Breaking News:

Berita Tapin

Pasutri Difabel di Kabupaten Tapin, Memenuhi Kehidupan Sehari-hari dari Hasil Kerja Serabutan

Pasangan suami istri difabel di Kabuapten Tapin mampu bertahan, demi cita-cita anaknya bisa terus bersekolah, dengan bekerja sebagai buruh bangunan.

Penulis: Stanislaus Sene | Editor: Alpri Widianjono
BANJARMASINPOST.CO.ID/STANISLAUS SENE
Majeri (51), dalam keterbatasan karena kakinya tak sempurna, saat melaksanakan pekerjaan sebagai buruh tukang di Kecamatan Tapin Utara, Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan, Kamis (3/6/2021). 

Editor: Alpri Widianjono

BANJARMASINPOST.CO.ID, RANTAU - Semangat menjalani hidup, terpancar dari raut wajah Majeri (51) dan Salmiah (51), warga Kelurahan Kupang, Kecamatan Tapin Utara, Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan, Kamis (4/6/2021).

Saat ditemui Banjarmasinpost.co.id di kediaman mereka, pasangan suami-istri difabelitas ini sudah menjalani bahtera rumah tangga 10 tahun. Menikah pada 2013, dikaruniai seorang anak yang kini berusa 5 tahun.

Kisah nyata pasangan ini terlihat jelas dari aktivitas sehari-hari, mulai pagi hingga sore hari. Begitu bersemangat dengan segala keterbatasan berusaha memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Tinggal di satu unit rumah berlantai dan berdinding papan dengan luas ukuran lebar kurang lebih tiga meter dan panjang kurang lebih lima meter, mereka begitu harmonis dan penuh keceriaan.

Nampak dari dalam rumah terdapat dua unit kamar tidur. Satunya untuk Majeri dan istri, satunya lagi untuk sang buah hati.

Baca juga: Dinkes Tapin Ambil Sampel Bahan Makanan di Rutan Kelas IIB Rantau

Baca juga: Sepanjang Januari-Juni 2021, Pengadilan Agama Rantau Paling Banyak Menangani Kasus Gugat Cerai

Untuk membatasi kamar tamu dan dapur, ditempatka lemari berisi peralatan makan. Di ruang tamu, terdapat empat kursi dan dua meja. Tidak ada televisi.

Rumah tersebut merupakan warisan orangtua Majeri yang sudah lama meninggal. Begitu pula mertuanya, juga sudah lama berpulang.

Memenuhi kebutuhan sehari-hari, kehidupan rumah tangga ini hanya mengharapkan kerjaan serabutan dari Majeri. Untuk istri, tidak bisa lagi bekerja sejak 2017.

Penuturan Majeri, sudah menjalani kehidupan sebagai seorang difabel sejak SD kelas dua. "Sudah sejak SD Kelas dua," ungkapnya.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved