Breaking News:

Kisah Petani Cabai di Sampit

Petani di Sampit Jarang Menanam Cabai karena Rawan Rusak dan Perlu Modal Besar

Meski harga cabai di pasaran bisa melambung tinggi, petani di Sampit jarang menanam tanaman pedas itu, karena perlu modal besar dan rawan rusak

Penulis: Fathurahman
Editor: Eka Dinayanti
banjarmasinpost.co.id/fathurahman
Cabai rawit dijual di pasar tradisional di Sampit. 

Editor: Eka Dinayanti

BANJARMASINPOST.CO.ID, SAMPIT - Keberadaan petani cabai di Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur Kalimantan Tengah, sampai saat ini masih terbatas atau sedikit yang menggelutinya.

Menanam cabai rawan mengalami kerusakan dan perlu modal besar.

Meskipun, harga jual cabai terkadang, dalam waktu tertentu bisa melambung tinggi, seperti sebelum bulan puasa yang lalu, harganya mencapai Rp100 ribu per kilogram.

Petani cabai di Sampit masih terbilang sedikit.

Baca juga: Serangan Buaya di Kalteng, Paha Warga Bantaran Sungai Mentaya Sampit Robek Diterkam

Petani lokal belum mampu memenuhi kebutuhan konsumsi cabai untuk masyarakat di Sampit, sebab itulah sebagian besar masih dipasok dari luar Kalteng.

Beberapa ibu rumah tangga di Sampit sering mengeluhkan harga cabai bisa melambung tinggi mencapai Rp100 ribu, padahal biasanya Rp 30 ribu sampai Rp 40 ribuan saja perkilogramnya, namun saat ini sudah tinggi.

Ibu rumah tangga, Siti Fauziah, mengaku, sering mengeluhkan tingginya harga cabai di pasaran tradisional tersebut.

"Sebelum Bulan Puasa lalu, harganya sempat tembus Rp 100 ribu perkilogramnya, saya langsung belinya sedikit saja biasa beli sampai setengah kilogram, untuk jualan, makanan," ujarnya.

banjarmasinpost.co.id / faturahman

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved