Breaking News:

Jendela

Gus Dur, Machiavelli dan Kita

Kalau dicermati lebih jauh, saya kira kedua-duanya benar. Gus Dur itu rasional, tetapi juga percaya kepada hal-hal mistis atau supra-rasional.

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Oleh Mujiburrahman, Rektor UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - “Kalau saudara-saudara mendengar tentang apa yang akhir-akhir ini saya kerjakan, camkanlah bahwa saya sedikit pun tidak pernah berambisi untuk mengejarnya. Saya tidak pernah berambisi untuk menjadi presiden Republik Indonesia. Namun, saya mendengarkan suatu bisikan sejarah, dan sejarah mengharuskan saya berjalan ke sana.” Demikian kurang lebih kalimat yang diingat Daniel Dhakidae, yang diucapkan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) saat pengunduran dirinya dari Forum Demokrasi, usai pemilu dan menjelang Sidang Umum MPR 1999 (Dhakidae 2015 :338).

Istilah ‘bisikan sejarah’ terkesan mistis dan di luar nalar. Hal ini tidak aneh bagi seorang Gus Dur yang hidup di lingkungan Islam tradisional dan suka berziarah ke kubur-kubur. Dalam suatu wawancara, Gus Dur bahkan mengaku, dia mau menjadi presiden karena diperintah beberapa orang kiyai khos yang sangat dihormatinya. Lagi-lagi, istilah ‘kiyai khos’ berbau mistis. Namun, bagi sejumlah sarjana politik dan cendekiawan, sebenarnya Gus Dur itu sangat rasional. Dia telah lama membangun basis politik dan jaringan, yang membuatnya siap dan layak untuk menjadi presiden.

Kalau dicermati lebih jauh, saya kira kedua-duanya benar. Gus Dur itu rasional, tetapi juga percaya kepada hal-hal mistis atau supra-rasional. Hal ini wajar karena politik memang memiliki wajah nyata sekaligus rahasia. Sebagai kenyataan, pertarungan politik mendorong orang untuk berjuang mengerahkan segenap usaha untuk menang. Namun, karena usaha apapun takkan bisa menjamin bahwa sang politisi pasti menang, maka politik selalu menyimpan rahasia. Dalam hal ini, politik mirip dengan sesuatu yang sakral/suci, yang bersifat misterius, menakutkan sekaligus mempesona.

Politik yang rasional tampak dalam berbagai pertarungan merebut dan mempertahankan kekuasaan. Dalam pemilu yang demokratis, sumber kekuasaan utama terletak di tangan para pemilih. Karena itu, para politisi berusaha mengerahkan segala macam sumber daya untuk mengendalikan para pemilih. Partai politik, pemilik modal, konsultan, ormas, media, tokoh masyarakat dan tim sukses, semua dikerahkan untuk memengaruhi para pemilih itu. Tidak hanya itu, para politisi juga berusaha memengaruhi pelaksana (KPU) dan pengawas pemilu (Bawaslu serta aparat hukum).

Di sisi lain, apakah dalam pertarungan politik itu, moral dan hukum harus diikuti? “Tidak!” kata kaum realis lantang. Politik adalah pertarungan menang-kalah, bukan benar-salah. Inilah ajaran Nicolo Machiavelli yang seringkali disesali tetapi diamalkan oleh banyak politisi. “Seorang yang berjuang untuk menjadi baik atas cara apapun akan mendapatkan kehancurannya di tengah sejumlah besar mereka yang tidak baik. Karena itu penting bagi seorang penguasa, bila ia ingin tetap berkuasa, belajar untuk tidak menjadi baik…” kata Machiavelli (dikutip Dhakidae 2015:38).

Machiavelli tidak menyangkal kemuliaan moral dan keutamaan budi, tetapi pertarungan kekuasaan amat jarang mau mengikat diri dengan semua itu. Yang sering terjadi adalah, demi nafsu berkuasa, orang menghalalkan segala cara. Bahkan nafsu berkuasa menguasai para penguasa itu sendiri. Rupa-rupa cara tega dia lakukan, dari tipu muslihat, caci maki, fitnah, pembunuhan karakter hingga menghilangkan nyawa orang lain, bahkan terhadap keluarga terdekat sekali pun. Saking buasnya nafsu berkuasa itu sehingga ia dapat membuat manusia lebih kejam dari binatang buas.

Kalau begitu, apakah kekuasaan dikejar demi kekuasaan itu sendiri? Mungkin saja, karena dalam kekuasaan terkandung kebebasan, yang tidak dimiliki oleh mereka yang tak berkuasa. Akan tetapi kebanyakan yang terjadi adalah, kekuasaan dikejar demi meraih kekayaan, kehormatan dan kesenangan. Karena itu, orang yang sudah kaya pun masih saja ingin berkuasa, apalagi yang hidup melarat dan menderita. Kekuasaan dijadikan alat untuk memuaskan kepentingan diri sendiri, keluarga atau kelompok, meskipun dengan mengatasnamakan kepentingan orang banyak.

Padahal di situlah letak sesat pikir manusia. Secara tak sadar, dalam mengejar kekuasaan itu, ia lupa bahwa hidupnya serba terbatas. Ia dibatasi oleh ruang dan waktu. Pengetahuan, kekuatan dan kebebasannya juga terbatas. Lupa akan keterbatasan membuat manusia melampaui batas. Moral dipisahkan dari politik. Hak dipisahkan dari kewajiban. Kekuasaan dipisahkan dari keadilan. Manusia ingin menjadi Tuhan Yang Tak Terbatas, seperti Firaun yang berkata, “Akulah Tuhanmu Yang Maha Tinggi.” Akibatnya, cepat atau lambat, dia akan menghancurkan dirinya sendiri dan masyarakat.

Alhasil, politik itu nyata sekaligus rahasia. Yang nyata dan rasional adalah sebatas kemampuan manusia untuk mengusahakannya. Yang rahasia dan mistis adalah yang tak dapat diketahui dan dikendalikannya. Di dalamnya terkandung kebebasan dan keterbatasan manusia. Dalam kebebasan, dia wajib bertanggungjawab. Dalam keterbatasan, dia harus tetap rendah hati. Pilihan dan tindakanmu adalah tanggungjawabmu, sedangkan kemenangan atau kekalahanmu bukan semata-mata hasil usahamu. Meski ambisimu tak terbatas, hidup pasti akan membatasimu. (*)

.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved