Ekonomi dan Bisnis

Banyak Pesaing, Usaha Barang Bekas di Banjarmasin Kini Berangsur Sepi

Usaha mengumpulkan barang bekas di Banjarmasin kini semakin banyak yang melakoni. Tak heran, para pemulung pun merasakan usaha mereka semakin sepi

Penulis: Salmah | Editor: Hari Widodo
banjarmasinpost.co.id/salmah saurin
Gerobak pengumpul barang bekas di Banjarmasin, Senin (14/6/2021). 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Berkeliling sejumlah permukiman sambil membawa gerobak dan timbangan, mencari barang tak terpakai baik berupa barang elektronik, kertas, kardus, maupun besi. Itulah aktifitas pemulung setiap hari. 

Para pemulung harus rajin bertanya kepada warga sekitar maupun pemilik rumah apakah ada barang bekas yang mau dijual. Jika ada, maka mereka dapat rezeki, kemudian dibeli dan dijual lagi ke pengepul besar. 

Barang elektronik bekas biasanya tidak ada harga pasti, taksiran harga disesuaikan jenis dan tipe serta kondisinya. Bisa puluhan ribu namun bisa pula mencapai ratusan ribu rupiah. 

Sedangkan kertas dihargai mulai Rp1000 per Kg ke atas, tergantung jenis kertasnya apakah kertas koran, kertas putih, kertas buram dam lainnya. Adapun aneka besi dihargai Rp3.500/kg. 

Baca juga: Kardus dan Botol Bekas Bikin Pengumpul Barang Bekas di Trikora Banjarbaru Ini Raup Puluhan Juta

Baca juga: Kreativitas Siswi MAN 1 Tabalong Ini Bikin Kagum, Barang Bekas Didesain Jadi Ornamen Menarik

Baca juga: Penampakan Lampu Hias dari Barang Bekas Hasil Kreasi Bank Sampah HSS, Terlihat Mewah saat Dipajang

Menurut Didin, pemulung warga Pekapuran, Banjarmasin, setiap hari ia berkeliling ke sejumlah kawasan permukiman untuk mencari barang bekas

Namun tidak setiap hari ia dapat barang. Bisa saja dalam sehari tak ada sama sekali. Meski demikian Didin tak pernah absen berkeliling setiap harinya. 

"Ya, namanya barang bekas. Kadang ada, kadang tidak ada. Bisa saja kalau pun barangnya ada, jumlahnya hanya sedikit. Maklum sekarang sudah banyak pemulung, jadi masing-masing terbagi rezekinya," ungkapnya. 

Modal membeli barang bekas didapat Didin dari bosnya yang merupakan pengepul. Dengan uang itu ia mengambil selisih harga jual sebagai pendapatannya. 

"Cukup tidak cukup, ya uang dari memulung ini dicukup-cukupkan untuk biaya hidup anak dan istri," tukasnya. 

Nilai pembelian barang bekas, menurut Udin tidak pasti. Pernah ia mengeluarkan uang Rp50 ribu saja karena barangnya sedikit. Pernah pula ratusan ribu bahkan pernah pula jutaan rupiah. 

"Awal tahun tadi setelah musibah banjir yang merendam banyak kawasan di Banjarmasin, alhamdulillah menjadi masa panen bagi kami, sebab banyak warga yang menjual barang-barang yang rusak akibat banjir," ungkapnya. 

Pasca musibah banjir itu Didin pernah dalam sehari mengeluarkan modal hingga Rp2 juta karena cukup banyak barang yang dibeli dari sejumlah pemilik rumah. 

"Ya, itu saat ramai, banyak barang dibeli. Kalau saat ini lagi sepi, harus rajin keliling dan tidak pasti juga ada barang," pungkas Didin. 

Sidik, pemulung warga Pekauman, Banjarmasin, mengatakan, memang saat ini cukup banyak pemulung seiring bertambah banyak pula pengepul barang berkas. 

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved