bersama oleh FAKC di KAHMI Center, Jakarta, Rabu (26/5/2021). 

Editor: Alpri Widianjono

BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA - Forum Alumni Kelompok Cipayung (FAKC) akan menghimpun dan mengoordinasikan bantuan kemanusiaan untuk rakyat Palestina yang menjadi korban konflik bersenjata antara Israel dan Hamas saat ini.

Demikian salah satu keputusan pertemuan webinar bertema "Silahturahmi Kebangsaan dan Koordinasi Bantuan Kemanusiaan untuk Palestina" yang diselenggarakan bersama oleh FAKC di KAHMI Center, Jakarta, Rabu (26/05/2021). 

Hadir dalam webinar itu tokoh-tokoh puncak FAKC, yakni Ahmad Basarah (Ketua PA GMNI) , M Hanif Dakhiri (Sekjen IKA PMII), Hermawi Taslim (Ketua Forkoma PMKRI) , Sahat Sinaga (Sekjen PNPS GMKI) dan tuan rumah Viva Yoga Maulani (Ketua Presidium KAHMI). 

Seluruh peserta webinar sepakat bahwa aksi penggalangan bantuan untuk rakyat Palestina murni berdasarkan prinsip kemanusiaan, bukan berdasarkan sentimen keagamaan. 

Ahmad Basarah yang juga Wakil Ketua MPR RI, menandaskan, keberpihakan Indonesia terhadap "Palestina Merdeka" telah menjadi bagian dari sejarah yang secara konsisten diperjuangkan terus oleh ketujuh Presiden Indonesia, mulai dari Ir Soekarno sampai Joko Widodo.

Ditegaskan Basarah bahwa bagi Indonesia, dukungan terhadap kemerdekaan Palestina adalah perintah konstitusi yang secara jelas tertuang di dalam alinea pertama pembukaan UUD 45: "Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan."

Sementara itu, Ketua Forkoma PMKRI, Hermawi Taslim, mengatakan tentang pentingnya gencatan senjata permanen agar tidak ada lagi korban jiwa khususnya di kalangan perempuan dan anak-anak.

Ia menekankan tentang perlunya semua pihak untuk kembali ke semangat "Pakta Perdamaian Oslo" yang telah ditandatangani pada 20 Agustus 1993 di depan Presiden Palestina Yaser Arafat dan PM Israel Yitzak Rabin  tentang peta jalan baru perdamaian dengan prinsip dua negara Palestina dan Israel. 

“Semangat dua negara ini penting sebagai pintu masuk perundingan, saling mengakui keberadaan masing-masing sebagai negara merdeka,” jelasnya.

Dan lebih penting lagi, lanjut Taslim, Pakta Perdamaian Oslo itu juga sudah diratifikasi oleh Amerika Serikat sebagai salah satu aktor kunci dalam upaya perdamaian tersebut.

Kemudian, Taslim pun melihat prospek perdamaian ke depan akan lebih terbuka terutama setelah beberapa negara lain ikut memberi dukungan terhadap Pakta Perdamaian Oslo, yaitu Mesir, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Maroko. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved