Breaking News:

Niat Mandi Wajib

TATA Cara dan Niat Mandi Wajib untuk Hadas Besar Pria dan Wanita, Dilengkapi Arti dan Terjemahannya

Tata cara dan bacaan mandi wajib bagi umat muslim baik pria dan wanita. Dilengkapi apa saja yang menjadi larangan bagi yang berhadas besar

Penulis: Mariana | Editor: Anjar Wulandari
belajar islam
Tata cara mandi wajib. TATA Cara dan Niat Mandi Wajib untuk Hadas Besar Pria dan Wanita, Dilengkapi Arti dan Terjemahannya 

Seseorang dengan hadas besar dilarang melakukan hal-hal berikut ini:

- Melaksanakan shalat.

- Melakukan thawaf di Baitullah.

- Memegang kitab suci Al-Qur'an.

- Membawa/mengangkat Kitab Al-Qur'an.

- Membaca Kitab Suci Al-Qur'an.

- Berdiam diri di masjid.

Baca juga: Sahur Dalam Keadaan Junub di Ramadhan 2021/1442 H, Begini Hukumnya dan Ikuti Cara Mandi Wajib

Baca juga: Sahur Dalam Keadaan Junub di Ramadhan 2021/1442 H, Begini Hukumnya dan Ikuti Cara Mandi Wajib

*Hukum orang junub tidur sebelum mandi wajib

وَلِلْأَرْبَعَةِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: – كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليهوسلم – يَنَامُ وَهُوَ جُنُبٌ, مِنْ غَيْرِ أَنْ يَمَسَّ مَاءً – وَهُوَ مَعْلُولٌ

Dikeluarkan oleh yang empat dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah tidur dalam keadaan junub tanpa mandi terlebih dahulu.” (Hadits ini ma’lul, punya cacat) [HR. Abu Daud, no. 228; Tirmidzi, no. 118, 119; An-Nasai dalam Al-Kubra, 8:212; Ibnu Majah, no. 583. Hadits ini punya cacat sebagaimana kata Imam Ibnu Hajar].

Dikutip Banjarmasinpost.co.id dari Rumaysho.comBoleh saja tidur dalam keadaan junub tanpa berwudhu.

Catatan:

Jika memang wajib mandi junub dan hubungan intim terjadi di malam hari, boleh saja tidur dan mandinya ditunda hingga mendekati waktu Shubuh. Namun, disunnahkan berwudhu sebelum tidur, bahkan sangat disunnahkan.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَيَرْقُدُ أَحَدُنَا وَهْوَ جُنُبٌ قَالَ نَعَمْ إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرْقُدْ وَهُوَ جُنُبٌ

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa ‘Umar bin Al-Khattab pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah salah seorang di antara kami boleh tidur sedangkan ia dalam keadaan junub?” Beliau menjawab, “Iya, jika salah seorang di antara kalian junub, hendaklah ia berwudhu lalu tidur.” (HR. Bukhari, no. 287 dan Muslim, no. 306).

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ وَهْوَ جُنُبٌ ، غَسَلَ فَرْجَهُ ، وَتَوَضَّأَ لِلصَّلاَةِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa jika dalam keadaan junub dan hendak tidur, beliau mencuci kemaluannya, lalu berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat.” (HR. Bukhari, no. 288).

‘Aisyah pernah ditanya oleh ‘Abdullah bin Abu Qais mengenai keadaan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam,

كَيْفَ كَانَ يَصْنَعُ فِى الْجَنَابَةِ أَكَانَ يَغْتَسِلُ قَبْلَ أَنْ يَنَامَ أَمْ يَنَامُ قَبْلَ أَنْ يَغْتَسِلَ قَالَتْ كُلُّ ذَلِكَ قَدْ كَانَ يَفْعَلُ رُبَّمَا اغْتَسَلَ فَنَامَ وَرُبَّمَا تَوَضَّأَ فَنَامَ. قُلْتُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى جَعَلَ فِى الأَمْرِ سَعَةً.

“Bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika dalam keadaan junub? Apakah beliau mandi sebelum tidur ataukah tidur sebelum mandi?” ‘Aisyah menjawab, “Semua itu pernah dilakukan oleh beliau. Kadang beliau mandi, lalu tidur. Kadang pula beliau wudhu, barulah tidur.” ‘Abdullah bin Abu Qais berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan segala urusan begitu lapang.” (HR. Muslim, no. 307).

Kesimpulan:

-Junub lalu mandi sebelum tidur, ini lebih sempurna.
-Junub dan wudhu terlebih dahulu sebelum tidur, ini yang disunnahkan untuk memperingan junub.
-Junub dan tanpa wudhu, lalu tidur. Seperti ini masih dibolehkan.

*Hukum melepas ikatan rambut untuk wanita ketika mandi wajib

وَعَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: – قُلْتُ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ إِنِّي اِمْرَأَةٌ أَشُدُّ شَعْرَ رَأْسِي, أَفَأَنْقُضُهُ لِغُسْلِ اَلْجَنَابَةِ? وَفِي رِوَايَةٍ: وَالْحَيْضَةِ? فَقَالَ: “لَا, إِنَّمَا يَكْفِيكِ أَنْ تَحْثِي عَلَى رَأْسِكِ ثَلَاثَ حَثَيَاتٍ” – رَوَاهُ مُسْلِم ٌ

Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku berkata pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Wahai Rasulullah, aku adalah wanita yang biasa mengikat rambutku. Apakah aku harus melepas ikatan rambut tersebut saat mandi junub dan—menurut riwayat lain–mandi haidh?’”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak perlu (melepas ikatan rambut saat mandi). Cukup bagimu mengguyurkan air di atas kepalamu sebanyak tiga kali cedok (ukuran kedua telapak tangan penuh berisi air).” (Diriwayatkan oleh Muslim) [HR. Muslim, no. 330]

Faedah hadits

Melepas ikatan rambut tidaklah wajib bagi wanita saat mandi junub maupun mandi haidh karena adanya masyaqqah (kesulitan), lebih-lebih lagi untuk mandi junub (karena bisa sering dilakukan).

Cukup bagi wanita ketika mandi wajib untuk mengguyurkan air ke kepalanya. Inilah pendapat jumhur ulama.

Khusus mandi setelah suci dari haidh, ada dua pendapat mengenai masalah melepas ikatan rambut. Pendapat pertama dari jumhur ulama (Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiyah, dan salah satu pendapat dalam madzhab Hambali) bahwa melepas ikatan rambut saat mandi haidh tidaklah wajib.

Pendapat kedua dari pendapat madzhab Imam Ahmad yang masyhur bahwa wajib bagi wanita melepas ikatan rambut saat mandi haidh.

Wallahu a’lam, pendapat terkuat adalah tidak wajib melepas ikatan rambut untuk wanita yang mandi setelah suci dari haidh. Pendapat ini dikuatkan dengan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mendapatkan berita bahwa ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma memerintahkan para wanita untuk melepaskan ikatan rambut saat mereka mandi (wajib). Aisyah radhiyallahu ‘anha lantas berkata,

يَا عَجَبًا لاِبْنِ عَمْرٍو هَذَا يَأْمُرُ النِّسَاءَ إِذَا اغْتَسَلْنَ أَنْ يَنْقُضْنَ رُءُوسَهُنَّ أَفَلاَ يَأْمُرُهُنَّ أَنْ يَحْلِقْنَ رُءُوسَهُنَّ لَقَدْ كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَرَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ وَلاَ أَزِيدُ عَلَى أَنْ أُفْرِغَ عَلَى رَأْسِى ثَلاَثَ إِفْرَاغَاتٍ

“Sungguh aneh Ibnu ‘Amr ini. Ia memerintahkan para wanita untuk melepas ikatan rambut mereka saat mandi?! Kenapa ia tidak sekalian menyuruh para wanita untuk mencukur rambut mereka? Aku sendiri pernah mandi bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lewat satu wadah. Aku tidaklah menambah lebih dari tiga kali siraman ketika menyiram kepalaku.” (HR. Muslim, no. 331)
(Banjarmasinpost.co.id/Mariana)

Baca juga: Sahur Dalam Keadaan Junub di Ramadhan 2021/1442 H, Begini Hukumnya dan Ikuti Cara Mandi Wajib

Baca juga: Mandi Wajib Jelang Ramadhan 1442 H, Ini Niat Bersihkan Diri Sambut Ramadhan 2021

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved